TERUNGKAP: Alasan Mengejutkan Orang Indonesia Ogah Punya Anak Banyak!

Admin Utama

June 12, 2025

6
Min Read


Terkuak! Jutaan Orang di Dunia Tak Bisa Punya Keluarga Impiannya, Bukan Karena Tak Mau Tapi… Ini Biang Keladinya!

Dulu, saat masih lajang, Dian Dewi Purnamasari pernah membayangkan punya dua atau bahkan tiga anak. Tapi setelah putri semata wayangnya lahir enam tahun lalu, keinginan perempuan 36 tahun asal Jakarta ini berubah drastis. “Apalagi biaya hidup sekarang mahal, ya,” keluhnya. Sebagai wartawan dengan suami pekerja lepas, Dian mengaku hidupnya “ngepas” dari gaji ke gaji. Menabung saja susah, apalagi memikirkan anak kedua. Biaya kuliah sang putri yang masih TK saja sudah jadi beban pikiran. Kisah Dian ini bukan sekadar cerita pribadi, melainkan cerminan fenomena global yang diungkap oleh laporan terbaru PBB.

Badan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) dalam laporan terbarunya, State of the World Population, menyatakan bahwa keterbatasan finansial benar-benar menghambat jutaan orang di seluruh dunia untuk mewujudkan keluarga yang mereka inginkan. Situasi yang dialami Dian di Jakarta, jauh berbeda dengan masa kecilnya di Magelang, di mana hidup lebih sederhana tanpa banyak tuntutan investasi atau biaya sekolah mahal.


UNFPA melakukan survei besar-besaran terhadap 14.000 orang dewasa di 14 negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Italia, Jerman, dan Amerika Serikat. Hasilnya mengejutkan: satu dari lima responden mengaku belum atau tidak akan memiliki jumlah anak yang mereka inginkan. Di Indonesia sendiri, ada 1.050 responden yang berpartisipasi secara online. Negara-negara yang disurvei mewakili sepertiga populasi global dengan berbagai tingkat pendapatan dan angka kelahiran.

Penurunan Angka Kelahiran Global: Krisis Impian Keluarga yang Tak Terwujud?

Natalia Kanem, Kepala UNFPA, menegaskan bahwa dunia sedang mengalami penurunan angka kelahiran global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menyebutnya sebagai “krisis yang sebenarnya.” Pasalnya, mayoritas responden menginginkan dua atau lebih anak, namun mereka merasa tidak mampu mewujudkannya. Pandangan ini didukung oleh ahli demografi Anna Rotkirch, yang menyoroti bahwa lebih banyak orang memiliki anak lebih sedikit dari yang mereka inginkan, bahkan mungkin lebih banyak dari yang selama ini diperkirakan. Rotkirch juga terkejut melihat 31% responden berusia di atas 50 tahun mengaku memiliki lebih sedikit anak dari yang mereka inginkan.


Meski survei ini memiliki beberapa keterbatasan (misalnya survei online di beberapa negara tidak sepenuhnya merepresentasikan data nasional), temuan utamanya sangat jelas. Dari 14.000 responden, hanya sekitar 4.000 orang yang benar-benar memilih untuk tidak punya anak sama sekali (childfree). Ini artinya, sebagian besar orang sebenarnya ingin punya anak, namun terpaksa membatasi jumlahnya.

Faktor Utama yang Mencekik Impian Punya Anak

Apa saja alasan yang paling sering dipilih responden untuk membatasi jumlah anak mereka?
Yang paling dominan adalah keterbatasan finansial, dipilih oleh 39% responden global. Korea Selatan menjadi negara dengan proporsi tertinggi (58%) yang mengeluhkan faktor ini, sementara Swedia yang terendah (19%). Alasan kedua yang paling umum adalah kurangnya keamanan kerja atau pengangguran (21%). Faktor kesehatan atau fertilitas hanya menjadi alasan utama bagi 12% responden, meskipun angkanya sedikit lebih tinggi di negara-negara seperti Thailand (19%) dan Amerika Serikat (16%).


Bagaimana dengan Indonesia?

Responden dari Indonesia juga mengungkapkan alasan-alasan serupa yang sangat relevan dengan kondisi ekonomi dan sosial di Tanah Air.

* Faktor Ekonomi yang Menjerat: Ini menjadi alasan paling umum. Selain keterbatasan finansial (39%), tingginya harga rumah atau sewa serta ketiadaan ruang hunian (22%) juga menjadi beban. Belum lagi kurangnya opsi perawatan anak yang layak atau berkualitas (6%) yang semakin menambah beratnya biaya hidup.
* Kesehatan dan Fertilitas: Masalah kesuburan (6%), kurangnya akses perawatan medis untuk fertilitas atau kehamilan (9%), dan memiliki penyakit kronis atau kesehatan yang buruk (10%) juga memengaruhi keputusan.
* Keinginan yang Berubah dan Pengaruh Pasangan: Sebanyak 19% responden menyatakan keinginan mereka untuk punya lebih banyak anak berubah seiring waktu. Sementara itu, 17% terpengaruh oleh keinginan pasangan yang ternyata ingin punya lebih sedikit anak.
* Kekhawatiran Masa Depan: Situasi politik atau sosial yang tidak pasti, seperti perang atau pandemi (14%), serta isu perubahan iklim dan lingkungan yang memburuk (9%), juga menjadi pertimbangan serius.
* Faktor Lain yang Tak Terduga: Beberapa alasan lain yang muncul meliputi belum punya pasangan (4%), kurangnya keterlibatan pasangan dalam pekerjaan rumah tangga atau perawatan anak (16%), hingga saran dokter agar tidak menambah anak (7%). Ada juga sejumlah kecil responden yang beralasan “sudah kehendak Tuhan” terkait jumlah anak mereka.


Di sisi lain, survei ini juga menanyakan mengapa orang-orang ingin punya anak. Mayoritas responden di semua negara setuju bahwa anak memberikan kebahagiaan hidup dan kepuasan tersendiri dalam membesarkan mereka. Khususnya di Indonesia, Maroko, dan Nigeria, memiliki anak juga berarti memastikan keberlangsungan nama keluarga, sebagai aset generasi masa depan, dan untuk membantu merawat orang tua di usia senja. Norma sosial dan agama juga menjadi alasan penting di ketiga negara ini.


Jangan Panik! PBB Ingatkan Bahaya Kebijakan Populis yang Memaksa

Stuart Gietel-Basten, ahli demografi dari Hong Kong University of Science and Technology, menyatakan bahwa ini adalah kali pertama PBB melakukan survei menyeluruh tentang persoalan tingkat kelahiran rendah. Sebelumnya, fokus PBB lebih banyak tertuju pada perempuan yang memiliki terlalu banyak anak dan kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi. Namun, dengan menurunnya angka kelahiran bahkan di negara berkembang, fokus ini bergeser.

Natalia Kanem, Kepala UNFPA, mengingatkan agar semua data terkait tingkat kelahiran dilihat dengan kehati-hatian. “Saat ini, kami melihat banyak retorika soal bencana, baik menyangkut overpopulasi maupun populasi yang menyusut,” katanya. Ia khawatir retorika ini mendorong respons berlebihan, bahkan manipulatif, yang bisa memaksa perempuan untuk punya lebih banyak atau lebih sedikit anak. Ia mencontohkan bagaimana China, Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan Turki yang dulu khawatir populasi terlalu tinggi, kini justru berupaya meningkatkan angka kelahiran.


Gietel-Basten menekankan pentingnya menghindari kebijakan yang didasarkan pada kepanikan. “Orang-orang sudah ketakutan dan cemas tentang masa depan dunia, tidak ada alasan untuk membuat mereka merasa semakin cemas,” ujarnya. Dia juga memperingatkan bahwa rendahnya angka kelahiran, populasi menua, dan stagnasi populasi seringkali dijadikan alasan untuk menerapkan kebijakan nasionalis, anti-migran, dan konservatif gender yang berbahaya.

Kembali ke Dian di Jakarta, kurangnya waktu juga menjadi alasan utama mengapa ia tak berani menambah momongan. Dihadang kemacetan sehari-hari, ia merasa kewalahan secara fisik. “Kalau ada anak satu lagi, sepertinya enggak akan bisa fokus ke anak yang sudah ada. Kasihan dia,” katanya, menegaskan bahwa dalam waktu dekat, ia dan suami tidak akan berubah pikiran.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Angka Kelahiran, Ini Soal Hak dan Pilihan

Laporan UNFPA ini membuka mata kita bahwa masalah penurunan angka kelahiran global bukan semata tentang demografi, tetapi juga tentang hak dan pilihan individu untuk membangun keluarga impian mereka. Keterbatasan ekonomi, ketidakamanan pekerjaan, hingga kekhawatiran masa depan adalah rintangan nyata yang menghambat. Ini bukan hanya tentang berapa banyak bayi yang lahir, tetapi tentang jutaan impian keluarga yang terpaksa dikubur.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda juga merasakan hambatan serupa dalam merencanakan keluarga? Yuk, bagikan pengalaman dan pandangan Anda di kolom komentar! Jangan lupa bagikan artikel ini agar lebih banyak orang tahu realitas di balik angka-angka kependudukan.

Leave a Comment

Related Post