Banda Neira: Jejak Sejarah Dari Pulau Pengasingan

Created on Tuesday, 12 December 2017
Banda Neira meninggalkan banyak cerita sejarah dan warisan budaya di Indonesia. Termasuk kisah para tokoh besar nasional yang pernah dibuang ke pulau pengasingan ini.

 

Tepat pukul 05.30 WIT kapal KM Pangrango bersandar di Pelabuhan Banda Neira usai menempuh perjalanan sejauh 130 mil dari Pelabuhan Ambon. Dengan kecepatan kapal hanya berkisar 10 knot, tidak heran jika dibutuhkan waktu 13 jam untuk sampai di pulau pengasingan ini. Beruntung, kondisi dan fasilitas kapal cukup nyaman menemani Majalah Sains Indonesia selama di perjalanan.

Begitu kapal bersandar, rasa penat pun sirna. Apalagi pemandangan yang luar biasa indah tersaji di depan mata. Dari geladak kapal terlihat jelas hijaunya Gunung Api Banda yang dikelilingi lautan, serta perbukitan di sekelilingnya. Di buritan kapal, ikan-ikan berkerumun berenang di lautan sangat jernih, bersih, dan nyaris tidak ada sampah. Keindahan Banda memang tiada duanya.

Selepas kaki menjejak di tanah Banda, sambutan ramah ditunjukkan masyarakatnya. Majalah Sains Indonesia pun berkeliling menyusuri pulau berpenduduk sekitar 14.000 orang itu. Menikmati setiap inci keindahan alam serta warisan budaya bernilai sejarah tinggi. Pulau ini menjadi salah satu tujuan wisata tertua di Indonesia yang sarat cerita sejarah. Seperti kisah pengasingan sejumlah tokoh besar Indonesia.

Pulau ini pernah menjadi penjara bagi para tahanan politik zaman Hindia Belanda. Tjipto Mangunkusumo, Iwa Kusuma Soemantri, Sutan Syahrir, dan Mohammad Hatta merupakan tokoh besar yang pernah dibuang ke Banda Neira di awal abad 20. Keempatnya pernah ditahan di sana dalam kurun waktu 1928-1942, sebelum akhirnya Jepang mengalahkan Hindia Belanda dalam Perang Dunia II.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 72 Desember 2017

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia