BIG Raih Sertifikasi ISO 20000 Bidang Manajemen IT

Created on Tuesday, 09 January 2018

Melalui ISO 20000, Badan Informasi Geospasial (BIG) membuktikan upayanya untuk memberikan layanan prima terhadap masyarakat yang sesuai standar internasional.  

Bogor, Sains Indonesia - Sebagai lembaga yang bertugas mengatur penyelenggaraan Informasi Geospasial (IG) di Indonesia, Badan Informasi Geospasial (BIG) terus berinovasi dan berupaya memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Salah satunya melalui penguatan di sektor teknologi informasi. 

 

“Semua tahapan dalam penyelenggaraan Informasi geospasial, seperti pengumpulan, pengelolaan, penyimpanan dan penyebarluasan, memerlukan dukungan IT yang andal. Untuk mendukung implementasinya, BIG perlu menerapkan standar internasional dalam pengelolaan layanan IT ini,” papar Deputi Bidang IG - BIG, Adi Rusmanto kepada Majalah Sains Indonesia pasca penyerahan ISO 20000 kepada BIG di Bogor (9/1). 

 

Direktur Sales dan Marketing British Standard Institution (BSI), Rudi Antoni mengatakan, ISO 20000 merupakan standar yang diperuntukkan untuk sertifikasi manajemen IT. Standar ini dimaksudkan untuk memungkinkan semua organisasi yang berpondasi pada teknologi informasi mampu menerapkan praktik terbaik yang ditetapkan secara internasional.

 

“BIG telah berhasil mendapatkan Sertifikasi ISO/IEC 20000 tentang Pengelolaan layanan IT pada tahun 2017 setelah melalui proses audit kesiapan sistem dan audit sertifikasi, baik dari sisi SDM, proses, dan IT-nya. BIG menjadi Instansi pemerintah kedua setelah Kementerian Keuangan yang telah comply dengan ISO/IEC 20000. Untuk BIG, ruang lingkup ISO ini adalah terkait dengan layanan intenet, email dan penyimpanan berbasis cloud,” papar Rudi Antoni.

 

Kepala BIG, Hasanuddin Z Abidin mengaku senang sekaligus takut pasca lembaga yang dipimpinnya mendapat ISO 20000. Ia senang karena layanan IT BIG telah dilaksanakan sesuai standar internasional. “Ini berkah sekaligus tantangan, bagaimana dengan ISO ini BIG harus konsisten memastikan kebutuhan pengguna selalu terpenuhi sekaligus menjaga kualitas layanan IT ke depannya,” ujar pria yang akrab disapa Hasan tersebut. 

 

ISO/IEC 20000 yang dikeluarkan BSI ini diakui oleh American National Accreditation Board (ANAB). Artinya, pengelolaan sistem pelayanan IT BIG sudah diakui secara internasional. “Ini baru tahap awal, karena setiap tahun BSI akan datang mengevaluasi dan menilai apakah ISO ini masih dijalankan atau tidak,” ungkap Rudi Antoni. 

 

Hasan berharap penerapan ISO/IEC 20000 dapat meningkatkan kualitas layanan BIG bagi instansi pemerintah, pemda dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan Informasi Geospasial. “Indikatornya bida dilihat dari kualitas data yang dihasilkan serta pelayanan yang cepat dan responsif terhadap permintaan pengguna. Semoga dengan adanya ISO/IEC 20000 ini dapat meningkatkan kinerja dan produk BIG ke depannya menjadi lebih baik,” harap Hasan.

 

Hasan juga berharap ke depannya BIG bisa lebih baik lagi mengadopsi sistem IT yang lebih maju lagi. Seperti memanfaatkan blockchain technology yang diklaim lebih efisien dan efektif dalam data sharing dan security. Teknologi blockchain diyakini Hasan akan membuat BIG mampu melayani dengan lebih baik lagi.

 

“Kita sering memberi data gratis ke publik. Maka dengan adanya blockchain ini mungkin lebih bagus. Kenapa? Karena di blockchain semua pihak bisa melihat data tapi mereka tidak bisa mengubah data tersebut, nggak bisa mengotak-atik sembarangan. Teknologi ini bisa membuat server BIG aktif 24 jam dalam 7 hari (nonstop), dan ini bagus sekali, tidak akan ada lagi cerita orang gagal unduh karena server tidak aktif,” pungkas Hasan.

 

Faris Sabilar Rusydi 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia