TERUNGKAP! Reaksi Mengejutkan Presiden Suriah Usai Damaskus Dibombardir Israel, Dunia Tercengang!

Admin Utama

July 17, 2025

4
Min Read

Suriah Memanas! Israel Bombardir Damaskus, Bela Minoritas atau Cari Gara-Gara?

Sains Indonesia – Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, berjanji akan menyeret pelaku kekerasan terhadap minoritas Druze ke pengadilan. Janji ini muncul setelah bentrokan maut mengguncang wilayah selatan Suriah.

Sharaa juga menegaskan bahwa otoritas lokal akan segera mengambil alih tanggung jawab keamanan.

“Kami berkomitmen untuk menuntut pertanggungjawaban mereka yang melanggar dan menyakiti rakyat Druze kami, karena mereka berada di bawah perlindungan dan tanggung jawab negara,” tegas Sharaa, seperti dikutip dari AFP, Kamis.

Pernyataan ini keluar setelah serangan udara besar-besaran Israel menghantam Damaskus. Sebagian gedung kementerian pertahanan luluh lantak, dan area dekat istana kepresidenan pun tak luput dari serangan pada Rabu (16/7/2025).

Menurut Reuters, serangan itu adalah bentuk ancaman Israel untuk menghancurkan pasukan pemerintah yang menyerang komunitas Druze di wilayah selatan Suriah. Benarkah Israel hanya ingin melindungi minoritas, atau ada agenda tersembunyi?

Sharaa balik menuduh Israel menyebarkan perpecahan dan berusaha “memicu ketegangan dan kekacauan” di Suriah. Tuduhan ini muncul setelah militer Israel menggempur pusat kota Damaskus dengan dalih melindungi komunitas minoritas Druze.

Pemerintah Suriah sendiri telah mengumumkan gencatan senjata baru di Sweida dan menghentikan operasi militer di wilayah tersebut. Keputusan ini diambil setelah kekerasan selama beberapa hari menewaskan lebih dari 350 jiwa.

Pemerintah juga mengklaim telah menarik tentaranya dari kota yang mayoritas penduduknya adalah warga Druze.

Sebelumnya, pasukan keamanan dikerahkan untuk mengawasi gencatan senjata, menyusul bentrokan antara pejuang Druze dan suku Badui lokal. Namun, saksi mata melaporkan bahwa pasukan pemerintah justru ikut menyerang pejuang dan warga sipil Druze bersama suku Badui.

Sharaa menyatakan bahwa keamanan di Sweida akan diserahkan kepada pemuka agama dan faksi lokal demi “kepentingan nasional yang lebih besar.” Sebelumnya, wilayah Druze sebagian besar dikuasai oleh pejuang dari kelompok minoritas tersebut.

Pada Maret 2025, lebih dari 1.700 warga sipil, yang mayoritas adalah Alawit, tewas dalam pembantaian di wilayah pesisir yang menjadi basis komunitas mereka. Kelompok yang berafiliasi dengan pemerintah dituding sebagai pelaku utama kekerasan.

Pasukan pemerintah juga terlibat bentrokan dengan pejuang Druze di Provinsi Sweida dan dekat Damaskus pada April dan Mei, menewaskan lebih dari 100 orang.

Sharaa menuding kelompok “ilegal” yang menolak berdialog telah melakukan kejahatan terhadap warga sipil. Ia juga mengklaim bahwa pengerahan pasukan dari Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri telah berhasil memulihkan stabilitas, meskipun Israel membombardir wilayah selatan Suriah dan Damaskus.

Israel, yang juga memiliki komunitas Druze, mengeklaim sebagai pembela minoritas Druze Suriah. Namun, analis menilai bahwa ini hanyalah dalih untuk menjaga pasukan pemerintah Suriah menjauh dari perbatasan Israel.

“Entitas Israel melakukan penargetan skala besar terhadap fasilitas sipil dan pemerintah, yang akan mendorong masalah ke eskalasi skala besar, kecuali intervensi efektif dari mediasi Amerika, Arab, dan Turkiye,” kata Sharaa. Sayangnya, ia tidak menyebutkan negara Arab mana yang dimaksud.

Siapa Sebenarnya Kelompok Minoritas Druze Ini?

Druze adalah kelompok minoritas etnoreligius berbahasa Arab yang tinggal di Suriah, Lebanon, Israel, dan Dataran Tinggi Golan, seperti dilansir dari BBC.

Sekitar setengah dari total satu juta penganut Druze di dunia tinggal di Suriah, mencakup sekitar 3 persen dari populasi negara itu.

Komunitas Druze di Israel umumnya dianggap setia kepada negara, dengan banyak anggotanya yang mengikuti wajib militer. Menurut Biro Pusat Statistik Israel, terdapat sekitar 152.000 warga Druze yang tinggal di Israel dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Dalam sejarahnya, komunitas Druze sering berada dalam posisi yang rentan dalam politik Suriah. Selama hampir 14 tahun perang saudara, mereka membentuk milisi sendiri di wilayah selatan.

Sejak jatuhnya Presiden Suriah, Bashar al-Assad, pada Desember 2024, komunitas Druze menolak upaya negara untuk memberlakukan kembali kekuasaan di wilayah selatan Suriah.

Meskipun faksi Druze bersikap beragam terhadap pemerintahan baru, banyak yang menolak kehadiran aparat keamanan di Suweida dan enggan bergabung dengan tentara Suriah. Mereka lebih memilih mengandalkan milisi lokal untuk menjaga keamanan.

Di sisi lain, setelah jatuhnya Assad, Israel mulai menjalin komunikasi dengan komunitas Druze di dekat perbatasan utara mereka, dalam upaya membangun aliansi dengan kelompok minoritas di Suriah.

Israel semakin memposisikan diri sebagai pelindung regional bagi kelompok minoritas, termasuk Kurdi, Druze, dan Alawit di Suriah, sambil terus menyerang situs militer dan pasukan pemerintah Suriah.

Selama bentrokan sektarian pada Mei, Israel melancarkan serangan udara di dekat istana kepresidenan di Damaskus dan menyatakan itu sebagai peringatan terhadap serangan terhadap komunitas Druze. Namun, beberapa tokoh Druze di Suriah dan Lebanon menuduh Israel memanfaatkan ketegangan sektarian untuk ambisi ekspansionisnya di kawasan.

Konflik Suriah: Benang Kusut Kepentingan dan Nasib Minoritas

Situasi di Suriah semakin rumit dengan intervensi Israel yang mengklaim melindungi minoritas Druze. Namun, banyak pihak yang curiga bahwa ini hanyalah kedok untuk kepentingan politik dan militer Israel. Apakah Israel benar-benar peduli pada nasib minoritas, atau hanya memanfaatkan situasi untuk mencapai tujuannya sendiri?

Bagaimana menurut Anda? Apakah intervensi Israel di Suriah dapat dibenarkan? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar dan jangan lupa sebarkan artikel ini!

Leave a Comment

Related Post