
Penulis: Kasra Naji/BBC Indonesia
Serangan Udara Israel di Teheran: Kisah Nyata dari Dalam Ibu Kota yang Terkepung!
Bayangkan: sirene berbunyi, langit dipenuhi pesawat tempur, dan ketakutan mencengkeram setiap jantung. Inilah realita yang dialami seorang jurnalis BBC di Teheran, Iran, saat Israel melancarkan serangan udara beruntun. Lewat sambungan WhatsApp yang putus-putus, ia berbagi kisah mencekam tentang kehidupan di bawah bayang-bayang bom. “Apa yang akan terjadi? Apa yang harus kami lakukan?” tanyanya dengan suara gemetar. Pernyataan Presiden Trump agar warga Teheran mengungsi pun menambah kepanikan. Benarkah situasi ini seburuk yang dibayangkan?
Serangan beruntun dimulai Kamis (12/6/2025) malam. Pesawat tempur Israel membombardir Teheran, disambut tembakan anti-pesawat Iran yang sebagian besar tak efektif. Dari apartemennya di gedung tinggi, sang jurnalis menyaksikan langsung kengerian di depan mata. Militer Israel memerintahkan evakuasi di distrik tempat tinggalnya, namun ia memilih bertahan. Tidak ada target militer dekat apartemennya, katanya, namun ia khawatir dengan sebuah unit komersial di dekatnya yang diduga milik Korps Garda Revolusi Iran—sebuah target potensial yang aktivitasnya selalu dirahasiakan.
Kehidupan di Teheran berubah drastis. Listrik dan air masih tersedia di sebagian besar kota, namun pasokan makanan menipis. Toko-toko tutup, termasuk toko roti—karena kekurangan bahan baku atau karena pemiliknya mengungsi. Ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, warga telah mengungsi, meninggalkan jalanan Teheran yang biasanya padat menjadi sunyi dan mencekam. Mereka yang bertahan di rumah hampir tak berani keluar karena takut serangan. Bahkan antrean panjang di SPBU mulai berkurang, menandakan arus pengungsian yang semakin besar.
Ancaman radioaktif juga membayangi warga yang tinggal dekat fasilitas nuklir Iran, yang menjadi target berulang serangan Israel. Meskipun Badan Pengawas Nuklir Internasional menyatakan tingkat radioaktivitas di luar dua lokasi yang diserang pada Jumat (13/6/2025) tidak berubah, kekhawatiran tetap ada. Ke mana semua ini akan berujung? Berapa lama serangan ini akan berlangsung? Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui setiap warga Iran.
Di tengah kepungan informasi, warga Iran bergantung pada saluran TV berbahasa Persia luar negeri, termasuk BBC Persia, yang situs webnya mengalami lonjakan trafik dari dalam Iran—walaupun koneksi internet sangat lambat. Trump menyerukan penyerahan Iran, namun Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menolak.
Situasi di Teheran saat ini adalah gambaran nyata dari ketegangan geopolitik yang ekstrem. Kehidupan sehari-hari berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup, di tengah ketidakpastian dan rasa takut yang mendalam. Kisah jurnalis BBC ini hanyalah satu dari sekian banyak cerita tentang penderitaan rakyat Iran.
Apa pendapat Anda tentang situasi ini? Bagaimana menurut Anda masa depan Teheran? Bagikan pendapat Anda dan jangan lupa untuk berbagi artikel ini!









Leave a Comment