Kisah Malik, Siswa yang Gagal Masuk Akmil, tapi Lolos Akpol dan Dapat Adhi Makayasa

Admin Utama

July 24, 2025

3
Min Read

Sains Indonesia – Kegagalan tak membuat langkah Ipda Muhammad Malik Aditya Kurniawan mundur. Keinginannya menjadi abdi negara telah terukir lama.

Ia pernah gagal masuk Akademi Militer (Akmil), tapi ia justru berhasil lolos menjadi taruna Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 2025.

Malik membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Pria kelahiran tahun 2002 itu kini dinobatkan sebagai lulusan terbaik Akpol dan berhak menerima penghargaan Adhi Makayasa dalam Upacara Prasetya Perwira (Praspa) TNI-Polri di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/7/2025).

Adhi Makayasa adalah adalah penghargaan tertinggi bagi para taruna TNI dan Polri yang mengemban pendidikan di instansi pendidikan TNI seperti Akmil, AAU, dan Politeknik AAL, serta instansi pendidikan milik Polri yaitu Akpol. Para Letda dan Ipda yang mendapatkan penghargaan, dinilai berprestasi dalam. Aspek akademik, jasmani, mental kepribadian, dan karakter.

Baca juga: Kisah Amadeo Yesa CoC, Raih Nilai UTBK Tertinggi se-Indonesia

Dalam upacara tersebut, Malik mendapat kehormatan penyematan pangkat perwira pertama langsung dari Presiden RI, Prabowo Subianto.

Alumnus Tarnus yang Gagal Masuk Akmil

Malik tercatat merupakan alumnus SMA Taruna Nusantara (Tarnus). Tak hanya pintar secara akademis, ia juga tercacat pernah menjadi wakil sekolahnya dalam pertandingan basket.

Pria asal Jember, Jawa Timur ini juga tercatat pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) pada tahun 2019.

Malik pernah mengikuti seleksi Akmil. Bahkan sampai tingkat pusat. Seleksi itu ia lakukan pada tahun 2020.

“Pada tahun 2020 saya mendaftar di Akademi Militer hingga sampai tes pusat. Namun, di situ karena bukan rezeki saya, saya gagal. Dan kemudian di tahun selanjutnya saya mendaftar di Akademi Kepolisian mengikuti jejak kakek saya sebagai seorang polisi,” kata Malik saat ditemui seusai pelantikan, dikutip dari Kompas.com pada Rabu (23/7/2025).

Baca juga: Kisah Gevin Mahasiswa PKN STAN Ikut CoC, Nilai SKD 481 dan IPK 3,90

Ternyata tak mau berhenti sampai situ saja,ia langsung memilih mendaftar Akpol. Keputusan ini sangat tepat, karena melalui Akpol inilah ia mendapatkan penghargaan terbaiknya.

Empat tahun menjalani pendidikan sebagai taruna polisi, Malik berhasil menorehkan prestasi puncak di antara ratusan rekan seangkatannya.

Malik tercatat punya nilai tinggi pada tiga kategori. Penghargaan Akpol. Pertama, Ati Tanggon Perak yaitu sebuah penghargaan yang diberikan kepada taruna yang menunjukkan keteladanan dan disiplin yang tinggi. Ia mendapat posisi terbaik kedua aspek karakter.

Lalu, pada kategori Ati Trengginas untuk ketangguhan fisik dan mental, ia mendapatkan posisi terbaik ketiga. Serta Wira Cendekia untuk prestasi akademik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3.5.

Perjalanan Penuh Tantangan Malik mengakui bahwa menjadi lulusan terbaik tidaklah mudah. Selama masa pendidikan, ia menghadapi berbagai tantangan, baik fisik maupun mental.

“Semua dapat lewat karena saya memiliki support dan dukungan yang luar biasa, baik itu dari pimpinan-pimpinan di Akademi Kepolisian sendiri, pengasuh, kedua orangtua saya, dan keluarga saya. Dan tentunya rekan-rekan saya seangkatan maupun senior dan junior,” ujarnya.

Baca juga: Kisah Gwen Peserta CoC, Pernah Bela Persija dan Timnas Putri

Ia bersyukur karena pendidikan di Akpol bersifat gratis sehingga tidak membebani secara ekonomi. Seluruh proses pendidikan ditanggung negara.

Malik mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo juga memberikan pesan khusus kepada para lulusan terbaik. “Kalau untuk pesan dari Bapak Presiden sendiri, bahwa jadilah perwira yang dapat menjadi contoh dan teladan bagi anggotanya,” kata Malik.

Pada upacara kali ini, sebanyak 2.000 perwira TNI-Polri dari empat matra resmi dilantik. Baca juga: Cerita Penerima Adhi Makayasa, Sempat Gagal Masuk Akmil Berujung Jadi Lulusan Terbaik Akpol Mereka berasal dari Akademi Militer (827 orang), Akademi Angkatan Laut (433 orang), Akademi Angkatan Udara (293 orang), dan Akademi Kepolisian (447 orang).

Leave a Comment

Related Post