
Sains Indonesia – , Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menetapkan 29 tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan total luas area terdampak 213 hektare.
“Lonjakan titik api dan luasan kebakaran yang masif hanya dalam waktu singkat mengindikasikan adanya kelemahan dalam sistem pengawasan lapangan dan masih rendahnya kepatuhan terhadap larangan pembakaran lahan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 22 Juli 2025.
Hanif mengatakan kondisi karhutla ini tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa. Para tersangka diduga melakukan tindak pidana di wilayah berbeda-beda, tujuh orang di Kampar, lima orang di Rokan Hilir, lima orang di Indragiri Hulu, tiga orang di Kuantan Singingi, tiga orang di Rokan Hulu. Kemudian masing-masing satu tersangka dari Pelalawan, Inhil, Dumai, dan Pekanbaru.
Penyidik menyita barang bukti meliputi cangkul, parang, korek api, kayu bekas terbakar, hingga jeriken bahan bakar. Kebakaran ini banyak terjadi di lahan gambut, kawasan hutan produksi terbatas, dan di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo.
Jumlah 29 tersangka itu bagian dari total 35 laporan kasus karhutla sejak Januari hingga Juli 2025. Sejak awal tahun hingga sekarang tercatat 44 orang tersangka dengan luas lahan terdampak seluruhnya 269 hektare.
Hanif mengingatkan bahwa pelaku individu maupun korporasi akan ditindak secara pidana dan administratif. “Saya menegaskan bahwa pembakaran lahan dalam bentuk apa pun adalah pelanggaran hukum berat yang akan ditindak tanpa kompromi,” tuturnya.
Menurut catatan KLH, jumlah titik panas di Provinsi Riau hingga tanggal 20 Juli sebanyak 790 yang di antaranya 27 titik api aktif. Dalam waktu 24 jam lahan terbakar meluas dari 546 hektare menjadi 1.000 hektare.
Titik api yang saling berdekatan diduga karena adanya pola berulang pembakaran sengaja yang terorganisasi. Situasi ini mengancam kesehatan masyarakat, mengganggu kualitas udara, dan merusak komitmen Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim. “Kolaborasi antarsektor adalah kunci. Mari bersama kita hentikan pembakaran lahan sebelum api menghentikan kehidupan kita,” katanya.
Saat ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedang melakukan modifikasi cuaca di Riau. Operasi yang berlangsung sejak 21 Juli hingga tujuh hari ke depan ini juga melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta para pemangku kepentingan lainnya.
Pilihan Editor: BMKG Prediksi Jabodetabek Dominan Cerah Berawan









Leave a Comment