Onno W Purbo: Telekomunikasi Tidak Harus Mahal

Created on Friday, 29 April 2016

 

Beberapa waktu lalu, Balon (internet) Google  - atau lebih terkenal dengan proyek Google Loon – mendapat lampu hijau untuk masuk tahap uji teknis di Indonesia bersama tiga operator seluler, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo dan XL Axiata. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) melihat peluang Google Loon untuk menjadi teknologi alternatif yang cukup tepat di area pedalaman.

Sementara itu, para praktisi Teknologi Informasi (TI) lokal yang dimotori Dr Onno W Purbo, sudah sejak lama mengkampanyekan pembangunan Open BTS. Me-reka mengklaim teknologi ini juga bisa mem-berikan akses telekomunikasi alternatif. Namun baru Januari lalu, Onno bersama ICT Watch dan komunitas OpenBTS lainnya diberi kesempatan berkorespondensi langsung dengan Menkominfo Rudiantara.

Sebenarnya apa kelebihan dan peluang yang bisa digali dari OpenBTS untuk menggenjot percepatan akses telekomunikasi di pelosok Indonesia? Dan bagaimana nasib teknologi tersebut ke depannya? Wartawan Majalah Sains Indonesia merangkum percakapan melalui email dengan Onno W Purbo. Berikut petikan wawancaranya:

Kapan Anda mulai menggalakkan OpenBTS? Apa motivasinya?

Saya mulai sekitar 2009-2010. Awalnya hanya melihat dari google ada cara membuat sendiri OpenBTS pakai software. Ketika itu saya tidak punya alatnya. Sementara Thailand ternyata punya alat tapi tidak bisa menggunakan. Maka, jadilah saya diundang ke sana. Saya pakai alat itu dan saya tulis lengkap semua teknis pengoperasiannya di wikipedia supaya semua orang bisa akses.

Dari situlah orang mulai berpikir kalau kita bisa membuat BTS sendiri hanya dengan software dan alat yang sederhana. Karena teman-teman tertarik, jadilah saya dihubungi dan ditanya butuh alat apa saja. Tapi, sejak awal saya sampaikan kepada mereka bahwa tujuan utama saya bukan untuk inovasi, melainkan edukasi. Akhir-nya saya sebarkan dan semakin banyak orang mulai bisa. 

Bisa diceritakan kelebihan dan peluang yang bisa digali dari Open BTS?

OpenBTS bisa dengan mudah dibuat sen-diri. Misalnya oleh seorang lulusan SMK jurusan IT, asalkan mereka terbiasa dengan sistem operasi linux. Karena semua source code-nya open source, maka seluruh software tersedia gratis, dan semua bisa dibuat di Indonesia. Kalaupun ada biaya, paling untuk kebutuhan hardware berupa Software Define Radio (SDR)yang sampai sekarang ini kita harus beli dari luar negeri.

OpenBTS prinsipnya sama dengan peralatan BTS selular yang biasa dipakai operator telekomuniasi. Teknologi ini sangat sederhana, bisa dibuat sendiri karena open source, dan bisa digunakan siapa saja termasuk oleh operator. Jadi bisa juga dioperasikan rakyat biasa.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 53

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia