Rahasia Terbongkar! AS Serang Nuklir Iran? Begini Caranya

Admin Utama

June 23, 2025

7
Min Read

Sains Indonesia – , Jakarta – Dunia terkejut! Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat tiba-tiba melancarkan serangan dahsyat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Ahad pagi, 22 Juni 2025. Targetnya bukan main-main: situs-situs penting di Fordow, Natanz, dan Isfahan, semuanya dihantam dalam koordinasi ketat dengan Komando Pusat Angkatan Bersenjata Amerika (Centcom). Ini bukan sekadar gertakan, ini adalah pukulan telak yang mengguncang kawasan!

Lantas, bagaimana serangan mengejutkan ini bisa terjadi? Dan, sejauh mana peran Israel dalam operasi militer rahasia ini?

Operasi militer Amerika Serikat ini diberi nama sandi yang mencengangkan: Operasi Godam Tengah Malam atau Operation Midnight Hammer. Misi pengeboman fasilitas nuklir Iran tersebut melibatkan kekuatan tempur yang luar biasa. Bayangkan, tujuh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit dikerahkan, ditambah lebih dari 30 rudal serang Tomahawk yang meluncur dari kapal selam bertenaga nuklir berpeluru kendali kelas Ohio. “Fasilitas pengayaan nuklir utama Iran telah hancur total,” demikian klaim Presiden Amerika Donald Trump dalam pidatonya di Gedung Putih pada Sabtu malam, 21 Juni 2025.

Menurut laporan eksklusif USNI News, media Institut Angkatan Laut Amerika Serikat, paket serangan utama yang terdiri dari tujuh pesawat pengebom B-2 ini memulai perjalanan pulang-pergi yang memakan waktu lebih dari sehari. Mereka lepas landas dari Pangkalan Udara Whiteman di Missouri, Amerika, pada Jumat tengah malam, 20 Juni 2025 menuju Sabtu pagi, 21 Juni 2025 waktu setempat. Pesawat-pesawat itu butuh waktu setidaknya 18 jam untuk terbang dari Missouri hingga mencapai Teheran. Tepat pada Minggu pagi pukul 2.10 waktu Iran, mereka menjatuhkan 14 bom GBU-57/B Massive Ordnance Penetrators ke fasilitas pengayaan nuklir di Natanz dan Fordo.

Bom-bom GBU-57/B itu sungguh mengerikan. Dengan bobot 30 ton dan panjang 6 meter, bom raksasa ini dirancang khusus untuk menghancurkan bunker secara presisi. Dikembangkan oleh Boeing untuk Angkatan Udara Amerika, bom ini sanggup menembus beton setebal 30 meter. Bom ini bahkan dianggap sebagai satu-satunya senjata yang dimiliki Amerika atau Israel yang mampu menghancurkan fasilitas pengayaan uranium yang tersembunyi di bawah tanah Iran.

“Total sekitar 75 senjata berpemandu presisi digunakan Pasukan Amerika selama operasi ini,” terang Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Angkatan Udara Dan Caine dalam konferensi pers di Pentagon pada Ahad, 22 Juni 2025. Menurut Caine, kerusakan akibat perang sangatlah signifikan. “Penilaian awal kerusakan akibat pertempuran menunjukkan bahwa ketiga lokasi mengalami kerusakan dan kehancuran yang sangat parah.”

Caine juga menegaskan bahwa ini adalah serangan B-2 terbesar dalam sejarah Amerika, sekaligus misi B-2 terlama kedua yang pernah diterbangkan. Hanya misi pasca 11 September yang mampu melampauinya. Jauh sebelum serangan ini, Komandan Centcom Michael Kurilla telah meningkatkan perlindungan pasukan di seluruh wilayah, terutama di Irak, Suriah, dan Teluk. “Pasukan kami dalam keadaan siaga tinggi dan sepenuhnya siap untuk menanggapi setiap serangan balasan Iran atau serangan proksi, yang akan menjadi pilihan yang sangat buruk,” kata Caine.

Misi awal ini juga melibatkan taktik penipuan yang cerdik. Beberapa pesawat umpan sengaja diterbangkan ke arah barat di atas Samudra Pasifik. “Upaya penipuan ini hanya diketahui oleh sejumlah kecil perencana dan pemimpin utama di Washington dan Kantor Pusat Centcom,” ungkap Caine. Amerika bahkan mengirim kelompok B-2 terpisah ke barat dalam misi umpan yang terbang dari Whiteman di atas Pasifik. “Lebih dari 125 pesawat menjadi bagian dari misi tersebut, termasuk pesawat intelijen, pengawasan dan pengintaian, serta pengisian bahan bakar,” tambahnya.

Sementara itu, kelompok tujuh pesawat B-2 utama terbang melintasi Atlantik, melewati Laut Mediterania dan menuju Timur Tengah. Mereka dibantu oleh armada pengisi bahan bakar udara KC-135 dan KC-46A Pegasus yang telah diposisikan strategis untuk mendukung perjalanan pulang-pergi jarak jauh ini. Beberapa pesawat tempur Amerika generasi keempat dan kelima kemudian bergabung dengan pesawat pengebom sebelum B-2 mendekati dua fasilitas pengayaan nuklir di Natanz dan Fordo. “Pesawat generasi keempat dan kelima itu bergerak maju di depan paket serangan pada ketinggian dan kecepatan tinggi. Mereka menyapu di depan paket tersebut untuk mencari pesawat tempur musuh dan ancaman rudal permukaan-ke-udara,” jelas Caine.

