Sains Indonesia – , Garut – Siapa sangka, sebuah perhelatan akbar yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah jadi ajang duka lara. Pernikahan putra sulung Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, yang megah itu kini diwarnai kabar pilu: tiga nyawa melayang.
Sebuah insiden mengerikan terjadi, menyeret korban jiwa dari pesta rakyat yang konon menjanjikan makanan gratis. Benarkah antusiasme warga berubah jadi malapetaka mematikan?
Korban berjatuhan, dua di antaranya warga sipil: Vania Aprilia (8 tahun) dan Dewi Jubaedah (61 tahun). Satu lagi, seorang abdi negara: Bripka Cecep Saeful Bahri (39 tahun). Mereka kini terbujur kaku, Vania dan Dewi di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Slamet, sementara Bripka Cecep di Rumah Sakit Guntur milik TNI Angkatan Darat.
Dugaan awal sungguh memilukan: ketiga korban tewas karena terinjak-injak. Tragedi ini terjadi saat pintu Pendopo Kabupaten Garut dibuka. Warga berdesakan, berebut masuk, demi bisa menghadiri ‘pesta rakyat’ dan menikmati hidangan gratis yang disediakan di acara pernikahan tersebut. Sebuah antusiasme yang fatal.
Namun, hingga kini, kejelasan insiden ini masih jadi misteri. Aparat memilih bungkam. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Garut, Ajun Komisaris Polisi Joko Prihatin, bahkan hanya berujar, “No comment,” saat dimintai keterangan di RSUD dr. Slamet. Sikap ‘bungkam’ ini tentu saja memicu banyak pertanyaan di benak publik.
Pernikahan yang menjadi sorotan publik Jawa Barat ini menyatukan Maula Akbar Mulyadi Putra, putra sulung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (yang akrab disapa KDM atau Bapak Aing), dengan Luthfianisa Putri Karlina, Wakil Bupati Garut. Maula, kelahiran 4 November 1999, kini menjabat Anggota DPRD Jawa Barat dari fraksi Gerindra periode 2024-2029.
Sedangkan Luthfianisa, anak sulung Inspektur Jenderal Karyoto (Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya) dan Lina Iskandar, lahir 14 Maret 1993 dan memulai karier politiknya di Pilkada 2024. Ibu tiga anak ini memang dikenal punya daya tarik kuat di mata pemilih. Akad nikah mereka sendiri dilangsungkan pada Rabu, 16 Juli 2025, pukul 13.00 WIB di Gedung Pendopo Kabupaten Garut. Rangkaian prosesi pun sudah digelar sejak Senin, 14 Juli 2025, diawali siraman, lalu dilanjutkan prosesi seserahan di Leuwi Asri, Bayongbong pada Selasa.
Tragedi di balik kemeriahan pernikahan ini meninggalkan luka mendalam dan pertanyaan besar. Bagaimana sebuah pesta kebahagiaan bisa berujung pada hilangnya nyawa? Insiden ini menjadi pengingat pahit tentang pentingnya manajemen massa dan keselamatan dalam setiap acara publik, terutama yang melibatkan banyak orang.
Apa pendapat Anda mengenai insiden tragis di Pernikahan Putra Dedi Mulyadi ini? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar dan bantu sebarkan informasi ini agar lebih banyak orang tahu!









Leave a Comment