Dokter Ajaib Ini Satu-satunya yang Kuasai Rahasia Anti-Bisa Ular di Indonesia!

Admin Utama

July 21, 2025

11
Min Read

Kisah Pilu Rafa: Bocah 11 Tahun Berjuang Melawan Maut Setelah Digigit Ular Weling, Akhirnya Meninggal Dunia!

Kabar duka menyelimuti Pekalongan. Rafa, seorang bocah berusia 11 tahun, yang telah sebulan penuh berjuang melawan keganasan bisa ular weling, akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 20 Juli 2025. Ia meninggal dunia saat masih dalam perawatan intensif di RSUP Dr Kariadi Kota Semarang, Jawa Tengah. Insiden tragis ini terjadi dini hari pada 16 Juni 2025, saat Rafa tengah terlelap tidur.

Menurut Imam Maliki, kuasa hukum keluarga Rafa, peristiwa mengerikan itu bermula sekitar pukul 04.00 WIB. “Ibunya kaget, karena ular melewatinya, kemudian ular menggigit anaknya,” kata Imam kepada Detik.com. Belakangan diketahui, ular yang menggigit Rafa adalah ular weling, yang diduga jatuh dari plafon rumah.

Kisah Rafa ini serupa dengan pengalaman mengerikan yang dialami Nurul Hidayah, warga Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Nurul juga digigit ular saat sedang tidur pulas, sekitar pukul 22.30 malam. Terkejut, ia langsung memanggil saudaranya untuk menyingkirkan ular belang tersebut. Ular itu bisa jadi ular welang atau ular weling, keduanya berbisa dan banyak ditemukan di Jawa. Perbedaannya mudah dikenali: welang punya corak belang hitam kuning, sedangkan weling hitam putih. Oleh keluarga Nurul, ular itu tak dibunuh, hanya disingkirkan ke luar rumah.

Yang mengejutkan, Nurul tak merasakan sakit sedikit pun setelah gigitan itu, bahkan bisa kembali tidur. Namun, pada pukul 02.30 dini hari, ia merasakan sekujur tubuhnya tak enak. Gigitan ular weling atau welang memang terkadang sulit divisualisasikan, demikian menurut buku Pedoman Penanganan Gigitan, Sengatan Hewan Berbisa Dan Keracunan Tumbuhan serta Jamur dari Kementerian Kesehatan tahun 2023. “Saya bangunin kakak saya, kok rasanya begini,” kenangnya. Setelah itu, semuanya gelap. Nurul tak sadarkan diri selama 4 hari, dirawat di ICU selama 13 hari, dan dipindah kamar selama 26 hari. Meski belum sembuh total, ia dibawa pulang dari Rumah Sakit Kertosono. “Tapi sebetulnya masih belum sembuh, masih tremor (gemetar) dan sering kejang,” katanya. Dua minggu di rumah, ia harus kembali dirawat karena kambuh. Seminggu kemudian, ia diperbolehkan rawat jalan.

Enam bulan berlalu, dan Nurul mengaku kondisinya tak pernah kembali normal. Jantungnya kerap berdebar-debar. Terakhir diperiksa, tekanan darahnya 101/77 dengan denyut jantung 120. Ia juga kesulitan duduk, berjalan, dan harus menggunakan kursi roda. “Saya bingung dan akhirnya bekam, malah lebih parah, saya ingin cari obat dan cepat sembuh, harapannya seperti itu. Ini sudah tidak punya apa-apa, dijual untuk pengobatan. Saya ingin cepat sembuh, anak juga masih kecil-kecil,” pungkas Nurul pilu.

Ular Berbisa dan Statistik Kematian yang Mengerikan

Kisah Nurul hanyalah satu dari 135.000 kasus gigitan ular per tahun di Indonesia. Yang lebih mencengangkan, 10% di antaranya berujung pada kematian. Jumlah ini bahkan diperkirakan jauh lebih tinggi, karena banyak kasus gigitan ular yang tidak tercatat, entah karena korban berobat ke dukun atau meninggal di rumah tanpa penanganan medis. “Datanya kacau balau di sini… data kita tidak valid,” ungkap dokter Tri Maharani, satu-satunya dokter di Indonesia yang punya keahlian khusus di bidang racun bisa ular.

