Rahasia Sukses! Remaja Maluku & Buton Kuasai Dunia Perikanan Lewat KKP

Admin Utama

August 2, 2025

4
Min Read

Di balik gemuruh kota Jakarta, ada kisah-kisah luar biasa yang terukir di pinggir kolam renang Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP), Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Bukan sekadar latihan biasa, tapi gambaran nyata dari perjuangan dua pemuda tangguh yang berani menentang keterbatasan. Randi dan Irsan, dengan mata penuh harap dan tangan mengepal, sedang mengukir takdir mereka sendiri. Apa rahasia di balik semangat membara ini? Dan bagaimana sebuah institusi pendidikan vokasi mampu mengubah hidup mereka, bahkan ribuan lainnya, menuju panggung dunia?

Randi Lesilawang, pemuda 19 tahun dari Maluku, adalah bukti bahwa pendidikan bisa jadi pelampung penyelamat. Anak ke-11 dari 12 bersaudara ini, tumbuh dalam kesederhanaan, namun mimpinya tak sesederhana itu. Dengan tekad baja, taruna semester empat program studi Teknologi Penangkapan Ikan ini berucap lirih, namun penuh keyakinan, “Suatu saat saya akan bangun usaha sendiri.” Ia masih ingat pesan orang tuanya sebelum merantau, “Kalau dalam rantau orang, tidak boleh bolak-balik kaki. Kita di sini juga orang susah.” Kalimat itu, sungguh, menancap kuat di benaknya. Kini, Randi adalah salah satu dari hanya empat saudaranya yang berhasil menembus pendidikan tinggi, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.

Tak kalah inspiratif, ada Irsan Naufal Azhari Shaleh dari Buton, Sulawesi Tenggara. Satu angkatan dengan Randi, tapi ia memilih jalan Mesin Perikanan. Bayangkan, anak petani dan nelayan ini mengaku ‘buta’ soal mesin sebelum masuk kampus! Namun, semangatnya mengalahkan segalanya. “Biar dari nol pun bisa masuk di sini. Saya pribadi begitu. Tidak tahu apa-apa tentang mesin,” kenangnya. Kuncinya? Keyakinan dan perjuangan. “Yang penting yakin dulu. Berjuang saja sungguh-sungguh. Tak akan ada yang bisa membuat kita sukses, kecuali diri sendiri,” tegasnya. Irsan mengenal Politeknik AUP dari saudaranya yang alumni. Kini, ia punya impian besar: bekerja di kapal perikanan luar negeri, mungkin di Australia. Jarak ribuan kilometer dari orang tua bukan halangan, sebab doa menjadi penghubung abadi. “Doanya saja terus… Doa saja sudah cukup,” ucapnya, matanya berkaca-kaca.

Kisah Randi dan Irsan ini bukan sekadar anekdot. Mereka adalah representasi nyata dari ribuan talenta muda yang ditempa di ruang-ruang belajar Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP).

Institusi pendidikan tinggi vokasi ini, yang berada di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), saat ini menaungi 11 kampus di seluruh Indonesia dengan lebih dari 5.500 peserta didik aktif! Dari semua itu, hanya Politeknik AUP Jakarta yang berlokasi di Pasar Minggu yang punya jenjang D4 dan Magister Terapan. Tapi, siap-siap! Perubahan besar sedang digodok.

Politeknik AUP kini tengah bersiap menghadapi transformasi monumental menuju Ocean Institute of Indonesia (OII). Ini bukan cuma ganti nama, tapi sebuah langkah strategis untuk menyatukan 11 satuan pendidikan tinggi tersebut di bawah satu standar mutu yang lebih global dan terintegrasi. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPPSDM), I Nyoman Radiarta, menegaskan, “Tagline kami menuju OII, dengan perbaikan manajemen, pola pendidikan, kurikulum, dan efisiensi.” Ke depan, pemilihan kampus bukan lagi berdasarkan wilayah, melainkan fokus pada kepakaran dan keunggulan program studi.

Transformasi ini adalah arahan langsung dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono. Harapannya jelas: sekolah ini harus mampu mencetak SDM kelautan dan perikanan yang produktif, dinamis, dan bertalenta global. Pendidikan yang sebelumnya berbasis kewilayahan akan diarahkan agar lebih fokus, berbasis riset, dan pastinya, relevan dengan kebutuhan industri laut masa kini dan masa depan.

Selama 62 tahun berdiri, lembaga hebat ini telah melahirkan lebih dari 13.000 lulusan D4, dan 250 lulusan pascasarjana. Saat ini, AUP sendiri punya 2.870 taruna, 39 mahasiswa magister terapan, serta 181 dosen, enam di antaranya adalah guru besar (empat lagi siap dikukuhkan di Dies Natalis ke-62 tahun ini!).

Yang bikin beda? Sistem teaching factory mereka! Para peserta didik di Politeknik KP menjalani porsi praktik yang luar biasa, mencapai 70 persen dari total kurikulum. Artinya, mereka tak hanya pulang bawa ijazah, tapi juga sertifikat keahlian yang diakui secara nasional dan internasional. Ini adalah jaminan nyata untuk masa depan cerah para lulusannya!

Dan ada kabar baik lagi! Mulai tahun lalu, peserta didik Politeknik KP diprioritaskan untuk anak-anak dari pelaku utama sektor kelautan dan perikanan. Siapa saja mereka? Nelayan, pembudidaya, pengolah, pemasar, hingga petambak garam. Hanya Politeknik KP Sidoarjo yang berstatus Badan Layanan Umum (PK-BLU) yang juga menerima peserta dari masyarakat umum. Ini adalah komitmen nyata untuk memberdayakan generasi penerus dari sektor bahari Indonesia.

Kisah Randi, Irsan, dan ambisi besar Politeknik Kelautan dan Perikanan menuju Ocean Institute of Indonesia membuktikan satu hal: Indonesia tak akan kekurangan talenta hebat di bidang maritim. Dengan pendidikan vokasi yang tepat, masa depan lautan kita ada di tangan generasi muda yang siap berlayar mengarungi samudra kesuksesan. Bagaimana menurut Anda, seberapa besar potensi pendidikan vokasi kita dalam mencetak SDM kelas dunia? Bagikan pendapat Anda dan sebarkan kisah inspiratif ini kepada lebih banyak orang!

Leave a Comment

Related Post