Iran Blokir Akses IAEA, AS Murka! Apa yang Disembunyikan Rezim?

Admin Utama

June 30, 2025

4
Min Read

Sains Indonesia – , Jakarta – Geger! Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, meluapkan kemarahannya! Pemicunya? Dugaan seruan untuk menangkap bahkan mengeksekusi Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Mariano Grossi, di Iran. Tak hanya itu, pelarangan Grossi memasuki Iran juga bikin geram Washington, disebut tak bisa diterima dan harus dikutuk keras.

Kekesalan Rubio ini muncul setelah seorang wakil ketua parlemen Iran, Hamid Reza Haji Babaei, mengeluarkan ancaman serius. Babaei tak hanya melarang Grossi, tapi juga mencabut pengawasan dari fasilitas nuklir Iran! Menurut laporan Mehr, Babaei menuduh Israel telah mencuri “data fasilitas yang sensitif” dari situs-situs penting tersebut. Rubio pun menegaskan dukungannya terhadap upaya verifikasi dan pemantauan IAEA di Iran, memuji profesionalisme Grossi dan lembaganya. “Kami meminta Iran untuk menjamin keselamatan dan keamanan bagi personel IAEA,” tulis Rubio di postingan X, seperti dilansir dari Fox News.

Situasi makin panas! Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan dengan tegas bahwa negaranya tidak akan memberi izin kepada kepala IAEA, Rafael Mariano Grossi, untuk menginjakkan kaki di wilayah Iran. Lebih ekstrem lagi, pemasangan kamera pengawas di fasilitas nuklir mereka juga dilarang keras. “Kami tidak akan mengizinkan IAEA memasang kamera di fasilitas nuklir kami, dan Grossi dilarang memasuki Iran,” kata Araghchi pada Sabtu, 28 Juni 2025, seperti dikutip dari kantor berita IRNA.

Larangan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan badan pengawas nuklir PBB, terutama terkait akses pemantauan dan transparansi. Apalagi, belakangan ini Iran baru saja diguncang oleh serangan militer terbaru dari Israel dan Amerika Serikat. Langkah drastis ini juga diambil setelah parlemen Iran pada Rabu lalu menyetujui undang-undang yang secara resmi menghentikan kerja sama dengan IAEA. Araghchi bahkan mengakui bahwa pengeboman AS dan Israel baru-baru ini menyebabkan kerusakan “berlebihan dan serius” pada situs nuklir Iran.

Meski begitu, peringatan dari Grossi tak kalah bikin merinding. Ia memprediksi bahwa Iran sangat mungkin akan kembali melanjutkan produksi pengayaan uranium hanya dalam hitungan bulan! Langkah ini, menurut Grossi, akan dilakukan pasca serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. “Mereka dapat memiliki… dalam hitungan bulan, menurut saya, beberapa rangkaian sentrifus berputar dan memproduksi uranium yang diperkaya, atau kurang dari itu,” kata Grossi dalam wawancara yang dirilis Sabtu, 28 Juni 2025, oleh CBS News AS, dikutip dari Anadolu.

Grossi menjelaskan bahwa serangan AS memang meninggalkan kerusakan parah, tapi tidak sampai hancur total. Menurutnya, Iran punya kapasitas industri dan teknologi yang kuat. “Jadi jika mereka menginginkannya, mereka akan dapat mulai melakukan ini lagi,” tegasnya. Pada 22 Juni lalu, Amerika Serikat diketahui menjatuhkan enam bom penghancur bunker di fasilitas nuklir Fordo dan meluncurkan puluhan serangan rudal jelajah di lokasi Natanz dan Isfahan. Itu adalah bagian dari kampanye mereka melawan program nuklir Iran. Menariknya, setelah serangan itu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis laporan yang menyebut program nuklir Iran hanya mengalami kemunduran beberapa bulan, bukan “dihancurkan” seperti klaim awal AS.

Grossi sendiri mengakui bahwa Iran “memiliki program ambisius yang sangat besar.” Bahkan jika sebagian programnya hancur, “pengetahuan itu ada,” ujarnya. “Kapasitas industrinya ada. Iran adalah negara yang sangat canggih dalam hal teknologi nuklir, seperti yang terlihat jelas. Jadi Anda tidak dapat menyangkal hal ini.” Belum lagi, IAEA menemukan jejak uranium yang tidak dapat dijelaskan di situs yang tidak dideklarasikan di Iran, tanpa ada jawaban kredibel mengenai asal atau lokasinya. Grossi juga berkomentar tentang isu pemindahan persediaan uranium yang diperkaya hingga 60 persen milik Iran, sebanyak 408,6 kilogram, yang bisa menghasilkan lebih dari sembilan bom nuklir jika dimurnikan lebih lanjut. “Beberapa bisa saja dihancurkan sebagai bagian dari serangan itu, tetapi beberapa bisa saja dipindahkan. Jadi harus ada klarifikasi pada suatu saat nanti,” ucapnya, menekankan pentingnya inspektur IAEA untuk segera melanjutkan pekerjaan mereka.

Semua ini adalah puncak dari konflik sengit selama 12 hari antara Israel dan Iran yang meletus pada 13 Juni. Saat itu, Israel melancarkan serangan udara ke lokasi militer, nuklir, dan sipil Iran, menewaskan sedikitnya 606 orang dan melukai 5.332 orang menurut Kementerian Kesehatan Iran. Sebagai balasan, Teheran pun tak tinggal diam, meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak balasan ke Israel, menewaskan sedikitnya 29 orang dan melukai lebih dari 3.400 orang, berdasarkan data Hebrew University, Yerusalem. Konflik berdarah ini akhirnya terhenti di bawah gencatan senjata yang disponsori AS dan berlaku sejak 24 Juni lalu.

Situasi di Timur Tengah kian memanas, dan program nuklir Iran kembali menjadi sorotan dunia. Bagaimana menurut Anda, akankah ketegangan ini memicu konflik yang lebih besar, atau adakah harapan perdamaian? Bagikan artikel ini agar lebih banyak yang tahu dan ikut berdiskusi!

Leave a Comment

Related Post