Sains Indonesia – , Jakarta – Siapa sangka, di tengah hiruk pikuk berita, Kabupaten Rokan Hilir di Riau justru jadi ‘juara’ dalam daftar lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbanyak! Ya, wilayah ini kini menjadi sorotan utama, memicu kekhawatiran serius akan bencana asap yang mengancam. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bahkan mencatat rekor ini, dan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, tak tinggal diam, ia langsung terjun ke lokasi, memperlihatkan betapa gawatnya situasi ini.
Hanif tak main-main. Dalam pernyataannya pada Rabu, 22 Juli 2025, ia menegaskan perlunya peningkatan intensitas pemadaman api yang lebih gila-gilaan. Targetnya jelas: karhutla di Rokan Hilir harus tuntas secepat kilat, sebelum semuanya makin parah!
Tim gabungan pun tak tinggal diam. Mereka kini menyisir habis area-area ‘neraka’ yang rawan terbakar, mulai dari Kecamatan Bangko Pusako, Kubu, Kubu Babussalam, Simpang Kanan, hingga Pasir Limau Kapas. Ironisnya, biang keladi di balik amukan api ini adalah lahan gambut yang sudah kering kerontang dan nyaris tanpa sumber air. Pantas saja api sulit dipadamkan!
Data dari KLH sungguh mencengangkan: titik api mayoritas muncul di hutan produksi dan hutan produksi terbatas yang memang sangat rentan. Bayangkan, tim gabungan yang terdiri dari KLH, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), aparat, dan regulator daerah menemukan 354 titik panas di Rokan Hilir! Dan per 20 Juli 2025, 9 titik api aktif masih berkobar, siap melalap lebih banyak lahan.
Berbagai upaya keras dikerahkan untuk ‘melawan’ si jago merah. Baik dari udara maupun darat, pemadaman api terus digencarkan. Bayangkan saja, hingga pertengahan Juli 2025, sudah ada 594 sesi penerbangan yang menjatuhkan 2,37 juta liter air! Tak hanya itu, sejak 21 Juli, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan di Riau, berharap bisa ‘mengundang’ hujan dan menekan laju penyebaran api.
Hanif pun tak henti menyerukan. “Kami akan terus berkoordinasi dengan semua pihak untuk mengakhiri munculnya bahaya asap di Rokan Hilir,” ujarnya. Ia menambahkan, “Cukup sudah bencana karhutla yang sedang terjadi ini!” Sebuah seruan yang menusuk, mengisyaratkan keputusasaan dan harapan agar tragedi ini segera berakhir.
Ini bukan lagi tanggung jawab satu pihak. Hanif meminta seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat aktif, bahu-membahu menangani kebakaran lahan ini. Baginya, penanganan karhutla bukan cuma masalah api, tapi jadi prioritas utama dalam menciptakan tata kelola lingkungan hidup yang adil, berkelanjutan, dan responsif. Sebuah visi besar yang harus segera diwujudkan demi masa depan bumi kita!
Singkatnya, Kabupaten Rokan Hilir kini menghadapi krisis lingkungan yang parah akibat karhutla. Dengan puluhan bahkan ratusan titik panas dan lahan gambut yang terus terbakar, situasi ini menuntut perhatian serius dari kita semua. Apakah kita akan membiarkan asap terus mengepung dan merusak masa depan? Atau kita akan bersatu, mendukung upaya pemadaman, dan memastikan bencana ini tak terulang lagi? Bagikan artikel ini agar lebih banyak mata terbuka dan hati tergerak! Apa pendapatmu tentang situasi di Rokan Hilir? Mari diskusikan di kolom komentar!









Leave a Comment