
Sains Indonesia – , Badung – Sebuah kejutan menggemparkan jagat politik nasional! Kursi panas Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang selama ini dipegang Hasto Kristiyanto kini diduduki langsung oleh sosok yang paling berkuasa di partai banteng: sang Ketua Umum, Megawati Soekarnoputri! Ya, Anda tidak salah baca. Megawati kini merangkap jabatan sebagai pucuk pimpinan sekaligus pengendali roda organisasi partai. Apa sebenarnya yang terjadi di balik manuver politik tak terduga ini? Mungkinkah ini langkah penyelamatan karir Hasto Kristiyanto ataukah sinyal perubahan besar di tubuh PDIP?
Perombakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP untuk masa bakti 2025-2030 ini memang penuh misteri. Hasto Kristiyanto, nama yang akrab dengan posisi Sekjen, kini tak lagi tercantum. Ketua DPP PDIP, Ribka Tjiptaning Proletariyati, menjelaskan bahwa keputusan ini murni pertimbangan dan kebijakan pribadi Megawati Soekarnoputri. Namun, jangan salah sangka, peluang Hasto untuk kembali menduduki jabatan itu masih terbuka lebar. Ribka menyebut, ini adalah upaya Megawati untuk merehabilitasi Hasto secara politik. Tujuannya jelas: membersihkan Hasto dari stigma kasus hukum yang sempat menjeratnya. “Biar publik tahu Hasto itu tidak terstigma karena korupsi. Jangan sampai nanti di luar ’digoreng’, seolah Pak Hasto enggak jadi sekretaris jenderal karena persoalan tahanan korupsi. Itu harus clear dulu,” tegas Ribka usai Kongres IV PDIP di Bali Nusa Dua Convention Center, Kuta Selatan, Badung, Bali, Sabtu, 2 Agustus 2025.
Kekosongan posisi Sekretaris Jenderal ini, menurut Ribka, juga tak lepas dari momen kedatangan Hasto Kristiyanto di kongres. Ia baru tiba menjelang penutupan, saat pelantikan pengurus baru sudah berlangsung. “Kami sudah dilantik, (dia) baru datang. Kalau sebelum dilantik, ya, itu lain lagi persoalannya,” ungkap Ribka.
Momen Hasto Kristiyanto tiba di Kongres VI PDIP benar-benar menyita perhatian. Saat itu, Megawati Soekarnoputri tengah menyampaikan pidato penutupan. Sekitar pukul 15.40 WITA, Hasto memasuki ruangan kongres dengan kemeja merah khas partai bantengnya. Langkahnya menuju panggung disambut pekikan “Merdeka!” dari para peserta. Megawati, yang sedang berpidato, berhenti sejenak. Di atas panggung, Hasto memberikan hormat dan mencium tangan sang Ketua Umum. Momen haru tak terelakkan: Megawati menggenggam tangan Hasto, air mata terlihat menetes di pipi putri presiden pertama Soekarno itu.
Kehadiran Hasto Kristiyanto di kongres ini bukan tanpa kisah. Ia baru saja menghirup udara bebas dari rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hasto, yang ditahan KPK sejak Februari 2025 karena dugaan kasus suap, akhirnya bebas pada Jumat malam, 1 Agustus 2025. Sebelumnya, ia divonis 3 tahun 6 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Hasto dianggap terbukti bersalah dalam penyediaan dana suap kepada Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2017-2022, Wahyu Setiawan. Suap ini bertujuan agar kader PDIP, Harun Masiku, bisa melenggang menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024, menggantikan Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia sebelum dilantik. Vonis terhadap Hasto dijatuhkan pada Jumat pekan lalu.
Hebatnya, tak sampai seminggu setelah vonis, Presiden Prabowo Subianto memberikan amnesti atau pengampunan kepada Hasto Kristiyanto. Pengampunan ini tidak hanya untuk Hasto, tetapi juga untuk 1.116 terpidana lainnya, berdasarkan surat Presiden Nomor R42/Pres 07.2025 tertanggal 30 Juli 2025. Usulan pemberian amnesti ini dengan cepat disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Kamis, 31 Juli 2025.
Langkah mengejutkan Megawati Soekarnoputri ini tentu menyisakan banyak tanya. Apakah ini awal dari babak baru bagi Hasto Kristiyanto dan PDIP? Ataukah hanya strategi cerdik untuk membersihkan namanya dari bayang-bayang masa lalu agar kelak bisa kembali mengisi posisi strategis? Hanya waktu yang bisa menjawab teka-teki politik ini. Bagikan artikel ini jika Anda merasa informasi ini penting, dan jangan lupa tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar! Menurut Anda, akankah Hasto kembali ke posisi Sekretaris Jenderal di masa depan?









Leave a Comment