
PADA Senin, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif pada 14 negara, berkisar antara 25 hingga 40 persen. Negara-negara yang menjadi target termasuk sekutu dekat AS seperti Jepang dan Korea Selatan, serta Laos, Myanmar, Bangladesh, Kamboja, Tunisia, Afrika Selatan, Malaysia, Kazakhstan, Thailand, Indonesia, Serbia, dan Bosnia dan Herzegovina. Indonesia dikenakan tarif 35 persen.
Daftar ini belum selesai. Pemerintahan Trump diperkirakan akan mengumumkan pengenaan tarif baru pada lebih banyak negara. Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent, Minggu, mengatakan tarif baru tersebut akan mulai berlaku pada 1 Agustus.
Mengapa Trump Mengumumkan Tarif Baru Sekarang?
Dilansir Axios, selama dua bulan terakhir, indikator ekonomi, kinerja pasar, dan perkembangan kebijakan sebagian besar mendukung agenda presiden. Prediksi penurunan ekonomi dan kekacauan pasar belum menjadi kenyataan, membuat para kritikus tampak kurang kredibel untuk sementara waktu. Lingkungan yang positif ini telah mendorong Trump untuk bertindak sesuai preferensinya yang telah lama ada untuk hambatan perdagangan yang tegas.
Pada 2 April, Pengumuman “Hari Pembebasan” Trump tentang tarif di semua negara di seluruh dunia membuat pasar bergejolak. Trump mengalah – untuk sementara – dengan mengumumkan penghentian tarif yang lebih tinggi selama 90 hari, sementara memberlakukan pungutan dasar 10 persen pada semua mitra dagang.
Hanya tiga bulan yang lalu, pasar keuangan anjlok, peringatan resesi meluas, para pengecer khawatir rak-rak kosong, dan masa depan reformasi pajak utama Partai Republik tidak pasti. Saat ini, kondisi di AS sudah membaik, dengan tingkat pengangguran yang membaik, inflasi untuk April dan Mei berada di bawah ekspektasi, dan pasar saham mendekati level tertinggi sepanjang masa.
Meskipun terjadi gangguan akibat perang dagang yang kadang-kadang terjadi, para pengecer berhasil menjaga ketersediaan barang impor dengan harga stabil. Hal ini disebabkan oleh kombinasi penimbunan barang sebelum tarif berlaku dan pemasok yang menanggung sebagian besar biaya tarif.
Apakah Tarif Baru Akan Memperbaiki Manufaktur AS?
Selain bertujuan mengurangi defisit perdagangan, Trump berargumen bahwa tarif impor akan menghidupkan kembali sektor manufaktur Amerika Serikat dan melindungi lapangan pekerjaan domestik. Ia meyakini bahwa tarif tersebut akan mendorong konsumen AS untuk lebih memilih produk buatan dalam negeri, meningkatkan penerimaan pajak, serta merangsang investasi di Amerika Serikat, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Namun, kondisi manufaktur di AS saat ini menghadapi tantangan yang kompleks. Pada kuartal pertama 2025, sektor manufaktur memberikan kontribusi sebesar $2,9 triliun (sekitar Rp47 kuadriliun) terhadap perekonomian AS, naik 0,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Manufaktur menjadikan sektor terbesar keempat setelah keuangan, layanan profesional, dan pemerintah.
Meski demikian, pangsa manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah menurun drastis dari lebih 25 persen pada 1970-an menjadi sekitar 9,7 persen pada 2024. Penurunan ini mencerminkan hilangnya banyak elemen penting dalam ekosistem manufaktur, seperti tenaga kerja terampil, dukungan pemerintah yang memadai, dan kemajuan teknologi.
Dalam upaya menghidupkan kembali industri tersebut, Trump mengumumkan investasi sebesar $14 miliar pada 30 Mei 2025, yang memfasilitasi kemitraan antara US Steel dan Nippon Steel dengan harapan menciptakan 70.000 lapangan kerja. Pemerintahannya juga menyoroti investasi dari produsen mobil, perusahaan teknologi, dan produsen cokelat sebagai tanda kebangkitan manufaktur di AS.
