Melihat Masjid Putih Telur di Pulau Penyengat

Created on Wednesday, 07 December 2016


Ada ungkapan yang biasa dilontarkan masyarakat di Kepulauan Riau, “Belum sampai di Tanjung Pinang kalau belum singgah ke Pulau Penyengat”. Apa yang istimewa dengan pulau itu?

 

Pernah dengar cerita tentang masjid yang dibangun dengan putih telur sebagai bahan perekat pengganti semen? Nah, itulah Masjid Raya Sultan Riau, yang ada di Pulau Penyengat. Yuk, kita menyeberang ke Pulau Penyengat?

Pulau Penyengat berada di seberang barat Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (Kepri). Bisa ditempuh dengan perahu motor atau pompong, yang tarifnya Rp 20.000 per orang. Jaraknya sekitar 6 km, sehingga hanya perlu waktu sekitar 10 menit dari salah satu dermaga penyeberangan di Sri Bintan Pura, untuk sampai ke Pulau Penyengat. 

“Banyak bangunan kuno yang sudah umur ratusan tahun di Pulau Penyengat. Pengunjung dari berbagai daerah, ada yang datang sekadar jalan-jalan keliling pulau, dan ada pula yang sengaja singgah untuk berziarah. Bahkan, banyak pengunjung dari Malaysia khusus datang ke Pulau Penyengat karena ingin sholat di Masjid Raya Sultan Riau,” ujar Mahmoed, pemilik salah satu kedai kopi di kawasan kota tua Tanjung Pinang. 

Kepada Majalah Sains Indonesia, pria 73 tahun, kelahiran Pulau Durai, Anambas, Kepulauan Riau itu juga menuturkan bahwa masyarakat di Kepri juga mengenal ungkapan, “Belum sah jadi muslim jika belum sholat di Masjid Penyengat”. “Mungkin karena ungkapan-ungkapan seperti itulah, masyarakat pendatang atau yang berkunjung ke Tanjung Pinang selalu ingin menyempatkan menyeberang ke Pulau Penyengat. Lagi pula, jaraknya amat dekat dan mudah dijangkau. Saya pun satu pekan bisa tiga empat kali menyeberang, cuma mau sholat di Masjid Penyengat,” kata Mahmoed, yang mengaku telah dua kali berangkat haji.

Masjid Raya Sultan Riau, yang lebih dikenal sebagai Masjid Penyengat dibangun tahun 1803, di masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah. Pada waktu itu, sebenarnya sultan hanya ingin membenahi Pulau Penyengat, yang dilihatnya begitu kotor dan tidak terurus. Sedangkan, pulau tersebut memiliki arti penting bagi Kesultanan Melayu Riau, karena merupakan benteng pertahanan di masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, saat masa kejayaan Raja Ali Haji, tahun 1782.  

Dalam buku informasi mengenai sejarah Pulau Penyengat yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kepulauan Riau, disebutkan Masjid Raya Sultan Riau dibangun secara gotong royong oleh penduduk. Material bangunan diperoleh dari sumbangan warga, yang mengalir tak henti dari berbagai daerah. Begitu pula keperluan untuk makan para pekerja. Berbagai bahan makanan melimpah, termasuk telur unggas (ayam dan burung). 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 60

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia