Seratusan Murid SMP di Kupang Diduga Keracunan MBG, Ini Tanggapan Gubernur NTT

Admin Utama

July 22, 2025

4
Min Read

KUPANG, NTT Heboh! Ratusan pelajar di Kota Kupang mendadak tumbang usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG), memicu kepanikan massal. Tak tinggal diam, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, langsung buka suara dan mengungkap langkah-langkah darurat yang sedang diambil pemerintah!

Kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa ini membuat geger. Gubernur Melki, sapaan akrabnya, menyatakan bahwa tim gabungan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTT, Dinkes Kota Kupang, hingga Balai Besar POM di Kupang sudah diterjunkan. Mereka bergerak cepat untuk mempelajari detail kasus ini agar penyebab pastinya segera terungkap.

Menurut Melki, fokus utama saat ini adalah melakukan surveilans epidemiologi. Ini adalah upaya pencarian jejak untuk mengetahui bagaimana sampai ratusan anak ini mengalami kejadian tak terduga setelah mengonsumsi makanan tersebut. “Sudah ada pembagian tugas bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT dapat membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang dalam hal ini Dinkes Provinsi membantu Dinkes Kota untuk melakukan surveilans epidemiologi agar mencari tahu bagaimana sampai anak-anak ini mengalami ini (keracunan). Dugaan peristiwa keracunan MBG atau peristiwa lain,” tegas Melki.

Kabar baiknya, sebagian besar siswa yang sempat dilarikan ke rumah sakit sudah diperbolehkan pulang karena kondisi mereka relatif sehat. Namun, Ketua DPD Golkar NTT ini menambahkan, masih ada sekitar 10 siswa yang harus menjalani perawatan intensif di tiga rumah sakit berbeda: RSUD SK Lerik, RS Siloam, dan RS Mamami. “Sesuai dengan informasi yang kami terima hingga malam hari ini, sebagian anak (siswa) sudah dipulangkan ke rumah masing-masing karena sudah relatif sehat. Sementara sisanya kurang lebih 10 orang masih dirawat,” jelasnya.

Pihak berwenang belum bisa memastikan penyebab pasti insiden ini. Melki menyebutkan bahwa semua masih dalam tahap dugaan dan penyelidikan masih terus berjalan. “Misalnya dugaan ini benar, apakah masih di dapur kah, atau sudah diberikan kah. Jadi sekali lagi, ini masih dugaan dan proses penyelidikan masih berlanjut dari Dinkes Provinsi NTT dan Dinkes Kota Kupang untuk memastikan penyebab dari anak-anak ini masuk rumah sakit,” tambahnya.

Saat ini, Balai Besar POM di Kupang sedang bekerja keras meneliti sisa makanan yang ditemukan di dapur MBG, tepatnya yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelapa Lima. Gubernur Melki membeberkan bahwa hasil uji kimia diharapkan bisa diketahui dalam waktu dekat, bahkan mungkin besok. Namun, untuk uji mikroskopis yang lebih mendalam, diperlukan waktu sekitar satu minggu lagi. “Jadi dugaan-dugaan ini kita belum pastikan sebelum adanya pembuktian lebih lanjut dari otoritas terkait. Jadi saya sudah cek ke Badan POM, dan besok itu uji kimianya sudah bisa kita tahu hasilnya. Sementara uji mikroskopnya itu butuh 7 hari atau satu minggu lagi,” ungkapnya.

Menyikapi kejadian ini, Melki Laka Lena berpesan penting kepada semua pihak: penyelenggara MBG, para guru, orang tua murid, hingga siswa-siswi. “Dari peristiwa ini, kami menyampaikan untuk semua baik penyelenggara MBG, para guru, orang tua murid, siswa-siswi, yang sudah menikmati program ini untuk selalu mawas diri, yaitu dapat berkoordinasi dengan pihak kesehatan jika ditemukan hal-hal yang tidak baik di makanan,” pesannya.

Kasus dugaan keracunan massal ini memang masih menunggu hasil uji laboratorium yang valid. Namun, satu hal yang pasti, pemerintah mengutamakan kesehatan dan keselamatan ratusan siswa yang terdampak. “Sambil menunggu hasil penelitian yang sementara berjalan. Kita tunggu apakah besok sudah bisa sampaikan hasilnya atau belum. Kita tunggu pembuktian ilmiah dari Dinkes Provinsi dan Kota serta Badan POM,” pungkas Melki.

Sebelumnya, pada Selasa (22/7/2025), sebanyak 111 siswa dan siswi dari SMP Negeri 8 Kota Kupang dilarikan ke rumah sakit setelah diduga menyantap program makan bergizi gratis. Kepala SMP Negeri 8 Kota Kupang, Maria Th. Roslin S Lana, membenarkan bahwa ratusan muridnya mengalami sakit perut. Meski begitu, Roslin belum bisa memastikan apakah penyebabnya murni dari program MBG atau ada faktor lain. “Totalnya ada 111 siswa yang tersebar di kelas VII hingga IX. Mereka kini dirawat di tiga rumah sakit itu,” katanya saat itu. Para siswa tersebar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) SK Lerik, Rumah Sakit Siloam, dan Rumah Sakit Mamami.

Situasi ini jelas menjadi peringatan keras bagi semua pihak terkait program serupa. Keamanan pangan, apalagi untuk anak-anak sekolah, adalah harga mati. Mari kita tunggu bersama hasil penyelidikan resmi yang akan mengungkap fakta sebenarnya di balik insiden yang mengejutkan ini. Menurut Anda, langkah apa lagi yang perlu diambil pemerintah untuk memastikan program gizi gratis benar-benar aman dan menyehatkan? Bagikan pendapat Anda dan sebarkan artikel ini agar kesadaran akan keamanan pangan terus meningkat!

Leave a Comment

Related Post