Sains Indonesia – Jakarta – GEGER! Nadiem Makarim Buka Suara soal Proyek Laptop Chromebook Milyaran Rupiah yang Dibidik Kejaksaan Agung: Ini Dia Alasan Mengejutkan di Balik Pilihan Kontroversial!
Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, akhirnya angkat bicara terkait proyek pengadaan laptop chromebook untuk program digitalisasi pendidikan. Proyek yang digagas di masa jabatannya itu kini tengah jadi sorotan tajam, diindikasikan sarat korupsi, dan sedang diusut serius oleh tim penyidik Kejaksaan Agung. Lalu, apa pembelaan Nadiem?
Tak tinggal diam, Nadiem menegaskan bahwa keputusan memilih laptop berbasis Chrome OS bukanlah tanpa perhitungan. Ia memastikan, pilihan ini sudah melewati berbagai pertimbangan matang, bahkan berdasarkan hasil kajian internal. “Kajian ini benar-benar menunjukkan kenapa ada keunggulan dari aspek chromebook,” ungkap Nadiem, Selasa, 10 Juni 2025. Salah satu poin utamanya? Harga yang jauh lebih murah.
Ya, menurut Nadiem, laptop chromebook bisa 10 hingga 30 persen lebih murah dibandingkan laptop lain dengan spesifikasi setara. Bayangkan penghematannya! Bukan hanya itu, sistem operasi Chrome OS juga gratis. Ini berbeda drastis dengan sistem operasi lain yang bisa memakan biaya Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta per unit. Plus, laptop chromebook diklaim punya segudang fungsi tambahan penunjang pendidikan, seperti kontrol untuk menghindari akses situs judi online atau pornografi. Hebatnya lagi, semua fungsi ini juga gratis!
“Sedangkan operating system lain akan ada biaya tambahan,” kata Nadiem. Keunggulan terakhir yang tak kalah penting, laptop chromebook bisa diakses secara offline atau luring, meski memang terbatas. “Berbagai macam alasan ini benar-benar menunjukkan kenapa ada keunggulan dari laptop chromebook,” pungkasnya.
Namun, pernyataan Nadiem ini seolah berbenturan dengan temuan Kejaksaan Agung. Mereka mencium aroma tak sedap, indikasi adanya “permufakatan jahat” untuk memuluskan proyek pengadaan laptop chromebook ini. “Supaya diarahkan (pengadaan) pada penggunaan laptop yang berbasis pada operating system Chrome,” terang Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Harli Siregar, Senin, 2 Juni 2025.
Yang lebih mencengangkan, hasil uji coba Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan pada 2018-2019 justru menyatakan pengadaan laptop chromebook tidak efektif! Meskipun kajian tersebut tidak secara eksplisit merekomendasikan penggunaan Windows, Kejaksaan Agung punya bukti lain. “Tim teknis merekomendasikan penggunaan spesifikasi dengan sistem operasi Windows,” tutur Harli, membongkar fakta yang berpotensi jadi kunci kasus ini.
Hingga kini, tim penyidik Kejaksaan Agung masih terus mendalami kasus megakorupsi ini. Mereka berupaya keras menelusuri siapa pengguna anggaran dan pengelola proyek pengadaan laptop chromebook, serta mencari tahu siapa otak di balik rekomendasi awal laptop kontroversial ini.
Skandal pengadaan laptop chromebook ini memang pelik, melibatkan nama besar dan anggaran fantastis untuk digitalisasi pendidikan. Di satu sisi, Nadiem membela pilihannya dengan sederet argumen efisiensi dan keunggulan. Di sisi lain, Kejaksaan Agung menemukan indikasi “permufakatan jahat” dan hasil uji coba yang kontradiktif. Siapa yang sebenarnya benar dalam saga ini? Akankah kasus ini mengungkap praktik korupsi yang merugikan masa depan pendidikan anak bangsa? Bagikan artikel ini agar lebih banyak lagi yang tahu, dan mari diskusikan pendapat Anda di kolom komentar! Masa depan pendidikan ada di tangan kita semua.









Leave a Comment