TERUNGKAP: Citra Satelit Bongkar Rahasia Nuklir Iran, Serangan AS Gagal Total?

Admin Utama

June 23, 2025

4
Min Read

Sains Indonesia – , Jakarta – Klaim Amerika Serikat yang menyebut serangan militer dalam ‘Operasi Godam Tengah Malam’ pada fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan telah menimbulkan kehancuran monumental, kini dipertanyakan habis-habisan. Para ahli nuklir global, berbekal citra satelit terbaru, justru mengungkap fakta mengejutkan yang bertolak belakang: Kerusakan yang dijagokan Washington itu ternyata nihil? Mari kita intip lebih dalam kebenaran di balik gertakan adidaya ini!

Pada Ahad, 22 Juni 2025, Pemerintah Amerika Serikat dengan lantang mengklaim sukses besar dalam ‘Operasi Godam Tengah Malam’ yang menghantam situs nuklir kunci Iran. Namun, saat para ahli nuklir mulai menganalisis citra satelit komersial dari Maxar Technologies yang berfokus pada Fordow, Natanz, dan Isfahan, hasil mereka sangat mengejutkan. “Ada beberapa hal yang sangat penting yang belum terkena dampak,” ungkap Jeffrey Lewis, seorang ahli nuklir terkemuka dari Middlebury Institute of International Studies di Monterey, Amerika Serikat, yang secara ketat memantau program nuklir Iran. Ia bahkan dengan tegas menyatakan kepada NPR, “Jika berakhir sampai di sini saja, ini adalah serangan yang benar-benar tidak lengkap,” pada hari yang sama.

Menurut Lewis, tampaknya serangan Amerika itu sama sekali tidak menyentuh persediaan uranium yang diperkaya milik Iran. Ia menambahkan, “Saat ini Iran masih memiliki bahan itu dan kita masih belum tahu di mana keberadaannya.” Kontras sekali dengan penilaian Jeffrey Lewis, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru bersikeras sebaliknya. “Kerusakan Monumental terjadi di semua lokasi nuklir di Iran, seperti yang ditunjukkan oleh citra satelit. Kehancuran adalah istilah yang akurat!” tulis Trump di Truth Social pada Senin pagi, 23 Juni 2025.

Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, juga sependapat dengan Trump. “Kerusakan akibat perang terakhir akan memakan waktu (untuk dipastikan), tetapi penilaian awal kerusakan akibat pertempuran menunjukkan bahwa ketiga lokasi mengalami kerusakan dan kehancuran yang sangat parah,” katanya dalam konferensi pers di Pentagon pada Ahad, 22 Juni 2025. Namun, David Albright, Presiden Institute for Science and International Security yang telah memantau program nuklir Iran selama bertahun-tahun, menyajikan bukti yang lebih menarik. Ia juga menyoroti aktivitas tak biasa yang terekam citra satelit di Isfahan dan Fordow pada Kamis, 19 Juni 2025, hanya beberapa hari sebelum serangan Amerika Serikat. Terlihat truk-truk mencurigakan tampak di sekitar pintu masuk fasilitas bawah tanah yang diyakini digunakan untuk menyimpan uranium.

Temuan ini memicu spekulasi liar: Apakah Iran sudah memindahkan uraniumnya sebelum serangan terjadi? “Masih menjadi misteri apa sebenarnya isi truk-truk itu. Namun, uranium yang diperkaya di Fordow kemungkinan besar sudah habis sebelum serangan,” duga Albright kepada The Free Press pada Senin, 23 Juni 2025. Fakta bahwa fasilitas tersebut tampaknya tidak mengalami kerusakan parah juga menjelaskan mengapa hingga kini tak ada laporan efek radiasi nuklir dari ketiga situs tersebut. Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir PBB, juga mengonfirmasi hal ini. “Setelah serangan terhadap tiga lokasi nuklir di Iran—termasuk Fordow—IAEA dapat mengonfirmasi bahwa tidak ada peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi yang dilaporkan hingga saat ini. IAEA akan memberikan penilaian lebih lanjut tentang situasi di Iran saat informasi lebih lanjut tersedia,” jelas badan tersebut melalui X.

Dari sisi Iran, Manan Raeisi, anggota parlemen yang mewakili Qom (provinsi tempat fasilitas Fordow berada), dengan tegas menyatakan bahwa “pemeriksaan awal di lokasi serangan mengonfirmasi tidak ada radiasi nuklir.” Ia melanjutkan, “Berdasarkan informasi yang telah diverifikasi, saya dapat mengatakan bahwa bertentangan dengan klaim palsu Presiden Amerika, fasilitas Fordow tidak mengalami kerusakan yang signifikan. Sebagian besar dampaknya hanya di permukaan dan mudah diperbaiki,” kata Raeisi, seperti dikutip Al Mayadeen pada Senin, 23 Juni 2025. Raeisi bahkan menyebut pernyataan Trump sebagai sesuatu yang dilebih-lebihkan, menegaskan bahwa tidak adanya korban di lokasi nuklir Fordow adalah bukti nyata dangkalnya serangan tersebut. “Klaim yang dibuat-buat Trump tentang kehancuran Fordow hanya menyoroti betapa tidak efektifnya serangan itu, begitu dangkalnya sehingga tidak ada satu pun martir yang dilaporkan di lokasi itu,” tegasnya.

Peristiwa serangan Amerika ke fasilitas nuklir Iran ini terjadi di tengah memanasnya perang Iran-Israel, yang telah dimulai sejak Israel menyerang sejumlah bangunan dan fasilitas militer Iran pada 13 Juni 2025. Apakah ini hanya gertakan atau ada agenda tersembunyi di balik Operasi Godam Tengah Malam ini?

Bagaimana menurut Anda? Apakah ini pertanda bahwa Iran jauh lebih siap dari yang kita kira, ataukah Amerika Serikat terlalu percaya diri? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar dan mari kita diskusikan lebih lanjut! Jangan lupa untuk berbagi artikel ini agar lebih banyak orang tahu fakta sebenarnya.

Leave a Comment

Related Post