Coba saja ketik “gigitan ular berbisa” di mesin pencari dan saring kategori berita, Anda pasti akan menemukan banyak korban gigitan ular hanya dalam hitungan hari atau minggu terakhir. Akhir Juni lalu, seorang warga Subang, Jawa Barat, ditemukan meninggal di tepi empang setelah digigit ular untuk keempat kalinya. Sejak awal tahun, setidaknya empat warga Suku Badui juga meninggal dunia akibat gigitan ular saat membuka ladang pertanian, dari 36 korban lainnya. Ketua Sahabat Relawan Indonesia (SRI) Muhammad Arif Kirdiat melaporkan: “Kami melaporkan sejak Januari sampai 22 Mei 2025, tercatat 36 warga Suku Badui Dalam dan Badui Luar yang menjadi korban gigitan ular tanah dan empat di antaranya meninggal dunia.” Beruntung, RSUD Banten memiliki serum ABU (antibisa ular) untuk penanganan cepat.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahunnya 5,4 juta orang tergigit ular, dengan 2,7 juta kasus gigitan ular berbisa. Angka kematian global berkisar antara 80.000 hingga 140.000 kasus. Ironisnya, gigitan ular ini digolongkan sebagai ‘masalah kesehatan masyarakat yang terabaikan’ (neglected public health issue), yang juga sering menyebabkan amputasi atau disabilitas permanen. Kebanyakan korbannya adalah pekerja pertanian dan anak-anak.

Berapa Banyak Ular Berbisa di Indonesia?

Para ahli memperkirakan ada 3.700 hingga 4.000 spesies ular di dunia, dan sekitar 10% atau 349 spesies di antaranya hidup di Indonesia, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dari jumlah itu, hanya 77 jenis saja yang berbisa! Secara umum, ular di Indonesia terbagi dua: tipe Asia (Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara) dan tipe Australia (Maluku, Papua).

Namun, Amir Hamidy, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, mengakui tidak semua jenis ular memiliki karakter yang khas dan 100% dapat dikenali. Ular berkembang biak dengan sangat baik di Indonesia karena iklim tropis yang hangat dan lembab. Beberapa menghuni hutan lebat, sementara yang lain, disebut Amir sebagai “secondary forest”, dan ada spesies yang sangat perlu diantisipasi: ular yang sudah beradaptasi dengan lingkungan manusia, seperti ular kobra Jawa.

Konflik Ular dan Manusia: Mengapa Jawa Pusatnya?

Konflik ular-manusia di Indonesia tidak bisa disamaratakan. Meskipun Sumatra punya 157 spesies (hampir separuh total di Indonesia) dan wilayah Papua serta Maluku punya lebih banyak spesies berbisa, pusat konflik justru ada di Jawa. “Karena di Indonesia ini hampir 60% penduduknya terkonsentrasi di Jawa. Jadi otomatis Jawa itu menjadi pusat potensi konflik terbesar terhadap ular berbisa,” jelas Amir Hamidy. Di Jawa, dari seluruh spesies ular darat, hanya 5% atau sekitar 13 jenis saja yang berbisa. Sisanya 95% aman bagi manusia. Tiga spesies yang paling sering terlibat konflik adalah kobra Jawa, ular tanah, dan welang.

Bisakah Kita Hidup Berdampingan dengan Si Melata?

Manusia dan ular sebenarnya sudah lama hidup berdampingan. Ular, misalnya, adalah “sahabat” petani yang membantu mengendalikan hama tikus di sawah. Bahkan ketika sawah berubah menjadi pemukiman dan jalan beton, ular tetap setia mengikuti manusia. “Katakanlah di Jakarta. Jakarta itu kurang apa padat apa? Padat penduduknya. Ular yang paling banyak apa? Kobra. Dan kobra itu bisa hidup di situ,” kata Amir, menambahkan bahwa ular beradaptasi karena makanan mereka juga tersedia di ekosistem kota. “Kita sadar mereka nggak akan menghilang. Mereka habitatnya juga di situ.” Yang bisa kita lakukan adalah berbagi ruang dan mengenali risikonya.

Ular berbisa rata-rata aktif di malam hari, mengikuti aktivitas tikus. Jadi, secara ekologi, waktu aktif mereka berbeda dengan manusia. Jarang ada kasus orang digigit king kobra secara alami; biasanya terjadi pada mereka yang memeliharanya. “Kalau ular tanah… memang paling banyak kejadian. Ular tanah itu berdiam saja di situ, dan mirip dengan daun, sehingga terinjak (baru mengigit),” jelas Amir.

Bagaimana Menghindari Risiko dan Racun Ular?

