
SIAPA SEBENARNYA PEMENANG DARI PERANG 12 HARI IRAN-ISRAEL? Setelah dentuman rudal mereda, gencatan senjata memang berlaku, tapi nyatanya, bara api di Timur Tengah ini masih menyala. Selama 12 hari yang mencekam, baku hantam antara Iran dan Israel terus terjadi. Ribuan nyawa melayang, fasilitas hancur lebur, dan kerugian miliaran dolar jadi saksi bisu konflik brutal ini. Anehnya, baik Teheran maupun Tel Aviv sama-sama klaim kemenangan!
Ketika gencatan senjata Iran-Israel, yang diinisiasi Amerika Serikat, mulai berlaku pada 23 Juni, dunia bertanya-tanya: siapa yang benar-benar untung dari kegilaan ini? Bahkan, nama Presiden AS Donald Trump disebut-sebut paling diuntungkan dari konflik yang nyaris meledak jadi perang skala penuh ini. Memang, jika dicermati, kedua negara justru menelan pil pahit kerugian besar. Namun, jangan salah, di balik itu mereka juga meraup keuntungan strategis dan politis tertentu.
Israel, misalnya, dianggap unggul dalam hal kerusakan militer yang berhasil mereka derita pada Iran, serta solidnya dukungan internasional. Di sisi lain, Iran berhasil menunjukkan giginya dengan kemampuan serangan balasan langsung dan sukses mempertahankan pengaruh regionalnya. Lantas, mana yang lebih untung dan siapa yang lebih buntung dari konflik Iran dan Israel ini? Mari kita bongkar tuntas fakta-fakta yang dirangkum dari Al Jazeera, CNN, dan The Guardian berikut ini:
Keuntungan yang Diraih dalam Perang
Israel: Mengamankan Keunggulan Militer dan Nuklir
Israel sukses besar merusak target-target militer dan fasilitas nuklir penting di Iran, sebuah pukulan telak yang signifikan. Apalagi, dengan bantuan langsung dari Amerika Serikat yang sampai mengebom tiga fasilitas nuklir Iran, ini jelas menjadi nilai plus yang tak terbantahkan. Israel juga menunjukkan keunggulan dalam operasi serangan udara dan terbukti mampu melancarkan operasi rahasia super efektif di dalam wilayah musuh. Ini memberikan mereka kebebasan aksi operasional yang sangat strategis.
Iran: Menunjukkan Taring Balasan dan Klaim Kemenangan Simbolis
Meskipun harus menanggung kerusakan yang parah, Iran berhasil mengirim pesan jelas: mereka mampu! Mereka sukses menunjukkan kapabilitas untuk melakukan serangan balasan langsung ke wilayah Israel dan bahkan pangkalan Amerika Serikat di Qatar, menggunakan rudal balistik dan drone canggih. Selain itu, Iran mengklaim kemenangan simbolis atas perlawanan heroik ini, yang dipercaya bisa meningkatkan posisi tawar politik mereka di kawasan Timur Tengah yang memang rumit.
Jumlah Korban dan Kerugian
Israel: Korban Jiwa dan Kerugian Ekonomi yang Tak Kecil
Perang 12 hari ini tidak berlalu tanpa biaya bagi Israel. Tercatat, 29 orang tewas dan lebih dari 1.200 lainnya terluka. Infrastruktur vital seperti kilang minyak Bazan dan Bandara Ben Gurion mengalami gangguan operasi serius, menyebabkan kerugian ekonomi harian mencapai sekitar US$ 3 juta. Kerusakan bangunan dan infrastruktur akibat serangan rudal Iran juga sangat signifikan, menyisakan luka yang dalam.
Iran: Kehilangan Besar Personel Penting dan Fasilitas Strategis
Di sisi lain, Iran menanggung jumlah korban tewas yang jauh lebih besar, diperkirakan antara 439 hingga 627 orang. Angka ini termasuk tokoh militer dan ilmuwan nuklir terkemuka yang sangat berpengaruh. Kerusakan parah melanda fasilitas nuklir dan militer utama mereka, serta hilangnya personel ahli yang punya peran krusial dalam program nuklir mereka. Sebuah pukulan telak yang mungkin butuh waktu lama untuk pulih.