Hebatnya, Iran tak bisa berbuat banyak ketika pesawat pembom tiba. Sistem pertahanan udara Negeri Mullah itu ternyata sudah rusak parah akibat serangkaian serangan udara Israel yang terus berlanjut sejak 13 Juni 2025, membuat jalan bagi serangan Amerika mulus.

Menurut Caine, sebuah kapal selam Amerika, yang identitasnya dirahasiakan, meluncurkan lebih dari dua lusin rudal Tomahawk ke fasilitas nuklir di Isfahan tak lama setelah B-2 menjatuhkan bomnya. USNI News sebelumnya melaporkan bahwa USS Georgia, kapal selam bertenaga nuklir Amerika yang mengangkut lebih dari 150 BGM-109 Tomahawk Land Attack Missile (TLAM), memasuki wilayah tersebut pada September 2025.

Caine menyatakan tidak ada serangan balasan yang terdeteksi terhadap paket serangan Amerika. “Kami tidak mengetahui adanya tembakan yang dilepaskan ke paket tersebut saat keluar. Jet tempur Iran tidak terbang dan tampaknya sistem rudal permukaan-ke-udara Iran tidak melihat kami,” katanya, menunjukkan betapa efektifnya serangan ini.

Amerika Serikat sendiri telah menempatkan sejumlah armada tempurnya di sekitar Timur Tengah jauh sebelum perang Iran-Israel meletus. Pada Jumat, 20 Juni 2025, Kelompok Serang Kapal Induk Carl Vinson telah beroperasi di Laut Arab Utara, bersamaan dengan Kelompok Serang Kapal Induk Nimitz yang dijadwalkan tiba pada akhir pekan yang sama. Amerika juga menempatkan USS Forrest Sherman dan USS Truxtun, dua kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke, di Laut Merah.

Selain kehadiran Angkatan Laut, Amerika memiliki sekitar 40.000 tentara di Timur Tengah. Mereka tersebar di Irak, Kuwait, Bahrain, Yordania, Suriah, Qatar, dan wilayah strategis lainnya. Angkatan Laut Amerika juga telah memposisikan lima kapal pertahanan rudal balistik di Laut Mediterania, yakni USS Arleigh Burke, USS Thomas Hudner, USS The Sullivans, USS Paul Ignatius, dan USS Oscar Austin. Kelima kapal ini mampu mencegat rudal balistik yang menargetkan Israel atau pangkalan Amerika di sekitar wilayah tersebut.

“Ini adalah misi yang rumit dan berisiko tinggi, yang dilaksanakan dengan keterampilan dan disiplin yang luar biasa oleh pasukan gabungan kita,” puji Caine. Menurutnya, misi ini menunjukkan “jangkauan, koordinasi, dan kemampuan militer Amerika yang tak tertandingi.” Ia bahkan setuju dengan penilaian Presiden Trump bahwa “tidak ada militer lain di dunia yang dapat melakukan ini.”

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa serangan ini hanya berfokus pada ancaman nuklir Iran. “Misi ini bukan, dan tidak pernah, ditujukan untuk pergantian rezim. Presiden mengesahkan operasi presisi ini untuk menetralkan ancaman terhadap kepentingan nasional kita yang ditimbulkan oleh program nuklir Iran dan (mendukung) pertahanan diri kolektif pasukan kita dan sekutu kita, Israel,” tegasnya dalam konferensi pers yang sama.

Tentu saja, para pejabat tinggi Iran mengecam keras serangan Amerika itu dan menegaskan hak negara itu untuk membela diri. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut operasi Amerika itu sebagai “pelanggaran yang keterlaluan, serius, dan belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional. “Pemerintahan yang suka berperang dan melanggar hukum di Washington bertanggung jawab sepenuhnya atas konsekuensi berbahaya dan implikasi yang luas dari tindakan agresinya,” kata Araghchi dalam konferensi pers di Istanbul, Turki, setelah serangan tersebut.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengecam serangan Amerika tersebut dan menuduh Amerika berada di balik serangan Israel. “Agresi ini menunjukkan bahwa Amerika adalah faktor utama di balik tindakan permusuhan rezim Zionis terhadap Republik Islam Iran,” katanya, seperti dikutip kantor berita Iran IRNA.

Serangan brutal Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran ini adalah momen yang bisa mengubah peta geopolitik Timur Tengah. Operasi Midnight Hammer tidak hanya menunjukkan kekuatan militer Amerika yang tak tertandingi, tetapi juga memicu ketegangan yang bisa berujung pada eskalasi konflik yang lebih luas. Dengan klaim kehancuran total fasilitas nuklir Iran dan penolakan keras dari Teheran, dunia kini menanti langkah selanjutnya. Mampukah Iran membalas, ataukah ini awal dari babak baru yang lebih menakutkan? Apa pendapat Anda tentang serangan berani ini? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar dan mari diskusikan implikasinya!

Leave a Comment

Related Post