JAKARTA, SainsIndonesia.TV – Kabar gembira sekaligus bikin penasaran! Pemerintah baru saja bikin gebrakan soal tarif impor dari Amerika Serikat (AS). Tapi, tunggu dulu, nggak semua barang impor bakal bebas tarif, lho! Ada apa ini?
Pemerintah menegaskan bahwa meskipun Indonesia dan AS sudah sepakat menurunkan tarif untuk sebagian besar komoditas, ada beberapa produk “sensitif” yang tetap akan dikenakan tarif dan pembatasan impor. Siapa saja mereka?
Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menjelaskan dalam keterangan pers bahwa tidak semua produk AS akan menikmati fasilitas nol persen bea masuk.
“Nol persen untuk semua produk, kecuali beberapa yang sedang kita diskusikan untuk tidak ditetapkan nol persen. Mereka sepakat, misalnya minuman alkohol dan daging babi, itu tidak masuk skema tarif 0 persen,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara. Jadi, buat para penggemar bir dan daging babi, siap-siap saja ya!
RI Nggak Mau Kalah, Terus Berjuang Agar Komoditas Unggulan Dapat Tarif 0% di AS!
Dari total 11.552 pos tarif dalam sistem Harmonized System (HS), sekitar 11.474 pos tarif atau 99 persen produk AS akhirnya bisa bernapas lega karena mendapatkan fasilitas bebas bea masuk. Tapi, sisanya? Tetap dibatasi karena alasan sensitivitas budaya, agama, atau pertimbangan strategis nasional. Keputusan yang bijak, bukan?
Ternyata, banyak produk AS yang sebelumnya sudah menikmati tarif 0 persen, bahkan sebelum kesepakatan terbaru antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump ini muncul.
“Kalau tidak salah, dari sekitar 1.482 pos tarif produk AS yang masuk ke Indonesia, lebih dari 40 persen sudah dikenai tarif 0 persen sebelumnya,” imbuh Susiwijono.
Liberalisasi Tarif: Indonesia Ikut Arus?
Susiwijono menambahkan bahwa kebijakan perdagangan global saat ini memang mengarah pada liberalisasi tarif, melalui berbagai perjanjian perdagangan bebas (FTA) maupun kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA). Indonesia pun aktif terlibat dalam perjanjian seperti ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), di mana hampir semua produk dari negara mitra masuk tanpa tarif.
Ekonom Ingatkan: Jangan Cepat Puas!
Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, mengingatkan pemerintah untuk tidak terlalu cepat berpuas diri dengan penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen oleh AS. Menurutnya, Indonesia masih punya peluang untuk mendapatkan tarif yang lebih rendah jika negosiasi terus dilakukan secara agresif.
“Saya percaya, kita bisa turun ke 15 persen. Lihat Vietnam, dari 46 persen ke 20 persen, sementara kita dari 32 persen ke 19 persen. Kalau Pak Prabowo telepon Trump lagi, saya yakin masih bisa ditekan,” kata Wijayanto kepada Kompas.tv, Kamis (17/7/2025).
Namun, ia menyoroti komitmen pembelian 50 unit pesawat Boeing 777 yang dianggapnya kurang relevan. “Boeing 777 itu pesawat model lama, tidak efisien, dan kalah jauh dibanding Boeing 787. Garuda saat ini lebih butuh pesawat narrow body seperti 737 untuk rute-rute pendek dan menengah,” jelasnya.
Menurutnya, kesepakatan Indonesia-AS ini sementara bisa disebut win-win, tetapi hasil akhirnya akan bergantung pada bagaimana Indonesia bisa menjaga daya saing ekspor dibandingkan negara-negara lain seperti Vietnam, Malaysia, Tiongkok, dan Thailand.
“Ini bukan hanya tentang relasi dagang Indonesia dan AS. Tapi ini soal persaingan kita merebut pasar Amerika melawan negara-negara dengan struktur ekspor mirip,” tegas Wijayanto.
Ia juga meminta pemerintah lebih transparan dalam menyampaikan rincian isi kesepakatan, termasuk produk mana yang mendapatkan perlakuan khusus dan komitmen pembelian apa saja yang telah disepakati.
Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah kesepakatan ini benar-benar menguntungkan Indonesia? Jangan ragu untuk berbagi pendapatmu di kolom komentar dan bagikan artikel ini ke teman-temanmu!









Leave a Comment