
jpnn.com, JAKARTA PUSAT – Pernahkah Anda bertanya-tanya, apa sih rahasia sebuah bangsa bisa tetap jaya dan makmur di tengah gempuran zaman? Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), baru-baru ini membongkar jawabannya dalam sebuah forum diskusi panas! Bukan cuma itu, ia juga meluncurkan buku barunya yang dijamin bikin Anda makin sadar pentingnya etika dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sabtu (21/6) malam itu, suasana di ajang Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara (FDABB) yang digelar di Islamic Book Fair (IBF), JCC Senayan, Jakarta, begitu meriah. Semua mata tertuju pada HNW yang tak hanya hadir sebagai pembicara kunci, tapi juga memperkenalkan karya terbarunya, “Negara Sejahtera Berlandaskan Etika”. Sebuah judul yang langsung memicu rasa penasaran: memangnya, apa hubungannya etika dengan kesejahteraan?
Diskusi yang mengusung tema senada dengan judul buku ini menghadirkan sederet narasumber kondang dari berbagai latar belakang. Ada Menteri Ketenagakerjaan RI Prof. Yassrierli, Anggota MPR RI Sohibul Iman dan Kurniasih Mufidayati, Anggota Dewan Pers Asep Setiawan, hingga Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia. Mereka semua ikut mengupas tuntas mengapa etika itu adalah pondasi mutlak bagi eksistensi sebuah bangsa.
HNW, sapaan akrab Hidayat Nur Wahid, tanpa basa-basi menekankan satu hal fundamental: nilai etika adalah kunci utama untuk menjaga bangsa dan negara tetap berdiri kokoh. Ia bahkan mengutip pujangga kenamaan asal Mesir, Syawqi Bey, yang pernah berujar: “Suatu bangsa hanya akan tetap eksis selama etika masih dijunjung tinggi.”
“Eksistensi umat dan bangsa tergantung dari eksisnya etika. Kalau etikanya tidak lagi ada, maka bangsa juga tidak akan eksis,” tegas politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini dalam forum tersebut. Sebuah pernyataan yang mungkin terdengar klise, tapi sungguh menusuk sanubari melihat realitas hari ini.
Lantas, apa hubungannya etika dengan ideologi negara kita? HNW dengan gamblang menjelaskan bahwa etika bukanlah sekadar nilai abstrak, melainkan prinsip fundamental yang tertanam kuat dalam jantung ideologi bangsa, yaitu Pancasila. Ia menyebut sila pertama—Ketuhanan Yang Maha Esa—sebagai landasan utama dalam membangun etika kehidupan berbangsa. Ini bukan hanya simbol, lho, tapi harus jadi pedoman hidup nyata!
Pancasila Harus Jadi Pedoman Hidup Nyata, Bukan Hanya Simbol
Tak berhenti di situ, HNW juga mengajak kita semua untuk mengembalikan elan vital Pancasila dengan mengingat kembali makna pembukaan UUD 1945. Di sana jelas ditegaskan cita-cita luhur Indonesia sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Menurutnya, pencapaian kesejahteraan umum mustahil terwujud tanpa pondasi etik yang kokoh.
Mengembalikan Elan Vital Pancasila
“Negara ini, dibentuk tidak hanya untuk melindungi segenap bangsa dan mencerdaskan kehidupan, tetapi juga untuk mewujudkan kesejahteraan umum itu. Demikian ketentuan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 45,” imbuhnya. Ia juga mengingatkan bahwa tujuan akhir dari ber-Pancasila adalah hadirnya kesejahteraan berkeadilan, sebagaimana termaktub dalam paruh akhir alinea ke-4 Pembukaan UUD 45: “untuk mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.” Ini adalah sila ke-5 dari Pancasila, yang merupakan kesatuan tak terpisahkan dari pemahaman dan pengamalan sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menjadi rujukan bangsa dan negara dalam beretika.
Dalam konteks ini, Hidayat Nur Wahid menggarisbawahi pentingnya sosialisasi kembali TAP MPR No. VI Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang menurutnya masih sangat relevan hingga kini. Sebuah pesan yang sangat penting di tengah riuhnya dinamika sosial-politik kita.
Buku yang diluncurkannya menjadi refleksi tajam atas kondisi bangsa saat ini. HNW melihat sering kali terjadi anomali atau ketidaksesuaian antara nilai etika yang sudah disepakati secara prinsip dan ideologi bangsa dengan realitas di lapangan. Miris, bukan?
“Buku ini hadir sebagai pengingat, bahwa negara yang ingin hadirkan kesejahteraan bagi warganya haruslah berlandaskan etika. Namun sayangnya di lapangan, realitasnya tidak selalu seperti itu,” terang HNW. Ia berharap, berbagai rujukan ideologi dan ketentuan berbangsa dan bernegara serta cita-cita mulia kemerdekaan Indonesia, dapat mengatasi dinamika yang ada, dan akhirnya mengingatkan semua pihak pada komitmen beretika dengan menjalankan dan menaati kesepakatan bersama sebagai Bangsa dan Negara.
Forum ini adalah bagian dari komitmen MPR RI untuk terus menguatkan kembali pemahaman berkonstitusi serta praktik nilai-nilai kebangsaan melalui pendekatan etis dan religius, sesuai Pancasila dan Pembukaan UUD NRI 1945. Hal ini semakin diperlukan, apalagi di tengah berbagai gejolak dan dinamika sosial-politik yang terus berkembang, agar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita tetap jaya dan perkasa menyongsong Indonesia Emas 2045!
Jadi, sudahkah etika menjadi pedoman hidup Anda dan bangsa ini? Pesan HNW ini jelas: etika bukan sekadar wacana, tapi fondasi kokoh untuk Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan. Menurut Anda, seberapa penting etika dalam membangun bangsa kita? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar dan mari sebarkan pesan inspiratif ini agar semakin banyak yang sadar! Jangan lupa dibagikan ke teman-teman ya!









Leave a Comment