Para ahli memperingatkan bahwa mengembalikan manufaktur AS ke masa kejayaannya bukanlah tugas mudah. Penurunan pangsa manufaktur dalam perekonomian dan hilangnya komponen kunci dalam rantai nilai manufaktur menunjukkan bahwa sektor ini masih harus menghadapi berbagai kendala struktural dan kompetitif.
Berapa Jumlah Pekerja di Sektor Manufaktur AS?
Berdasarkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS, pada Juni 2025 terdapat sekitar 12,75 juta orang yang bekerja di sektor manufaktur di Amerika Serikat. Jika dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya, jumlah pekerja di sektor ini meningkat. Pada Juni 2020, jumlah pekerja manufaktur tercatat sekitar 11,95 juta orang.
Walaupun ada kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pekerjaan di sektor manufaktur saat ini masih jauh di bawah puncaknya. Pada akhir 1970-an, hampir 20 juta orang bekerja di sektor manufaktur, menunjukkan adanya penurunan jangka panjang kontribusi sektor ini terhadap lapangan kerja di AS.
Pada Mei, jumlah lowongan pekerjaan di sektor manufaktur AS naik menjadi 414.000, meningkat dari 392.000 pada bulan April. Namun, jumlah perekrutan aktual justru menurun, yang menandakan adanya ketidakpastian di pasar tenaga kerja, terutama terkait kebijakan tarif dari pemerintahan Trump.
Bagaimana Perbandingan dengan Negara Lain?
Jika dibandingkan dengan negara lain, Amerika Serikat mengalami penurunan pangsa dalam manufaktur global. Pesaing utamanya, Cina, kini menjadi negara manufaktur terbesar di dunia berdasarkan nilai tambah, menyumbang $4,8 triliun (sekitar Rp77 kuadriliun) terhadap PDB global melalui sektor manufaktur pada tahun 2022. Pada tahun yang sama, AS menempati posisi kedua dengan nilai tambah manufaktur sebesar $2,7 triliun (sekitar Rp43 kuadriliun).
Meskipun demikian, AS masih menjadi pemain utama dalam manufaktur global dan mampu menambahkan nilai manufaktur yang lebih besar daripada gabungan negara-negara terbesar ketiga, keempat, kelima, dan keenam. Uniknya, AS melakukan hal ini dengan jumlah pekerja yang jauh lebih sedikit dibandingkan para pesaing utamanya.
Apakah Pasar AS Optimistis dengan Tarif Baru Trump?
Menurut Axios, ekonomi AS sangat luas dan multifaset. Ini berarti bisnis membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan perdagangan yang luas yang diberlakukan dan diantisipasi pada 2025. Trump telah menunjukkan kesediaannya untuk menunda atau memodifikasi tarif ketika dampak ekonomi terlihat jelas, seperti yang terlihat dalam penyesuaian yang dilakukan pada 9 April, 12 Mei, dan baru-baru ini.
Fleksibilitas ini telah membantu mencegah skenario ekonomi terburuk yang diprediksi awal tahun ini.
Selasa lalu, Trump mengumumkan potensi tarif sebesar 50 persen untuk tembaga dan hingga 200 persen untuk produk farmasi. Namun, ancaman ini berdampak langsung minimal terhadap harga saham, suku bunga, atau nilai dolar, menurut kepala ekonom RSM, Joe Brusuelas.
Brusuelas mencatat bahwa meskipun tarif Trump tetap menjadi risiko bagi pertumbuhan ekonomi, laba perusahaan, dan harga komoditas, investor saat ini tidak yakin langkah-langkah ini akan menghambat perekonomian pada levelnya saat ini.
Pilihan Editor: Trump Terapkan Tarif Impor AS Buat Negara-negara Asia: Myanmar hingga Jepang Kena Dampak









Leave a Comment