Trump Murka! Sebut Persidangan Netanyahu ‘Perburuan Penyihir’

Admin Utama

June 29, 2025

3
Min Read

Sains Indonesia – , Jakarta – Geger! Donald Trump, mantan Presiden AS yang blak-blakan, lagi-lagi bikin heboh dunia politik! Kali ini, ia buka suara soal kasus korupsi yang menyeret Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Mengejutkan, Trump menyebut persidangan itu sebagai “perburuan penyihir politik”. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai persidangan ‘Bibi’ Netanyahu yang kontroversial ini? Simak selengkapnya!

Dengan nada geram, Trump secara terang-terangan membela Netanyahu melalui platform Truth Social. Ia bahkan tak ragu menyebut ‘Bibi’ Netanyahu sebagai “pahlawan perang” sejati! Menurut Trump, Netanyahu telah berjasa besar bersama AS dalam “menyingkirkan ancaman nuklir berbahaya dari Iran” dan kini sedang berjuang keras bernegosiasi dengan Hamas demi membebaskan para sandera Israel.

Menurut Trump, adalah sebuah “kegilaan” dan “penghinaan terhadap keadilan” melihat seorang Perdana Menteri Israel dipaksa duduk di ruang sidang seharian penuh hanya karena tuduhan “remeh-temeh” seperti cerutu atau bahkan boneka Bugs Bunny! Ia berulang kali menegaskan ini adalah “perburuan penyihir politik” yang sangat mirip dengan yang pernah ia alami sendiri. Trump khawatir, persidangan ini hanya akan mengganggu negosiasi krusial dengan Iran dan Hamas, padahal Amerika Serikat telah menghabiskan miliaran dolar untuk melindungi dan mendukung Israel. Baginya, kasus ini “menodai kemenangan” besar yang telah dicapai.

Seruan Trump tegas: “Bebaskan Bibi, dia punya tugas besar yang harus diselesaikan!” Ia bahkan sempat terkejut dan mendesak agar persidangan korupsi Netanyahu yang dijadwalkan Senin 30 Juni 2025 dibatalkan sepenuhnya. Bagaimana tidak, di tengah momen bersejarah dan kepemimpinan Netanyahu yang kuat dalam masa perang, masih saja ada “perburuan penyihir konyol” ini? Sebuah pertanyaan yang provokatif dari sang mantan presiden.

Sebagai informasi, Netanyahu sendiri terbelit tiga kasus korupsi berbeda sejak 2019. Ia telah membantah semua tuduhan, menyebutnya palsu dan rekayasa. Persidangannya sendiri sudah bergulir sejak 24 Mei 2020, menjadikannya pemimpin Israel pertama yang menghadapi dakwaan pidana sepanjang sejarah. Menariknya, berdasarkan hukum Israel, ia tidak wajib mundur dari jabatannya kecuali dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung, sebuah proses yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Namun, drama Netanyahu tak berhenti di situ. Ia juga menghadapi tuduhan yang jauh lebih serius: kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait genosida di Gaza. Bahkan, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuknya dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant pada November lalu, menyusul kekejaman di Jalur Gaza yang telah merenggut lebih dari 56.400 nyawa, mayoritas wanita dan anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Sebuah fakta yang tak bisa diabaikan.

Di tengah pusaran kontroversi ini, Jaksa Agung Israel baru-baru ini menolak mentah-mentah permintaan Netanyahu untuk menunda persidangan korupsinya selama dua minggu. Alasan Netanyahu? Ia beralasan perlu fokus pada isu-isu mendesak pasca-serangan Israel ke Iran, termasuk upaya memulangkan tawanan Israel dari Gaza. Tampaknya, tekanan terhadap Netanyahu semakin memuncak.

Sikap tegas Donald Trump yang membela Benjamin Netanyahu dan menyerukan pembatalan kasus korupsinya, jelas menambah panas suhu politik global. Di satu sisi, ada dukungan kuat dari sekutu seperti Trump yang melihat Netanyahu sebagai pahlawan dan negosiator ulung. Di sisi lain, bayangan kasus korupsi dan tuduhan kejahatan perang di ICC terus membuntuti. Akankah “perburuan penyihir politik” ini berakhir? Bagaimana menurut pandangan Anda? Bagikan opini Anda di kolom komentar dan bantu sebarkan informasi penting ini!

Leave a Comment

Related Post