Detik-Detik Terakhir: Video Call Mertayasa ke Istri Sebelum KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam

Admin Utama

July 10, 2025

3
Min Read

Awalnya hanya sebuah panggilan video biasa, obrolan ringan malam itu. Siapa sangka, itu menjadi percakapan terakhir yang menggetarkan jiwa bagi Putu Mertayasa dan istrinya, Kadek Sudiartini. Sebuah tragedi di Selat Bali, saat kapal KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam, merenggut nyawa sopir truk berhati mulia ini. Kisah pilu Putu, korban ke-12 yang ditemukan, kini mengguncang Buleleng.

Rabu malam, sekitar pukul 20.30 Wita, telepon genggam Kadek Sudiartini (38) berdering. Di layar, wajah sang suami, Putu Mertayasa (43), tersenyum. Putu mengabarkan posisinya sedang berhenti di wilayah Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Sebagai seorang sopir, Putu sedang dalam perjalanan jauh dari Kota Surabaya, Jawa Timur, menuju Kota Denpasar, Bali, mengemudikan truk yang penuh muatan besi dan material bangunan. Obrolan sederhana itu berputar pada anak-anak mereka: Ketut Dika Oka Permana yang baru berusia setahun lima bulan, dan Komang Agus Prandika, si sulung sebelas tahun. “Video call tanya anaknya, Ketut dan Komang. Menanyakan kami apa sudah makan,” kenang Kadek dengan pilu. Sebuah video status WhatsApp dari Putu juga sempat Kadek lihat, menampilkan suasana ramai di Pelabuhan Gilimanuk.

Kadek tak memiliki firasat buruk sedikit pun. Biasanya, Putu akan beristirahat dan baru mengabari keesokan paginya saat sudah tiba di tujuan. Namun, kali ini, kabar yang ditunggu tak kunjung datang. Sebaliknya, berita mengerikan mulai beredar: KMP Tunu Pratama Jaya, kapal yang mengangkut suaminya, dikabarkan tenggelam di Selat Bali. Jantung Kadek mencelos. Ia segera menghubungi rekan-rekan sopir Putu untuk memastikan. Setelah mendapat kepastian bahwa Putu memang menyeberang dengan kapal nahas itu, tanpa pikir panjang, Kadek bersama beberapa anggota keluarga langsung bergegas menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, untuk mencari informasi lebih lanjut. Hari-hari pencarian informasi dan penantian menjadi siksaan batin yang tak terperi.

Sepekan lamanya penantian penuh cemas itu akhirnya berakhir. Pada Rabu (9/7/2025) pagi, kabar duka itu tiba. Jenazah Putu Mertayasa ditemukan oleh nelayan di perairan Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Pria asal Desa Anturan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, itu kini tercatat sebagai korban ke-12 tragedi KMP Tunu Pratama Jaya. Kadek pun segera menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk menjemput dan membawa pulang jenazah sang suami ke rumah duka, mengakhiri penantian pilu yang menggantung.

Kisah Putu Mertayasa adalah pengingat betapa rapuhnya hidup dan bagaimana sebuah perjalanan rutin bisa berakhir tragis. Dari sebuah panggilan video penuh kehangatan hingga penemuan jenazah di perairan, keluarga ini kini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok kepala keluarga. Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali bukan hanya angka statistik, tapi meninggalkan luka mendalam bagi keluarga seperti Kadek Sudiartini dan anak-anaknya. Apa pendapatmu tentang kisah pilu Putu ini? Bagikan ceritamu atau berikan dukungan untuk keluarga korban di kolom komentar, dan jangan lupa bagikan artikel ini agar lebih banyak yang tahu.

Leave a Comment

Related Post