
Ribuan guru siap ubah nasib anak bangsa! Ini bukan sekadar pelantikan biasa, tapi awal revolusi pendidikan yang digagas oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono. Bayangkan, 1.323 guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) resmi dilantik, siap menukik langsung ke Sekolah Rakyat, membawa harapan baru bagi mereka yang paling membutuhkan.
Pada Jumat (8/8) yang penuh makna, upacara pelantikan ini digelar secara hybrid. Sebagian guru hadir langsung di Gedung Aneka Bhakti Kemensos, dari enam titik perwakilan sekolah seperti Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta Timur hingga SRMA 12 Bogor. Sementara ribuan guru lainnya di seluruh pelosok negeri menyaksikan momen bersejarah ini via Zoom.
Gus Ipul tak hanya sekadar melantik, beliau memastikan para guru PPPK Sekolah Rakyat ini akan mendapatkan hak dan tunjangan yang layak sesuai peraturan. Ini komitmen nyata pemerintah terhadap kesejahteraan pahlawan tanpa tanda jasa di garda terdepan pendidikan inklusif. “Alhamdulillah, baru saja kita melakukan pelantikan guru Sekolah Rakyat yang jumlahnya 1.323 dari berbagai sekolah rakyat yang tersebar di 100 titik,” tegas Gus Ipul, menunjukkan betapa besar skala program ini.


Upacara pengambilan sumpah jabatan berlangsung khidmat, dengan janji tulus dibacakan langsung oleh Gus Ipul dan diikuti oleh para guru. Sebuah sumpah yang bukan main-main: “Bahwa saya akan setia dan taat kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan seluruh lurusnya, akan menjunjung etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya dan penuh dengan rasa tanggung jawab, menjaga integritas, tidak menyalahgunakan kewenangan, serta menghindarkan diri dari perbuatan tercela.” Ini adalah fondasi kuat bagi para pengajar untuk mengemban amanah pendidikan di Sekolah Rakyat.

Namun, di balik kegembiraan ini, ada juga tantangan yang tak luput dari perhatian. Gus Ipul secara terbuka menanggapi isu guru yang tidak memenuhi panggilan tugas dan siswa yang mengundurkan diri. “Para kepala sekolah ini dulu juga mendaftar ikut seleksi, ada komitmen, ikut pembekalan, setelah selesai mereka bertekad untuk benar-benar melaksanakan sebagai kepala sekolah rakyat. Kalau ada yang tidak memenuhi panggilan, tentu kami menghormati,” jelasnya. Tak perlu khawatir, Kementerian Sosial bergerak cepat! Sekjen Robben Rico memastikan semua posisi guru yang kosong sudah terisi, bahkan siswa yang mundur pun segera digantikan. Dari total 9.705 murid Sekolah Rakyat, hanya sekitar 115 orang atau 1,4 persen yang memutuskan mundur. Sebuah angka yang kecil, menunjukkan tingkat kenyamanan dan adaptasi siswa yang tinggi. “Kami tentu dengan berat hati menyetujui pengunduran dirinya itu. Tapi karena itu keputusan keluarga, kami tidak bisa memaksa,” kata Gus Ipul, menunjukkan pendekatan humanis dan pengertian terhadap pilihan siswa dan keluarga. Proses dialog persuasif tetap jadi prioritas, dan seleksi siswa pengganti sudah dimulai agar proses belajar mengajar tetap berjalan mulus.

Dan inilah bagian paling menguras haru: kesaksian langsung dari lapangan! Pelantikan guru Sekolah Rakyat ini disambut gembira oleh para kepala sekolah yang melihat langsung perubahan nyata pada anak didiknya. Iksan Cahyana, Kepala SRMA 12 Bogor, tak bisa menutupi rasa syukurnya. “Setiap hari kami selalu mendapat kejutan. Anak-anak yang tadinya hanya makan satu kali sehari, sekarang bisa makan tiga kali, dapat bimbingan dan tempat tidur yang layak. Mereka sering bilang, ‘Alhamdulillah’, ‘Terima kasih Wali Asuh, terima kasih Wali Asrama’,” tirunya, menirukan suara polos anak-anak. Bahkan, banyak anak yang betah di asrama dan enggan pulang karena sudah merasa nyaman dan terpenuhi kebutuhannya. Ini bukti nyata, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tapi rumah kedua yang penuh kasih sayang.

Fitri Puspitasari, Kepala SRMP 10 Bogor, berbagi tantangan unik dalam mendampingi siswa dengan latar belakang beragam, termasuk 11 anak yang belum lancar membaca dan menulis, bahkan dua di antaranya memiliki disabilitas intelektual. “Maka guru-guru kami mendampingi satu-satu secara bergantian agar mereka tidak minder,” tutur Fitri, menggambarkan dedikasi luar biasa para guru. Fokus Sekolah Rakyat tak hanya pada akademik. Mereka juga membangun karakter dan etika sejak dini. “Kami membiasakan mereka menjaga kebersihan, merapikan tempat tidur, ibadah sesuai agama masing-masing. Di awal banyak drama, tapi makin ke sini anak-anak sadar bahwa semua ini untuk mereka sendiri,” tambah Iksan, menunjukkan hasil nyata dari pembiasaan disiplin dan nilai-nilai positif.

Lastri Pajarwati, Kepala SRMA 13 Bekasi, menegaskan bahwa lingkungan asrama adalah pembeda utama Sekolah Rakyat. “Di sekolah biasa hanya 8 jam, di Sekolah Rakyat 24 jam. Maka pembiasaan, keasramaan, mentoring spiritual sangat penting. Bahkan ada yang tidak mau pulang karena ingin meringankan beban orangtua dan rindu belajar,” ungkapnya, menyoroti pendekatan holistik. Dukungan dari dunia usaha juga krusial. Lastri menyebut PT IPU yang menyediakan ‘dispenser unlimited’ dan jurnalis yang datang mengajar jurnalistik. Uniknya, anak-anak juga diajak mengenal batik ciprat sebagai media ekspresi emosi. “Batik yang diciprat anak yang sedang rindu, sedih, atau gembira itu beda. Itu bagian dari vokasional dan terapi emosional,” imbuhnya. Ini membuktikan bahwa pendidikan bisa lebih dari sekadar buku dan kelas!

Dengan segala inovasinya, Sekolah Rakyat dirancang sebagai miniatur pengentasan kemiskinan terpadu, dengan pendekatan yang benar-benar holistik dan berkelanjutan. Saat ini sudah ada 70 Sekolah Rakyat yang beroperasi, dan Gus Ipul optimis target 100 titik yang memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) akan tercapai pada 15 Agustus. Ini adalah komitmen serius untuk masa depan bangsa. Gus Ipul berharap penyelenggaraan dan tata kelola Sekolah Rakyat terus diperkuat untuk memastikan program yang digagas Presiden Prabowo ini sukses besar. “Siswa-siswa sudah mulai beradaptasi bahkan mulai nyaman dengan berbagai jadwal. Semoga ke depan tata kelola kita semakin baik dan bisa memenuhi seluruh kekurangan untuk mendukung visi Presiden,” tutupnya. Ini adalah bukti bahwa dengan niat dan kerja keras, perubahan besar itu nyata! Kemensos melalui program Sekolah Rakyat ini sedang menulis ulang kisah hidup ribuan anak di Indonesia.
Bagaimana menurutmu, apakah program Sekolah Rakyat ini adalah terobosan yang paling ditunggu untuk masa depan pendidikan Indonesia? Yuk, bagikan artikel ini agar lebih banyak lagi yang tahu kisah inspiratif ini!









Leave a Comment