
Sains Indonesia – , Jakarta – Polisi telah mengumumkan hasil penyelidikan kasus kematian diplomat Kementerian Luar Negeri Arya Daru Pangayunan, 29 Juli 2025. Berdasarkan hasil otopsi psikologi forensik, polisi menyatakan Arya Daru diduga menderita burnout.
Burnout adalah kondisi kelelahan ekstrem yang muncul saat seseorang merasa kewalahan secara terus-menerus. Menurut WebMD, kondisi ini disebabkan oleh kelelahan emosional, fisik, dan mental berkepanjangan akibat tuntutan sehari-hari baik dalam pekerjaan maupun urusan keluarga, yang sering kali membuat seseorang mengesampingkan waktu istirahat. Meskipun identik dengan pekerjaan, burnout dapat timbul dari berbagai aspek kehidupan dan berdampak serius pada kesehatan.
Burnout sering kali dipicu oleh stres tetapi keduanya adalah hal yang berbeda. Stres umumnya timbul dari tekanan yang terlalu besar, baik secara mental maupun fisik. Sebaliknya, burnout lebih mengarah pada perasaan “kekurangan” (kekurangan motivasi, kepedulian, dan emosi). Jika stres membuat seseorang merasa kewalahan oleh berbagai tuntutan, burnout membuat seseorang merasa terkuras habis dan kosong.
Gejala Burnout
Menurut Healthline, mengenali burnout dapat dimulai dengan memahami beberapa gejala kuncinya yang tidak hanya memengaruhi emosi tetapi juga kondisi fisik dan perilaku seseorang.
1. Kelelahan Ekstrem
Merasa terkuras habis secara fisik dan emosional. Gejala ini bisa disertai keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, serta perubahan nafsu makan atau pola tidur.
2. Isolasi Sosial
Cenderung menarik diri dari lingkungan pertemanan dan keluarga karena merasa sangat kewalahan. Penderita berhenti bersosialisasi atau menceritakan masalahnya kepada orang lain.
3. Iritabilitas (Mudah Marah)
Menjadi lebih mudah marah atau kehilangan kesabaran, bahkan untuk hal-hal kecil. Stresor harian seperti tugas pekerjaan atau urusan rumah tangga terasa sangat membebani.
4. Fantasi untuk Melarikan Diri
Sering berkhayal untuk pergi jauh atau kabur dari situasi saat ini sebagai cara lari dari tekanan. Dalam kasus ekstrem, ini dapat berkembang menjadi pelarian ke alkohol, obat-obatan, atau makanan.
5. Rentan Sakit
Sistem kekebalan tubuh menurun akibat stres berkepanjangan, sehingga lebih mudah terserang penyakit seperti pilek atau flu. Jika tidak ditangani, burnout dapat memicu atau memperburuk kondisi kesehatan mental lain, terutama depresi dan gangguan kecemasan.
Cara Mengatasi Burnout
Seperti dikutip dari laman WebMD, burnout berkembang secara bertahap akibat stres yang tidak terkelola. Namun, setelah mengenali gejalanya, ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil untuk mengatasinya.
1. Praktikkan mindfulness
Latih fokus pada kondisi internal untuk mengenali perasaan yang sedang dialami. Cara ini membantu seseorang lebih sadar ketika rasa kewalahan muncul, sehingga bisa segera mengambil jeda.
2. Prioritaskan tidur yang cukup
Pastikan waktu tidur berkualitas tercukupi, karena kurang tidur akibat cemas dapat memperparah kondisi burnout.
3. Lakukan aktivitas relaksasi
Cobalah kegiatan seperti yoga, meditasi, atau tai chi untuk membantu melepaskan ketegangan fisik yang menumpuk di tubuh akibat stres.
4. Berkomunikasi dengan atasan
Jika situasi di tempat kerja memungkinkan, bicarakan secara terbuka mengenai perasaan dan beban kerja untuk mencari solusi bersama demi lingkungan kerja yang lebih sehat.
5. Cari dukungan sosial dan profesional
Andalkan dukungan dari rekan kerja tepercaya, teman, dan keluarga. Selain itu, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan terapis untuk mendapatkan bimbingan profesional dan ruang yang aman dalam mengelola dampak burnout.
Pilihan Editor: 12 Tahapan Terjadinya Burnout









Leave a Comment