
Sains Indonesia – , Jakarta – Para pemimpin dan perwakilan dari aliansi BRICS berkumpul di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu dan Senin, 6 dan 7 Juli 2025, dalam gelaran Konferensi Tingkat Tinggi alias KTT BRICS tahunan ke-17 kelompok tersebut.
Pertemuan puncak ini ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang telah menjadi anggota BRICS sejak 2024, serta genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, dan perang di Ukraina.
Pertemuan KTT BRICS dua hari ini dipimpin oleh Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, dengan agenda utama mencakup perdagangan dan investasi, kerja sama keuangan, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi, kesehatan global dan aksi iklim.
Perkembangan BRICS
Forum BRICS, yang menghimpun negara-negara ekonomi berkembang utama, terus memperluas pengaruhnya di panggung global dengan menambah anggota baru serta menjalin kemitraan strategis, sembari merancang langkah-langkah ambisius untuk memperdalam kolaborasi lintas sektor di bawah kepemimpinan Brasil sepanjang tahun 2025.
Seperti dikutip dari DD News, KTT perdana BRIC digelar di Yekaterinburg, Rusia, pada tahun 2009. Forum ini resmi berubah menjadi BRICS setelah Afrika Selatan bergabung pada 2010 dan secara resmi turut serta dalam KTT ketiga yang berlangsung di Sanya pada 2011.
Lebih dari satu dekade kemudian, aliansi ini mengalami perluasan terbesar dalam sejarahnya. Pada Januari 2024, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab resmi menjadi anggota penuh, disusul oleh keanggotaan penuh Indonesia pada Januari 2025. Tahun ini, sembilan negara lainnya yakni Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan juga diumumkan sebagai negara mitra BRICS, mencerminkan meningkatnya daya tarik dan pengaruh aliansi ini di kawasan Global Selatan.
Dengan komposisi terbarunya, BRICS kini mencakup hampir setengah populasi dunia, menyumbang sekitar 40 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) global, dan mewakili seperempat dari total perdagangan internasional.
Tak hanya itu, saat Amerika Serikat dan Israel terlibat konflik militer dengan Iran pada Juni lalu, kelompok BRICS secara senyap mengumumkan bahwa Vietnam telah menerima undangan untuk bergabung sebagai negara mitra. Dengan bergabungnya Vietnam, jumlah total anggota dan mitra dalam BRICS+ bertambah menjadi 20 negara per Juli 2025.
Menurut Foreign Policy Research Institute, secara kolektif, BRICS 20 mencakup 43,93% dari total ekonomi global jika dihitung berdasarkan paritas daya beli (PPP), menurut data Dana Moneter Internasional (IMF). Populasi gabungan negara-negara BRICS 20 mencapai 4,45 miliar jiwa dari total populasi dunia yang berjumlah 8,01 miliar pada tahun 2025. Artinya, BRICS+ kini merepresentasikan 55,61% dari penduduk global.
Bakal Lawan Sepadan G7?
Kelompok BRICS kian menunjukkan taringnya sebagai penantang serius dominasi negara-negara maju yang tergabung dalam G7. Dengan keanggotaan yang terus berkembang dan pengaruh ekonomi serta geopolitik yang semakin kuat, BRICS kini tampil sebagai kekuatan tandingan dari blok Barat.
Kelompok G7, yang dipimpin oleh Amerika Serikat di belahan Bumi Utara, dan BRICS, yang dipimpin oleh Rusia dan Cina di belahan Bumi Selatan, kini tengah bersaing memperebutkan kendali atas tatanan internasional berbasis aturan. Untuk memahami dinamika persaingan ini, penting menelusuri latar belakang, tujuan, serta perkembangan terbaru dari kedua kelompok tersebut.
G7 dibentuk pada tahun 1975 oleh negara-negara demokrasi industri maju sebagai respons terhadap isu-isu ekonomi mendesak pada masa itu, terutama krisis minyak tahun 1973 yang dipicu oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Berbeda dengan organisasi formal seperti NATO atau Uni Eropa, G7 tidak memiliki struktur kelembagaan permanen, seperti sekretaris jenderal, konstitusi, maupun staf tetap.
BRICS kini disebut-sebut sebagai lawan sepadan G7 dalam membentuk ulang tatanan dunia, terutama dengan munculnya agenda alternatif yang ditawarkan kelompok ini di bidang ekonomi, teknologi, dan keamanan.
Perluasan keanggotaan BRICS dan semakin kuatnya pengaruh geopolitiknya menjadikannya kekuatan yang patut diperhitungkan, terutama di kalangan negara-negara berkembang yang mencari alternatif dari dominasi Barat. Untuk mengimbangi pengaruh BRICS, sejumlah strategi telah diajukan oleh pihak Barat.
Pertama, G7 disarankan untuk menawarkan insentif ekonomi melalui perjanjian perdagangan strategis kepada negara-negara anggota BRICS yang lebih netral, seperti Afrika Selatan atau Mesir, guna mengurangi ketergantungan mereka terhadap Rusia dan Cina.
Kedua, G7 perlu mempercepat pembentukan kerangka tata kelola kecerdasan buatan (AI) yang inklusif namun berbasis nilai-nilai Barat, agar tidak disalip oleh standar teknologi yang mungkin dibangun BRICS.
Ketiga, kerja sama militer dengan anggota BRICS seperti India perlu diperkuat, mengingat potensi India untuk menjadi mitra strategis dalam menghadapi pengaruh militer Rusia dan Cina. Melalui langkah-langkah ini, G7 bisa berupaya menjaga supremasinya di tengah bangkitnya BRICS sebagai kekuatan multipolar baru yang semakin menantang dominasi global negara-negara Barat.
Pilihan editor: PM Malaysia Sebut BRICS Bisa Ciptakan Tatanan Dunia Lebih Adil









Leave a Comment