Gigitan ular bisa terjadi kapan saja, tapi mayoritas serangan terjadi malam hari. Meningkatkan kewaspadaan di malam hari bisa meminimalkan risiko. “Ular weling itu kan juga ada di sekitar kita, ya? Dan dia hidup malam hari. Dia bisanya sangat tinggi neurotoksinnya dan sangat cepat efeknya untuk melumpuhkan saraf.” Upaya lain adalah menghindari tidur di lantai. Memelihara hewan seperti kucing dan anjing juga bisa menjadi “alarm”. Yang paling penting, kita harus mengenali ular berbisa. “Sebenarnya mengenali ular yang berbisa itu jauh lebih mudah daripada mengenali ular yang tidak berbisa. Karena (ular) yang berbisa ya hanya itu-itu saja,” kata Amir Hamidy.

Berikut ciri-ciri umum ular berbisa (disarikan dari Amir Hamidy):

  • Bentuk kepala: Ular berbisa umumnya berkepala segitiga, sementara yang tidak berbisa berkepala oval.
  • Warna mencolok: Meskipun tidak selalu, ular berbisa cenderung memiliki warna yang mencolok.
  • Sisik: Kelompok ular berbisa tidak memiliki sisik di depan mata dan di depan hidung langsung menempel.
  • Taring: Ular berbisa memiliki taring di mulutnya, sebagian tersembunyi karena terlipat, sebagian tidak.

Mengenali pusat kesehatan terdekat juga sangat krusial. WHO menyarankan dua langkah cepat dan efektif: tidak menggerakkan bagian tubuh yang tergigit dan segera menuju fasilitas kesehatan terdekat.

Langkah Penanganan Gigitan Ular Berbisa yang Tepat

Dokter Maharani sering menemukan pertolongan pertama yang keliru akibat literasi yang rendah. “Pada zaman dulu orang yang terkena bisa ular penanganannya dengan disedot, diikat kencang, akhirnya nekrosis, diamputasi,” katanya. Penanganan yang salah ini tak jarang berujung pada kematian. Padahal, pertolongan pertama yang benar adalah dengan membuat pasien tidak banyak bergerak atau imobilisasi. Banyak bergerak dapat menyebabkan kontraksi otot yang mengaktifkan kelenjar getah bening, sehingga bisa menyebar lebih cepat. Dokter Maharani menekankan bahwa keracunan bisa ular hanya membutuhkan hitungan detik hingga menit untuk berakibat fatal, berbeda dengan kanker atau serangan jantung yang mendapat prioritas lebih tinggi.

Kurangnya Perhatian dan Bukan Prioritas Nasional

Sungguh ironis, dengan 135.000 kasus gigitan ular per tahun dan 10% spesies ular berbisa di dunia ada di Indonesia, penyediaan serum antibisa ular dan rantai pelayanan medis terkait belum menjadi prioritas pemerintah. Penawar racun ular seharusnya disediakan negara untuk warganya. Dokter Maharani adalah satu-satunya ahli toksinologi di Indonesia karena negara belum memandang mendesak pendidikan di bidang ini. Beasiswa dan kesempatan belajar justru banyak didapat di luar negeri. Maharani sendiri berkeinginan membuat pendidikan toksinologi di Indonesia, namun tidak ada dukungan. “Siapa mau riset sendiri, karena tidak dibayar? Sekolah pun saya bayar sendiri. Kurangnya dukungan yang nyata dari institusi negara dan masyarakat, menyebabkan tidak banyak orang yang mau belajar toksinologi,” keluhnya. Sebagai advisor WHO, ia berharap Indonesia mengikuti negara lain yang telah menunjukkan perhatian pada toksinologi.

Bagaimana dokter Tri Maharani menjadi satu-satunya dokter ahli gigitan ular berbisa?

Pada 2010, dokter Tri Maharani pernah menghadapi pasien gigitan ular berbisa. Sebagai dokter umum, ia menyadari ilmunya tidak cukup. Pasien tersebut meninggal karena bisa sudah menyebar. Peristiwa itulah yang mendorongnya mendalami ilmu racun atau toksinologi, mengambil kursus dan sekolah lanjutan di luar negeri dengan biaya pribadi. Pulang dari Belgia pada 2012, Maharani berkeliling Indonesia, menangani pasien, dan mengajari tenaga medis serta instansi gawat darurat. “Ternyata masalahnya kompleks, pertama karena literasi bangsa kita yang kurang, dan kasus keracunan ini belum menjadi prioritas,” kata Maharani kepada jurnalis Petrus Riski. Ia juga memperluas kampanyenya ke komunitas. Di dunia, hanya ada 53 dokter subspesialis toksinologi, dan Dokter Tri Maharani adalah salah satunya, serta satu-satunya di Indonesia.

