Ancaman Iran Bikin Trump Gemetar! Selat Hormuz Tertutup, Perang Minyak Mengerikan?

Admin Utama

June 23, 2025

3
Min Read

Geger! Dunia baru saja dibuat tegang dengan seruan eksplosif Donald Trump yang meminta pengeboran minyak besar-besaran di Amerika Serikat, dan itu harus dilakukan SEKARANG JUGA! Bukan tanpa alasan, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital perdagangan minyak dunia, menjadi pemicu utamanya. Apakah ini sinyal perang energi akan segera memanas?

Mantan Presiden AS itu melontarkan perintah tegas ini melalui akun pribadinya di Truth Social pada Senin (23/6) malam waktu Indonesia. “Kepada Departemen Energi: NGEBOR, AYO NGEBOR!!! SEKARANG JUGA!!!” tegasnya, menunjukkan urgensi luar biasa untuk meningkatkan produksi minyak domestik di tengah gejolak geopolitik.

Seruan bor minyak ini datang saat dunia menyoroti ancaman Iran yang berpotensi menutup Selat Hormuz. Jalur maritim sempit ini adalah nadi vital bagi pasokan energi global. Bayangkan, lebih dari 20 persen konsumsi minyak harian dunia—sekitar 18 hingga 20 juta barel per hari—melewati selat krusial ini. Tak heran, banyak negara eksportir dan importir sangat bergantung padanya.

Negara-negara raksasa penghasil minyak dari OPEC, seperti Arab Saudi dan bahkan Iran sendiri, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui Selat Hormuz. Bukan hanya minyak, Qatar, eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, juga mengirim hampir seluruh volumenya melalui jalur yang sama. Jika Hormuz tertutup, pasokan energi global bisa lumpuh total!

Tak hanya mendesak pengeboran, Trump juga sebelumnya telah memperingatkan semua pihak untuk menjaga stabilitas harga minyak mentah. “SEMUA PIHAK, JAGA HARGA MINYAK TETAP RENDAH. SAYA MENGAWASI! KALIAN SEDANG BERMAIN SESUAI SKENARIO MUSUH. JANGAN LAKUKAN ITU!” cuitnya, menunjukkan betapa seriusnya ia mengawasi pasar komoditas ini.

Peringatan Trump soal harga minyak ini bukan tanpa sebab. Komoditas vital ini melambung tinggi, bahkan mencapai level tertinggi, sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu (22/6). Serangan ini sontak memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Respons pasar pun tak bisa dielakkan. Dikutip dari Reuters, Senin (23/6) pagi, harga minyak mentah langsung melonjak drastis. Minyak mentah jenis Brent naik USD 1,88 atau 2,44 persen menjadi USD 78,89 per barel pada pukul 11.22 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga meroket USD 1,87 atau 2,53 persen menjadi USD 75,71 per barel.

Kedua kontrak bahkan sempat melonjak lebih dari 3 persen di awal sesi, mencapai puncaknya dalam lima bulan terakhir, dengan Brent menyentuh USD 81,40 dan WTI USD 78,40, sebelum sedikit terkoreksi. Sejak konflik mulai memanas pada 13 Juni, harga Brent telah melonjak 13 persen, sedangkan harga WTI naik sekitar 10 persen. Kenaikan drastis ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap ketegangan geopolitik.

Proyeksi ke depan semakin mengkhawatirkan. Harga minyak mentah dunia diprediksi bisa terus merangkak naik, bahkan mencapai USD 130 per barel, jika konflik ini tidak kunjung mereda. Apalagi jika Iran benar-benar nekat menutup Selat Hormuz, dunia akan menghadapi krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah kita siap menghadapi lonjakan harga bensin dan kebutuhan sehari-hari yang tak terduga?

Situasi harga minyak dan ancaman di Timur Tengah saat ini benar-benar berada di ujung tanduk. Perintah tegas Donald Trump untuk ‘ngebor habis-habisan’ dan menjaga harga minyak tetap rendah menggambarkan kepanikan global akan pasokan energi. Akankah dunia terjerumus dalam perang energi yang sesungguhnya? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar dan mari kita diskusikan bagaimana dampak ini bisa mempengaruhi kehidupan kita semua!

Leave a Comment

Related Post