Kasus Chromebook Mencuat! Nadiem Makarim: “Saya…”

Admin Utama

June 13, 2025

3
Min Read

Sains IndonesiaJakarta – Laptop Chromebook jadi skandal? Mantan Mendikbud Nadiem Makarim akhirnya buka suara! Konferensi pers yang digelar pada Selasa, 10 Juni 2025, di Jakarta Selatan ini jadi ajang klarifikasi Nadiem soal dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook tahun 2020. Didampingi pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, Nadiem mencoba memadamkan api yang mulai membesar. Apa saja pembelaannya?

1. Bantah Monopoli: Persaingan Sehat atau Akal-akalan?

Nadiem dengan tegas membantah adanya praktik monopoli dalam proyek pengadaan laptop Chromebook. Katanya, semua perusahaan calon penyedia barang sudah bersaing secara sehat. Tapi, benarkah demikian?

Nadiem menjelaskan bahwa pengadaan laptop di Kemendikbud saat itu dilakukan melalui E-Katalog, tujuannya agar diawasi langsung oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). “Proses pengadaan ini menggunakan jalur yang paling mengurangi potensi konflik kepentingan,” tegas Nadiem, Selasa, 10 Juni 2025.

Hotman Paris Hutapea menambahkan bahwa harga barang di E-Katalog sangat transparan dan tidak diatur oleh Kementerian. Transparan? Tapi, kok isu korupsi tetap mencuat?

2. Learning Loss: Alasan Klasik atau Solusi Jitu?

Nadiem berdalih pengadaan laptop ini adalah untuk mencegah *learning loss* alias hilangnya pembelajaran selama pandemi COVID-19 di tahun 2020.

“Kemendikbudristek harus melakukan mitigasi secepat dan seefektif mungkin agar bahaya *learning loss* bisa kami tekan,” ujarnya. Mitigasi atau justru cari untung?

Pengadaan 1,1 juta unit laptop, modem 3G, dan proyektor untuk lebih dari 77 ribu sekolah dalam 4 tahun jadi langkah konkret. Nadiem mengklaim laptop ini bukan cuma buat belajar jarak jauh, tapi juga meningkatkan kompetensi guru dan pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK). Tapi, efektifkah semua ini?

3. Bukan untuk Daerah 3T: Prioritas yang Salah Sasaran?

Nadiem menekankan bahwa laptop Chromebook ini ditujukan untuk sekolah di daerah yang punya akses internet, bukan untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Uji coba Chromebook di daerah 3T juga tidak dilakukan di masanya. Lalu, bagaimana nasib anak-anak di daerah 3T?

“Kemendikbudristek membuat kajian komprehensif, tapi targetnya itu bukan daerah 3T dan di dalam juknis sangat jelas hanya boleh diberikan kepada sekolah yang punya internet,” imbuhnya. Jadi, siapa yang diuntungkan sebenarnya?

4. Chromebook: Murah dan Aman? Atau Murahan?

Nadiem mengklaim pemilihan Chromebook sudah melalui kajian mendalam. Katanya, dari sisi harga, Chromebook selalu 10–30 persen lebih murah dengan spesifikasi yang sama.

Selain itu, sistem operasi Chrome gratis, sementara yang lain berbayar. Ada juga fungsi kontrol aplikasi untuk melindungi murid dari konten negatif. Tapi, apakah ini alasan yang cukup kuat? Apakah kualitas Chromebook sebanding dengan harganya?

5. Siap Diperiksa Kejagung: Gentar atau Bersih?

Nadiem menyatakan kesiapannya untuk diperiksa Kejaksaan Agung. “Saya siap bekerja sama dan mendukung aparat penegak hukum dengan memberikan keterangan atau klarifikasi,” ujarnya.

Hotman Paris juga menegaskan kliennya selalu patuh pada proses hukum. “Dia siap setiap waktu untuk diperiksa, dia sudah bilang tadi kooperatif,” kata Hotman. Apakah ini tanda-tanda Nadiem merasa terancam? Atau memang tidak ada yang disembunyikan?

Vedro Imanuel dan Intan Setiawanty berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Nadiem sudah memberikan klarifikasi. Tapi, apakah semua keraguan sudah terjawab? Apakah pengadaan laptop Chromebook ini benar-benar bersih dari korupsi? Atau ada udang di balik batu?

Yuk, berikan pendapatmu di kolom komentar! Jangan lupa share artikel ini ke teman-temanmu!

Leave a Comment

Related Post