Thomas Djamaluddin, Indonesia Serius Membangun Luar Angkasa

Created on Thursday, 02 June 2016

Indonesia semakin serius mengerjakan proyek pembangunan luar angkasa. Dalam satu dekate terakhir sudah ada tiga satelit buatan anak bangsa yang mengorbit di langit Nusantara. Termasuk teknologi penginderaan jauh Lapan-A3/IPB yang diluncurkan bulan ini.

Pada sejarahnya Indonesia menjadi negara pengguna satelit komunikasi ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Walaupun saat ini disalip India dan Malaysia - keduanya bahkan telah memiliki astronot -, namun Indonesia terus berbenah. Seperti memproduksi satelit, pesawat dan roket, serta rencana membangun bandara antariksa untuk peluncuran roket di Indonesia timur.

Jalan mewujudkan mimpi kemandirian teknologi luar angkasa memang masih panjang. Cukup banyak tantangan yang perlu dihadapi, khususnya dalam mengejar ketertinggalan dari sisi keilmuan luar angkasa. Namun progress beberapa tahun terakhir cukup membuat optimistis.

Lantas bagaimana perkembangan teknologi satelit Indonesia saat ini? Dan tantangan apa saja yang dihadapi? Berikut wawancara Majalah Sains Indonesia dengan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, di Bogor (25/4).

Bagaimana sejarah perkembangan teknologi satelit di Indonesia?

Sejarah keantariksaan Indonesia dimulai sejak era 1960-an, sampai kemudian Lapan didirikan pada 1963. Awalnya kegiatan Lapan lebih fokus pada pembuatan roket, satelit, dan penerbangan. Melalui perusahaan telekomunikasi, pada 1967, Indonesia membeli satelit Palapa. 

Setelah ada satelit Palapa, seketika itu pula Indonesia mulai dengan pemanfaatan satelit. Jadi sebelum bisa mengembangkan teknologinya, kita sudah mulai memanfaatkan data hasil citra satelitnya, seperti penginderaan jauh.

Sekitar 2006-2007 kita mulai putuskan mempercepat penguasaan teknologi satelit. Indonesia kemudian menjalin kerja sama dengan Jerman. Lapan menyediakan anggaran dan mengirimkan SDM ke sana untuk mendalami teknologi satelit. Akhirnya engineering kita berhasil membuat Lapan-A1/Tubsat. Inilah satelit eksperimen generasi pertama Indonesia yang diluncurkan. 

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 54

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia