
Sains Indonesia – , Jakarta – Bertahun-tahun jadi pemandangan ‘horor’ dan pengganggu di Jakarta, akhirnya nasib tiang monorel terbengkalai di sepanjang jalan H.R. Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika menemukan titik terang! Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo siap turun tangan untuk merapikan kekacauan visual ini. Ini bukan sekadar pembersihan biasa, tapi langkah besar untuk menuntaskan ‘saga’ proyek yang puluhan tahun jadi momok ibu kota.
Rencana Gubernur Pramono jelas: meminta PT Adhi Karya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pemilik sah tiang-tiang ‘hantu’ ini, untuk segera melakukan pembongkaran. Loh, kok Adhi Karya? Ternyata, Pramono menyebut sudah ada putusan pengadilan yang memperkuat wewenang mereka. Pemerintah Jakarta, katanya, kini sudah ‘pegang’ semua detail persoalan hukum tiang monorel yang terbengkalai di Jakarta ini.
Maka, surat cinta (baca: surat perintah) akan segera meluncur ke PT Adhi Karya dari Pemerintah Provinsi Jakarta. Pramono juga nggak main-main, sudah konsultasi hukum dengan Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) mengenai langkah strategis ini. “Pemerintah Jakarta juga sudah mendapatkan arahan dari Jamdatun, untuk kemudian yang berhak untuk membongkar adalah Adhi Karya. Kami akan menyurati Adhi Karya untuk itu,” tegas Pramono dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 11 Juni 2025. Jadi, sudah lampu hijau dari jalur hukum!
Tapi, bagaimana kalau Adhi Karya angkat tangan? “Kalau kemudian Adhi Karya katakanlah tidak mampu, maka Pemerintah Jakarta akan melakukan tindakan untuk membersihkan,” ujar politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu. Wah, ini berarti Pemerintah Provinsi Jakarta siap jadi ‘superhero’ kalau pemiliknya tak sanggup beraksi. Sebuah sinyal kuat untuk Jakarta yang lebih rapi!
Nah, ngomongin tiang-tiang ini, mereka punya sejarah panjang yang bikin geleng-geleng. Pembangunan tiang konstruksi proyek monorel Jakarta pertama kali muncul pada 2004, digarap konsorsium PT Jakarta Monorail dan Omnico Singapura. Ingat kan, Presiden Megawati Soekarnoputri yang meresmikan pembangunannya pada Juni 2004? Awalnya, di era Gubernur DKI Sutiyoso, proyek ini memang dipegang oleh PT Adhi Karya.
Menurut arsip Tempo, PT Jakarta Monorail sempat melanjutkan pembangunan jalur Casablanca-Karet sepanjang sekitar lima kilometer pada 2005, lengkap dengan 14 titik pemberhentian. Tapi… proyek mangkrak! Alasannya klise tapi nyata: kontraktor kesulitan mendapat dana. Bahkan, uji beban fondasi di jalur Asia Afrika pun terhenti karena kontraktor tak dapat ‘urunan’ dari pemerintah. Proyek ambisius senilai US$ 670 juta (sekitar US$ 470 juta dari pinjaman luar negeri) ini kembali terhenti total sejak 2007. Kala itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang memutuskan untuk menyetop proyek tersebut.
Harapan sempat menyala lagi di era Joko Widodo. Beliau mencoba menghidupkan kembali proyek monorel itu dengan beberapa syarat ketat. Bahkan, Jokowi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Oktober 2013 dan menamakannya Jakarta Eco Transport (JET). Proyek masih diserahkan kepada PT Jakarta Monorail. Namun, kisah lama terulang. Setelah Jokowi meninggalkan jabatannya sebagai gubernur Jakarta pada 2014 karena terpilih sebagai presiden, estafet kepemimpinan beralih ke wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dan di 2015, Ahok kembali menyetop proyek monorel tersebut! Kenapa? Menurut Ahok, ada 15 syarat dari DKI kepada PT Jakarta Monorail, tapi tak ada realisasi apapun. Sebuah ‘drama’ panjang yang tak kunjung usai.
Kini, di tangan Gubernur Pramono Anung, kita patut berharap saga tiang monorel terbengkalai ini benar-benar berakhir. Janji untuk Jakarta yang lebih tertata dan bebas dari ‘monumen kegagalan’ masa lalu ini patut kita dukung sepenuhnya. Akankah kali ini benar-benar tuntas? Atau malah jadi episode drama yang baru lagi? Yuk, bagikan pendapat Anda! Bagaimana menurutmu nasib tiang monorel ini ke depan? Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-temanmu agar semua tahu perkembangan terbaru!
Lani Diana berkontribusi dalam penulisan artikel ini.









Leave a Comment