BI Rate Turun Lagi, Perry: Kami Sudah All Out Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Admin Utama

July 16, 2025

3
Min Read

Sains Indonesia – , Jakarta – Bayangkan, Bank Indonesia (BI) sudah turun tangan habis-habisan! Gubernur Perry Warjiyo bahkan menegaskan mereka all out dan sudah mengerahkan segalanya untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Suku bunga acuan BI Rate dipangkas dari 5,50% jadi 5,25%, suku bunga deposit facility juga dipangkas ke 4,5%, dan suku bunga lending facility ke 6%. Bahkan, BI juga menyuntikkan likuiditas jumbo mencapai Rp 376 triliun ke perbankan! Tapi, kok anehnya pertumbuhan kredit bank malah melambat? Apa yang sebenarnya terjadi?

Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu, 16 Juli 2025, secara gamblang menyebut, “Bank Indonesia sudah all out untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk juga mendorong kredit pembiayaan perbankan.” Ia merinci upaya BI tak cuma soal penurunan suku bunga, tapi juga meningkatkan likuiditas melalui operasi moneter dan menstabilkan nilai tukar rupiah. Ini adalah bukti nyata komitmen BI untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.

Tak main-main, insentif likuiditas makroprudensial yang digelontorkan BI sangat masif. Hingga minggu pertama Juli 2025, total dana segar yang disalurkan sudah mencapai Rp 376 triliun. Angka ini terbagi ke berbagai jenis bank: Rp 167,1 triliun untuk bank BUMN, Rp 166,7 triliun untuk bank umum swasta nasional (BUSN), Rp 36,8 triliun bagi bank pembangunan daerah (BPD), dan sisanya Rp 5,8 triliun masuk ke kantor cabang bank asing. Dana sebesar ini seharusnya bisa jadi pendorong utama kredit perbankan.

Namun, di sinilah paradoksnya. Alih-alih melesat, pertumbuhan kredit perbankan justru menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Pada Juni 2025, angka pertumbuhan kredit hanya menyentuh 7,77 persen secara tahunan, turun drastis dari 8,43 persen di bulan Mei 2025. Angka-angka ini tentu bikin kening berkerut. Perry Warjiyo pun mencoba membedah persoalan ini dari dua sisi krusial: penawaran dan permintaan.

Dari sisi penawaran, ada fenomena menarik: bank-bank cenderung terlalu berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Padahal, Dana Pihak Ketiga (DPK) atau dana tabungan masyarakat yang terkumpul di bank justru tumbuh lumayan, yakni 6,96 persen secara tahunan pada Juni 2025. Perry blak-blakan mengatakan, “Permasalahannya adalah preferensi bank yang lebih suka menaruh preferensi alat likuid pada surat-surat berharga dan terlalu berhati-hati dalam mendorong kredit.” Jadi, dananya ada, tapi bank-bank ogah menggelontorkannya ke sektor riil untuk memicu pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, dari sisi permintaan, tidak semua sektor ekonomi menunjukkan geliat yang tinggi. Perry mengidentifikasi bahwa sektor-sektor yang paling banyak menyerap kredit sebagian besar adalah yang berorientasi ekspor. Ia menambahkan, “Berdasarkan sektor, kredit sektor perdagangan, pertanian, dan jasa dunia usaha perlu ditingkatkan untuk mendukung pembiayaan ekonomi.” Artinya, perlu dorongan lebih lanjut agar sektor-sektor vital ini berani mengambil kredit dan menggerakkan roda bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih merata.

Jadi, meski Bank Indonesia sudah jungkir balik dengan segala jurus moneter dan insentif likuiditas triliunan rupiah, pekerjaan rumah besar masih menanti. Kredit perbankan perlu lebih berani disalurkan, dan sektor-sektor ekonomi non-ekspor juga harus didorong agar minat berinvestasi dan berbisnis meningkat. Pertanyaannya, apakah kita akan melihat perubahan signifikan dalam waktu dekat? Bagaimana menurut Anda, langkah apa lagi yang perlu diambil agar kredit perbankan benar-benar jadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi? Yuk, bagikan pendapat Anda dan sebarkan informasi penting ini agar lebih banyak yang tahu!

Leave a Comment

Related Post