Ketersediaan Antivenom: Harapan di Tengah Tantangan

Sejak 2014, dokter Maharani sering mengeluarkan uang pribadi untuk membeli antibisa bagi pasiennya, hampir 90% serum ia beli sendiri. Serum tidak bisa dipakai sembarangan; jenis bisa tertentu butuh penawar spesifik. Mendapatkan penawar racun ini tidak mudah, kebanyakan diproduksi di luar negeri seperti Australia dan Thailand. Di Thailand, pengembangan antibisa mendapat dukungan penuh dari Raja, sehingga mereka bisa memproduksi antibisa ular kering yang mudah ditransportasi dan tahan hingga lima tahun di suhu ruangan. Sementara produk Indonesia harus disimpan di suhu empat derajat Celsius, mempersulit transportasi. Pemberian antibisa juga ditentukan oleh jenis ular dan kesesuaian antibisa dengan bisa ular.

Secara umum, antibisa sudah cukup tersedia di puskesmas, kondisi yang jauh lebih baik dari 30 tahun lalu. Indonesia sudah memiliki antibisa untuk tiga spesies ular paling sering menyebabkan gigitan: kobra Jawa, ular tanah, dan welang. Namun, masih ada spesies lain yang antibisanya belum tersedia, seperti weling dan ular hijau. Kabar baiknya, Kementerian Kesehatan kini mengadakan antibisa melalui dana hibah Rp15 miliar per tahun untuk pasien BPJS. Bahkan, pada 2024, Maharani bersama UGM berhasil membuat antibisa baru yang akan diuji coba produksi pada 2025. Ia berharap akan lebih banyak antibisa baru yang diproduksi di dalam negeri.

Buku Pedoman dan Aplikasi Digital untuk Keselamatan Kita

Saat bertugas di Kementerian Kesehatan pada 2019, dokter Maharani ditugaskan membuat buku pedoman penanganan kasus bisa ular, termasuk antisipasi gigitan, APD, pertolongan pertama, obat rekomendasi, hingga jenis ular dan fase korban. Buku ini juga dilengkapi foto-foto penanganan pasien kegawatdaruratan akibat gigitan ular dan hewan berbisa lainnya seperti ubur-ubur, kalajengking, hingga tanaman dan jamur. “Buku itu bisa jadi pedoman, masyarakat juga bisa memakainya, tapi untuk terapi tetap dilakukan oleh nakes atau named,” ujar Maharani.

Untuk sengatan ubur-ubur, cukup beri cuka. Untuk sengatan tawon atau lebah, cukup beri es batu, jangan minyak atau param. “Penanganan-penanganan itu tadi ada semua untuk pertolongan pertama, yang penting setelah itu harus segera menghubungi public safety center untuk kegawatdaruratan, misalnya di Surabaya 112, 119, kalau Jakarta 118,” kata Maharani.

Selain buku pedoman, ada juga aplikasi Virtual Poison Center yang dapat diunduh. Aplikasi ini memberikan petunjuk dan cara penanganan kasus keracunan bisa ular, hewan, serta tumbuhan lain. Murah, mudah diakses, dan dilengkapi kontak ahli serta fasilitas kegawatdaruratan terdekat. “Harapannya bisa segera terintegrasi dengan aplikasi Satu Sehat. Akan memudahkan bila ada bantuan virtual yang bisa diakses banyak orang,” imbuhnya.

Wartawan Petrus Riski di Jawa Timur ikut berkontribusi dalam artikel ini.

Kesimpulan: Waspada dan Segera Bertindak!

Kisah Rafa dan Nurul adalah pengingat betapa berbahayanya gigitan ular berbisa, terutama ular weling yang diam-diam mematikan. Meskipun ular adalah bagian dari ekosistem kita, kesadaran, pengetahuan tentang pencegahan, identifikasi ular, dan penanganan pertama yang tepat sangatlah krusial. Lebih dari itu, kasus gigitan ular di Indonesia perlu menjadi prioritas serius bagi pemerintah, agar tidak ada lagi korban jiwa atau kecacatan permanen yang bisa dihindari. Jangan anggap remeh! Lindungi diri dan orang-orang terdekat dengan pengetahuan. Sudahkah Anda tahu bagaimana langkah darurat yang benar jika ada gigitan ular di sekitar Anda? Bagikan artikel ini agar lebih banyak orang tahu, dan tinggalkan komentar jika Anda punya pengalaman atau pertanyaan tentang topik ini!

Leave a Comment

Related Post