
Sains Indonesia – , JAKARTA — Siap-siap, masa depan Formula E Jakarta kini di ujung tanduk! Gubernur Jakarta, Pramono Anung, baru saja membuka peluang besar sekaligus ‘tantangan’ menarik terkait perpanjangan kontrak ajang balap mobil listrik paling bergengsi ini di Ibu Kota.
Pasalnya, Formula E Jakarta 2025 yang baru saja rampung digelar di Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC) Ancol pada Sabtu (21/6/2025) menjadi seri ketiga sejak pertama kali dilaksanakan pada 2022. Jika tidak ada perpanjangan, berarti gelaran tahun ini akan menjadi yang terakhir di Indonesia. Sebuah fakta yang bikin dag dig dug para penggemar kecepatan!
“Ini race yang ketiga. Nanti yang berikutnya apakah akan dilanjutkan atau enggak [kontraknya], tentunya antara penyelenggara dan pemerintah Jakarta bisa duduk-duduk bareng [berdiskusi],” jelas Pramono Anung santai saat ditemui di sirkuit JIEC Ancol. Wah, sinyal positif untuk terus melihat gemuruh mobil listrik Formula E di tanah air!
Di tengah riuhnya kemeriahan Formula E Jakarta 2025 yang menobatkan Dan Ticktum sebagai juara, dengan Mortara dan Müller melengkapi podium, serta kehadiran Pramono Anung yang menyerahkan piala, Gubernur tak bisa menyembunyikan optimismenya. Ia bahkan sempat bertemu akrab dengan pembalap Mahindra Racing yang punya darah keturunan Indonesia, Nyck de Vries.
Menurut Pramono, kehadiran pembalap sekelas Nyck de Vries membuktikan bahwa Jakarta sebagai kota global punya magnet kuat di kompetisi balap internasional. “Kalau kemudian akan ada kembali [gelaran Formula E], pasti pemerintah Jakarta akan memberikan support,” tegasnya, menjanjikan dukungan penuh. Tapi ada satu catatan penting: penyelenggaraan ke depan wajib dilaksanakan secara profesional.
Namun, di balik semua optimisme itu, terkuak satu hal yang bikin pembahasan kontrak Formula E makin seru. Jauh sebelum balapan spektakuler ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Jakarta sudah terang-terangan meminta agar biaya penyelenggaraan Formula E di Jakarta dinegosiasikan ulang, alias dimurahin!
Permintaan berani ini disampaikan langsung oleh Gubernur Pramono Anung di depan Co-Founder Formula E Operations (FEO) Alberto Longo, saat Press Conference & Launching Ceremony of Jakarta E-Prix 2025 di Balai Kota Jakarta, Kamis (24/4/2025).
“Jadi kalau mau kontraknya diperpanjang, dimurahin, dong. Kita tawar, dong. Jangan mahal-mahal. Karena dia butuh kita, kita butuh dia,” cetus Pramono dengan nada negosiasi yang lugas. Sebuah strategi tawar-menawar yang menunjukkan posisi Jakarta sebagai tuan rumah yang tak bisa dianggap remeh.
Untuk memastikan negosiasi berjalan mulus, Pramono Anung bahkan menugaskan Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (JakPro), Iwan Takwin, untuk segera “menggebrak meja” dan melakukan pembicaraan serius dengan pihak Formula E. Semua demi satu tujuan: agar balap mobil listrik ini bisa terus jadi tontonan wajib dan kebanggaan Ibu Kota!
Jadi, masa depan Formula E di Jakarta masih menyimpan teka-teki manis. Antara harapan untuk terus menikmati deru kecepatan di JIEC Ancol dan negosiasi alot soal biaya, Gubernur Pramono Anung membuka pintu lebar untuk kelanjutan, asalkan ada profesionalisme dan tentu saja, harga yang lebih bersahabat untuk kita semua.
Bagaimana menurutmu? Apakah Jakarta E-Prix layak untuk terus ada, atau sudah saatnya mencari ajang lain? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar dan sebarkan artikel ini ke teman-temanmu yang juga penasaran dengan nasib Formula E di masa depan!









Leave a Comment