Robot Polisi & Anjing Pintar! Mungkinkah Ini Akhir Era Patroli Manusia?

Admin Utama

July 2, 2025

4
Min Read

Robot Polisi: Kemewahan atau Kebutuhan? Penggunaan Dana Triliunan Rupiah Dipertanyakan!

Polri pamer lebih dari 20 robot canggih di HUT Bhayangkara ke-79. Ada robot humanoid, robot anjing, drone, bahkan tank! Megah? Tentu. Tapi, apakah ini prioritas utama kepolisian kita? Pertanyaan ini muncul di tengah kritik tajam terkait anggaran dan relevansi teknologi ini dengan masalah keamanan di Indonesia.

Irjen Sandi Nugroho, Kadiv Humas Polri, membandingkan langkah ini dengan negara lain seperti Thailand, China, dan Singapura. Ia menyebut pengadaan robot di kepolisian sudah biasa. Benarkah demikian? Bukti konkretnya di mana? Sementara itu, rencana pengadaan robot anjing saja sudah dianggarkan untuk tahun 2026.

Publik Indonesia, menurut Polri, masih awam dengan teknologi ini. Ironisnya, Polri sendiri mengklaim antusiasme masyarakat “di luar ekspektasi”. Klaim ini patut dipertanyakan mengingat banyaknya suara skeptis dari berbagai kalangan.

Harga Fantastis, Prioritas Miring?

Peneliti antikorupsi dan pegiat hukum langsung menyoroti isu akuntabilitas. Dokumen resmi yang menjadi dasar pengadaan robot-robot ini tak ditemukan. Apakah ini sebuah keganjilan? Lebih mengkhawatirkan lagi, harga satu robot humanoid ternyata lebih mahal dari biaya perbaikan mobil Brimob di Polda Bengkulu (Rp200 juta) dan perawatan Rumah Sakit Bhayangkara di Blora (Rp89 juta)!

PT Sari Teknologi dan Ezra Robotics menjadi mitra Polri dalam proyek ini. PT Sari, yang dijuluki media sebagai “Tony Stark dari Cengkareng”, memiliki portofolio yang beragam, mulai dari sistem parkir otomatis hingga alat bantu pernapasan. Sementara Ezra Robotics, berkolaborasi dengan ITS, mengimpor dan mengembangkan robot anjing dari China.

Robot Humanoid: Patroli Canggih atau Pemborosan Dana?

Robot humanoid, yang menyerupai manusia, diklaim efektif untuk pemindaian wajah dan pemantauan pelanggaran lalu lintas. Polri terinspirasi oleh China dan Dubai yang sudah menggunakan teknologi serupa. Namun, Yohanes Kurnia dari PT Sari Teknologi sendiri mengakui robot humanoid masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan ribuan jam uji coba.

Robot anjing I-K9 dari Ezra Robotics, yang tahan cuaca ekstrem dan dapat mendeteksi bahan berbahaya, juga menjadi bagian dari rencana besar ini. Harganya? Mencapai hampir Rp3 miliar untuk model dasar! Angka ini hampir menyamai anggaran pembangunan rumah dinas di Polres Bolaang Mongondow Utara.

Transparansi Anggaran: Ke mana Dana Triliunan Rupiah?

Sayangnya, detail anggaran pengadaan robot ini masih menjadi misteri. Pencarian di LPSE Polri tidak membuahkan hasil. Berdasarkan harga robot humanoid di luar negeri, satu unit bisa bernilai lebih dari Rp250 juta. Belum lagi harga robot anjing yang mencapai hampir Rp3 miliar!

Anggaran Polri tahun 2025 mencapai Rp106 triliun setelah pemotongan. 26,91% atau Rp34 triliun dialokasikan untuk belanja barang. Apakah pengadaan robot ini sudah sesuai prioritas? Indonesia Corruption Watch (ICW) pun ikut bersuara, menyatakan belum menemukan informasi mengenai perencanaan pengadaan robot ini. ICW mendesak transparansi dan mekanisme lelang yang adil.

Lebih dari Sekedar Mesin: Risiko dan Etika Penggunaan Robot Keamanan

Penggunaan robot dalam keamanan membawa risiko sendiri. Penelitian Regulating Police Robots (2025) mengungkap potensi pelanggaran privasi dan dilema etika terkait otoritas robot. Robot yang dilengkapi kamera dan sensor canggih bisa memperluas pengawasan, namun juga berpotensi menyasar warga biasa.

Prioritas Utama: Penegakan Hukum, Bukan Robot!

Di tengah polemik robot, Polri juga meluncurkan PoliceTube, sebuah platform video sharing. Namun, Ketua PBHI, Julius Ibrani, menekankan bahwa prioritas utama Polri seharusnya adalah penegakan hukum yang efektif. Lambannya penanganan laporan masyarakat, maraknya kasus kejahatan digital, dan tingginya angka kekerasan polisi menjadi masalah jauh lebih mendesak daripada robot-robot canggih.

Data KontraS menunjukkan 602 kasus kekerasan yang dilakukan polisi sepanjang 2025, dengan 1.085 korban. Angka ini sungguh memprihatinkan! Kritik tajam juga datang dari Amnesty International Indonesia yang menyoroti impunitas di tubuh kepolisian.

Julius Ibrani dengan tegas menyatakan bahwa pengadaan robot tidak relevan dengan tupoksi kepolisian jika dikaitkan dengan urgensi masalah yang dihadapi masyarakat.

Kesimpulan: Mimpi Masa Depan atau Masalah yang Tak Terselesaikan?

Pengadaan robot polisi di Indonesia menimbulkan pertanyaan besar: Apakah ini investasi yang bijak untuk meningkatkan keamanan, atau sekadar proyek mewah yang mengabaikan masalah mendasar penegakan hukum? Transparansi anggaran dan prioritas yang jelas sangat dibutuhkan. Apa pendapat Anda? Bagikan opini Anda di kolom komentar dan jangan lupa share artikel ini!

Leave a Comment

Related Post