Geger! Super League Kacau Balau: Malaysia Lebih Parah Soal Pemain Asing?

Admin Utama

July 10, 2025

4
Min Read

Sains Indonesia Keputusan PT Liga Indonesia Baru (LIB) soal perubahan regulasi pemain asing di Super League 2025/2026 menimbulkan perdebatan.

Geger! Sepak bola Indonesia sedang di ambang revolusi sekaligus kontroversi panas! Bayangkan, klub-klub kasta tertinggi tanah air, yang kini resmi berubah nama dari Liga 1 menjadi Super League, bakal diizinkan mendaftarkan hingga 11 pemain asing di daftar skuad mereka! Sebuah lonjakan drastis dari musim lalu yang “hanya” delapan. Ini bukan isapan jempol, keputusan ini sah setelah gelaran Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Senin (7/7/2025) kemarin.

Perubahan nama kompetisi juga berlaku untuk kasta kedua. Jika sebelumnya dikenal sebagai Liga 2, kini resmi menyandang nama baru: Championship. Terdengar lebih megah, bukan?

Direktur Utama PT LIB, Ferry Paulus, menjelaskan bahwa regulasi “pemain asing membanjir” ini adalah murni kesepakatan semua tim. Harapannya satu: tim-tim Super League bisa makin tancap gas dan bersaing di kancah Asia. “Kemarin kalau kita lihat memang 8 yang daftar dan 6 yang main. Klub merasa bahwa seperti nanggung begitu. Apalagi kami punya keinginan bahwa sangat perlu tampil di Asia. Makanya yang bisa didaftarkan jadi 11,” jelas Ferry Paulus optimistis.

Liga 1 Berubah Nama Jadi Super League, Liga 2 Jadi Championship

Meski begitu, Ferry Paulus menjamin pemain lokal tidak akan terpinggirkan sepenuhnya. Nantinya, dari 11 pemain asing yang terdaftar, tim tetap hanya diperbolehkan memasukkan delapan nama ke daftar susunan pemain (DSP) tiap laga. Dan delapan pemain asing itu juga yang bisa langsung main di lapangan. “Musim depan pemain asing adalah delapan yang main. Kemudian di DSP tetap delapan. Tapi klub bisa mendaftarkan menjadi 11,” tegasnya.

Namun, kebijakan “invasi” pemain asing ini sontak mendapat kritikan pedas! Salah satu suara paling lantang datang dari Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI). Mereka bahkan sudah menghitung, ada sekitar 198 pemain lokal yang terancam jadi pengangguran atau terpaksa turun kasta jika 18 tim Super League memaksimalkan kuota pemain asing ini. Mirisnya lagi, APPI juga menyayangkan PT LIB yang “main putus” tanpa melibatkan para pemain dalam diskusi.

“Kami sangat menyayangkan bahwa regulasi yang akan secara langsung berimbas terhadap kehidupan para pemain diambil tanpa adanya komunikasi dan diskusi terlebih dahulu dengan para pemain,” jelas APPI. Mereka menambahkan, survei yang dilakukan menunjukkan mayoritas pemain Liga 1 merasa keberatan. Alasannya jelas, menit bermain mereka bakal berkurang drastis, sementara di Indonesia, kompetisi profesional yang bergulir ya cuma satu itu.

Lalu, bagaimana dengan negara tetangga kita? Ternyata, kondisi di Liga Super Malaysia punya cerita yang lebih “gila” soal pemain asing! Badan Liga Sepak Bola Malaysia (MFL) juga merestrukturisasi aturan, namun dengan pendekatan berbeda. Jumlah pemain asing yang bisa didaftarkan klub mereka tetap berjumlah 15, jauh lebih banyak dari aturan baru liga Indonesia. Tapi ada tapinya, untuk jumlah pemain asing yang bermain di lapangan justru dibatasi atau dikurangi dari tujuh menjadi enam! Ini dia bedanya!

“Berdasarkan regulasi terbaru, kuota pemain asing yang diizinkan bermain adalah 6 ditambah 3 cadangan,” tulis laporan Sinarharian.com.my. “Sebelumnya, format yang digunakan adalah 7 ditambah 2 cadangan.” MFL menegaskan bahwa pembatasan pemain impor di lapangan ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan dan memberikan lebih banyak ruang bagi pemain lokal untuk menonjol. Meski mengakui pemain asing bisa meningkatkan kualitas, pengembangan pemain lokal tetap jadi fokus utama demi tim nasional Malaysia, Harimau Malaya.

MALAYSIA

Sebelumnya:

Kuota 15 pemain asing

Hanya 9 yang masuk DSP, 7 bermain, 2 cadangan

Sekarang:

Kuota 15 pemain asing

Hanya 9 yang masuk DSP, 6 bermain, 3 cadangan

INDONESIA

Sebelumnya:

Kuota 8 pemain asing

8 bisa masuk DSP, 6 bermain, 2 cadangan

Sekarang:

Kuota 11 pemain asing

Hanya 8 yang masuk DSP, 8 bisa bermain

Jadi, di satu sisi sepak bola Indonesia ingin tampil garang di Asia dengan kuota pemain asing yang lebih besar, namun di sisi lain, APPI sudah berteriak soal nasib ratusan pemain lokal yang terancam. Sementara Malaysia, dengan kuota daftar yang lebih banyak, justru membatasi jumlah pemain asing di lapangan demi pemain lokal mereka. Sebuah dilema klasik antara ambisi dan pemerataan kesempatan. Kebijakan ini jelas akan mengubah wajah Super League musim depan. Akankah ini jadi berkah atau malah jadi bumerang bagi sepak bola Indonesia?

Bagaimana menurut kamu? Apakah ini keputusan terbaik untuk kemajuan sepak bola Indonesia atau justru mengancam masa depan talenta lokal? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar dan sebarkan artikel ini agar lebih banyak yang tahu dan ikut berdiskusi!

Leave a Comment

Related Post