Status dan Pengaruh di Timur Tengah
Israel: Mengukuhkan Dominasi Militer, Namun dengan Biaya
Setelah konflik singkat ini, Israel berhasil memperkuat posisi dan pengaruh militernya di Timur Tengah. Mereka kembali unjuk gigi, menunjukkan kekuatan hebat untuk menyerang langsung fasilitas vital Iran sekaligus mempertahankan wilayahnya dari serangan balasan yang datang. Namun, di balik itu, mereka harus menanggung biaya ekonomi dan sosial yang sangat besar, sebuah harga yang mahal untuk dominasi.
Iran: Mengubah Kalkulasi Strategis Kawasan dengan Balasan Berani
Meskipun menderita kerusakan yang masif, Iran sukses mengubah peta kalkulasi strategis di kawasan. Mereka telah membuktikan kemampuannya untuk membalas serangan, sebuah fakta yang dapat meningkatkan pengaruhnya di kalangan sekutu regional dan memperkuat posisi tawar dalam negosiasi diplomatik masa depan. Keberhasilan menyerang pangkalan Amerika Serikat di Qatar juga menjadi simbol perlawanan yang patut diperhitungkan.
Kondisi Dalam Negeri Masing-Masing
Israel: Tekanan Ekonomi Berat Akibat Anggaran Perang Fantastis
Di dalam negeri, Israel mengalami tekanan ekonomi yang sangat berat. Biaya perang ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp 325 triliun (sekitar US$ 20 miliar), meliputi pengeluaran militer, kompensasi, dan biaya rekonstruksi yang tidak sedikit. Mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan, membebani sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Iran: Antara Kemenangan Simbolis dan Stabilitas Internal yang Goyah
Meski merayakan kemenangan simbolis, Iran menghadapi kerugian besar dari segi personel dan infrastruktur. Stabilitas internal mereka tentu terganggu, dan kelanjutan program nuklirnya masih menjadi tanda tanya besar. Namun, efek samping positifnya adalah serangan balasan itu justru meningkatkan semangat nasionalisme dan dukungan terhadap pemerintah di tengah masyarakat, sebuah paradoks yang menarik.
Faktor Dukungan Internasional
Israel: Sandaran Kuat dari Amerika Serikat dan Comeback Trump
Israel secara konsisten mendapat dukungan luar biasa kuat dari Amerika Serikat. AS tidak hanya memberikan bantuan militer dan diplomasi, tetapi juga terlibat langsung dalam serangan militer terhadap Iran dan mediasi gencatan senjata. Menariknya, konflik ini juga seolah mampu menarik kembali Donald Trump, yang sebelumnya terkesan menjaga jarak, untuk kembali aktif mendukung Tel Aviv.
Iran: Simpati Regional dan Jaringan Proksi yang Menguat
Iran memang menghadapi tekanan internasional yang tinggi terkait program nuklir dan tindakan militernya. Namun, mereka berhasil meraih simpati dari beberapa negara regional yang secara terbuka menentang dominasi Israel dan Amerika Serikat. Iran juga cerdik memanfaatkan konflik ini untuk memperkuat jaringan proksi dan pengaruhnya di seluruh Timur Tengah, menunjukkan bahwa dukungan tidak selalu datang dari kekuatan besar.
Jadi, meskipun gencatan senjata Israel-Iran saat ini masih terjaga, banyak pengamat sepakat: ini hanyalah ketenangan sesaat yang sangat rapuh. Konflik fundamental antara kedua negara besar di Timur Tengah ini masih berpotensi meledak kembali menjadi aksi saling serang yang lebih dahsyat kapan saja. Akankah perdamaian abadi benar-benar terwujud, atau ini hanya jeda sebelum badai berikutnya? Bagaimana menurut pandangan Anda? Mari diskusikan di kolom komentar dan jangan lupa bagikan artikel ini agar lebih banyak yang tahu!









Leave a Comment