JOMBANG, Jawa Timur – Pagi itu, Jombang dihebohkan oleh sebuah kisah yang bikin hati terenyuh sekaligus miris. Bagaimana tidak, tiga santri belia dari sebuah pesantren di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, nekat mengambil langkah ekstrem: kabur dari lingkungan pondok yang seharusnya menjadi rumah kedua mereka. Bukan tanpa alasan, ternyata mereka sudah tak tahan lagi dengan perundungan alias bullying yang tiada henti dari kakak kelas mereka!
Beruntung, upaya pelarian yang penuh drama ini berhasil diredam oleh kesigapan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Jombang. Reza Maulana, seorang petugas Damkar Pos Mojoagung, menceritakan detik-detik penyelamatan yang heroik ini. Ketiga santri, yakni AFD (12) dan AH (10) dari Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, serta MK (12) dari Sooko, Kabupaten Mojokerto, ditemukan setelah menaiki becak dan berhenti di area taman RTH Mojoagung.
Kisah ini terkuak setelah Damkar menerima laporan dari masyarakat sekitar taman RTH Mojoagung pada Selasa pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Tanpa membuang waktu, Reza bersama timnya langsung mendatangi lokasi. Dengan pendekatan yang persuasif, mereka berhasil mengajak ketiga santri untuk berbincang dan membawa mereka ke pos Damkar Mojoagung yang lokasinya tak jauh dari taman.
Di pos Damkar inilah, curahan hati pilu para santri akhirnya terungkap. Dengan mata berkaca-kaca, mereka menceritakan alasan di balik niat nekat mereka untuk meninggalkan pesantren. Reza mengungkapkan bahwa mereka merasa sangat tertekan dan tidak nyaman karena sering menjadi korban perundungan oleh para senior. “Mereka meninggalkan pondok menuju RTH Mojoagung dengan naik becak. Katanya mereka sering dibully sama kakak kelasnya,” tutur Reza.
Bentuk bullying yang dialami pun beragam, mulai dari disuruh-suruh seenaknya hingga ancaman fisik. “Mereka sering disuruh-suruh, kalau menolak, mereka diancam akan dipukul,” jelas Reza. Situasi inilah yang membuat suasana belajar dan hidup di pesantren menjadi mencekam bagi ketiganya, mendorong mereka untuk mencari jalan keluar, meskipun harus kabur.
Mendengar cerita yang mengiris hati itu, Reza dan petugas Damkar Mojoagung tak hanya sekadar mendengarkan. Mereka memberikan edukasi, menenangkan ketiga santri, dan berusaha keras meyakinkan mereka bahwa ada solusi lain selain melarikan diri. Setelah melalui perbincangan yang cukup panjang dan penuh empati, ketiga santri tersebut akhirnya setuju untuk kembali ke pesantren.
“Setelah mereka tenang dan bisa memahami situasinya, kami hubungi pengurus pesantren. Mereka sudah dijemput untuk kembali ke pondok,” kata Reza, lega karena misi penyelamatan berhasil. Insiden ini menjadi pengingat penting bagi kita semua: bahwa lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, haruslah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap santri, bebas dari ancaman perundungan dan kekerasan.
Kisah tiga santri Jombang ini membuka mata kita betapa seriusnya masalah bullying di berbagai lingkungan, bahkan di tempat yang dianggap suci sekalipun. Ini bukan hanya tanggung jawab pihak pesantren, tapi kita semua sebagai masyarakat untuk ikut menciptakan lingkungan yang bebas dari intimidasi. Apa pendapat Anda tentang fenomena bullying di lingkungan pendidikan seperti ini? Mari berbagi pandangan dan sebarkan kisah ini agar semakin banyak yang peduli!









Leave a Comment