DPR Beberkan Kendala Basarnas Cari Korban Kapal Tenggelam di Selat Bali

Admin Utama

July 7, 2025

3
Min Read

Sains Indonesia – Jakarta – Sebuah fakta mengejutkan terungkap di kompleks parlemen hari ini, Senin, 7 Juli 2025! Di tengah duka dan perjuangan mencari korban kapal motor penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali, Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) ternyata menghadapi kendala yang bikin geleng-geleng kepala. Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat, Lasarus, blak-blak-an menyoroti masalah krusial ini dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR. Siap-siap terkejut, karena masalahnya bukan main-main!

Menurut Lasarus, salah satu ‘dosa’ besar yang terungkap adalah Basarnas ternyata belum memiliki alat sonar yang memadai untuk menemukan titik pasti di mana sebuah kapal tenggelam. Bayangkan, di negara maritim seperti Indonesia, kemampuan dasar ini justru jadi kendala utama dalam operasi pencarian korban kapal tenggelam! Lasarus menyebutkan, alat yang ada saat ini hanya mampu mendeteksi keberadaan korban terperangkap di dalam kapal yang sudah ditemukan, tapi bukan mencari lokasi bangkai kapal itu sendiri. Betapa mirisnya, bukan?

Tak berhenti di situ, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini juga menyoroti masalah lain yang tak kalah krusial: sumber daya manusia. Ternyata, Basarnas juga kekurangan operator handal untuk mengoperasikan alat-alat canggih. “Kita harus pinjam tenaga dari luar,” ungkap Lasarus, membuat kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin negara sebesar ini masih bergantung pada bantuan asing untuk hal sepenting ini? Ini menunjukkan bahwa problem Basarnas bukan hanya soal alat, tapi juga SDM yang mumpuni.

Melihat urgensi ini, Lasarus pun mendesak Basarnas agar mengutamakan alokasi anggaran untuk pengadaan alat-alat canggih penunjang pencarian korban kapal tenggelam. Apalagi, dengan dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, potensi terjadinya bencana di laut sangatlah besar. “Pembahasan anggaran tentu kami upayakan ini bisa menjadi prioritas dari Basarnas untuk dianggarkan di tahun 2026 yang akan datang,” tegasnya. Semoga saja DPR dan Basarnas benar-benar serius mewujudkannya!

Insiden tragis tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya sendiri terjadi pada Rabu, 2 Juli 2025, saat kapal tersebut dalam perjalanan dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kapal nahas ini mengangkut total 53 penumpang, 12 anak buah kapal, dan 22 unit kendaraan. Dari data terakhir, 30 orang penumpang berhasil selamat (21 di Ketapang, 9 di Gilimanuk), dan 7 orang ditemukan meninggal dunia. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah, 28 orang penumpang lainnya masih dalam pencarian tim Basarnas hingga saat ini!

Fokus utama pencarian korban saat ini adalah di perairan Selat Bali, membentang dari utara hingga selatan. Tiga tim penyelamat udara (SRU udara) dan tim SRU darat di sepanjang pantai Ketapang dan Gilimanuk juga dikerahkan dalam operasi SAR gabungan ini. Sebuah harapan muncul pada Sabtu, 5 Juli 2025, ketika tim SAR gabungan dari Dinas Navigasi Kementerian Perhubungan menemukan sebuah objek di dasar laut pada kedalaman 40-60 meter, sekitar 800 meter dari titik awal kapal tenggelam. Objek ini diduga kuat adalah bangkai KMP Tunu Pratama Jaya.

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengerahkan total 600 personel tim SAR, termasuk 10 penyelamat ahli bawah air, serta 18 unit kapal untuk misi pencarian korban KMP Tunu Pratama Jaya. Ia juga menambahkan bahwa TNI Angkatan Laut dan kepolisian siap memperkuat tim dengan kemampuan khusus mereka. Ini menunjukkan betapa masifnya upaya yang telah dilakukan, namun keterbatasan alat tetap menjadi bayang-bayang.

Terungkapnya kendala serius Basarnas dalam memiliki alat sonar yang canggih dan operator handal untuk pencarian kapal tenggelam, terutama pasca tragedi KMP Tunu Pratama Jaya, harus menjadi alarm bagi kita semua. Indonesia, sebagai negara maritim, wajib memiliki kemampuan terbaik untuk menyelamatkan warganya di laut. Desakan DPR untuk memprioritaskan anggaran Basarnas di tahun 2026 adalah langkah awal yang sangat penting.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah pemerintah harus segera merespons kebutuhan mendesak Basarnas ini? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar dan bantu sebarkan informasi penting ini agar lebih banyak pihak sadar akan kondisi Basarnas kita!

Leave a Comment

Related Post