Sains Indonesia – , Jakarta – Mimpi haji jalur laut yang digadang-gadang bisa jadi solusi biaya haji lebih murah ternyata menemui jalan buntu! Wacana yang sempat bikin heboh ini mendadak ditolak mentah-mentah oleh pihak berwenang. Ada apa sebenarnya di balik keputusan yang mengejutkan ini? Benarkah impian ibadah haji lebih terjangkau lewat jalur laut akhirnya kandas?
Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), Mochamad Irfan Yusuf, tegas menyatakan belum ada tindak lanjut soal wacana haji jalur laut. Menurut Gus Irfan, penolakan ini bukan tanpa alasan. Intinya, belum ada landasan kuat dan kajian mendalam soal efisiensi, baik dari segi biaya maupun waktu. Bahkan, BP Haji memastikan tidak akan ada pengumuman resmi terkait hal ini karena memang tidak pernah dibahas serius, apalagi BP Haji baru akan mengambil alih tata kelola haji mulai musim 2026.
Senada dengan Gus Irfan, Tenaga Ahli BP Haji, Ichsan Marsha, juga ikut menyuarakan keberatan. Menurutnya, ide mengirim jemaah haji via kapal laut untuk musim haji 1447 Hijriah ini justru bertolak belakang dengan semangat BP Haji untuk memberikan layanan terbaik. Bayangkan, perjalanan ke Tanah Suci bisa jauh lebih lama dan jelas tidak ekonomis! Apalagi, pemerintah saat ini sedang berupaya keras mengurangi masa tinggal jemaah haji dari 40 hari menjadi 30 hari, serta menekan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) untuk musim berikutnya sesuai permintaan Presiden Prabowo. Nah, kalau pakai kapal laut, tujuan-tujuan ini bisa buyar begitu saja!
Di sisi lain, ide haji jalur laut ini justru digulirkan oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Beliau menyebut wacana ini adalah salah satu buah hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Arab Saudi. Menurut Menag Nasaruddin, haji jalur laut sangat prospektif untuk masa depan ibadah haji dan umrah. Alasan utamanya sederhana: agar biaya haji dan umrah bisa jauh lebih murah dibandingkan lewat pesawat. Dengan begitu, ibadah haji bisa diakses oleh siapa saja, baik yang berkantong tebal maupun yang pas-pasan, membuatnya semakin inklusif.
Tak hanya soal harga, penggunaan transportasi laut juga dinilai bisa membuka akses bagi calon jemaah haji dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia, untuk mencapai Jeddah. Imam Besar Masjid Istiqlal itu bahkan berpendapat, ini bisa memberikan nilai tambah signifikan bagi Arab Saudi, membuka peluang inovasi dan investasi strategis di sana.
Jadi, di satu sisi ada harapan besar untuk haji yang lebih murah dan inklusif via jalur laut, namun di sisi lain ada realita dan tantangan efisiensi yang menjadi batu sandungan bagi BP Haji. Perdebatan ini tentu menarik untuk disimak, mengingat BP Haji akan mengambil alih tata kelola haji mulai musim 2026 dan Presiden Prabowo sendiri meminta biaya haji diturunkan.
Menurut Anda, apakah haji jalur laut ini memang hanya mimpi belaka, ataukah sebenarnya ada potensi besar yang belum tergali? Mari diskusikan pandangan Anda di kolom komentar dan bagikan artikel ini agar lebih banyak lagi yang ikut berpikir bersama!









Leave a Comment