AS dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Turunkan Emisi

Created on Friday, 01 April 2016
 

 

Setiap tahun, setiap tanggal 22 April, dunia memperingati hari Bumi. Tahun ini peringatan hari bumi dibayang-bayangi me-ningkatnya perubahan iklim secara drastis yang menjadi an-caman serius bagi keberlanjutan kemanusiaan dan juga ekosistem di bumi. Dalam rangka memperingati hari bumi, wartawan Majalah Sains Indonesia menyajikan wawancara dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert O Blake Jr yang dirangkum dari beberapa kali kesempatan bertemu pada sejumlah forum yang dihadiri Dubes AS. 

Dubes yang mulai bertugas di Indonesia sejak 30 Januari 2014 itu mengaku kagum dengan keindahan alam Indonesia. Menurut peraih gelar Bachelor of Arts dari Harvard College dan Master of Arts dari John Hopkins School of Advanced International Studies itu, sebagai ne-gara kepulauan, Indonesia dikaruniai keindahan alam laut serta keanekaragaman hayati yang tertinggi di dunia. Berikut petikan wawancaranya:

Sejumlah penelitian, di antaranya dari Universitas Adelaide, Australia mengungkapkan jika Amerika Serikat termasuk sebagai negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia. Bagaimana pendapat Anda?

Kami tidak membantah itu. Namun banyak upaya yang kami lakukan untuk menyikapi perubahan iklim, baik di dalam negeri kami sendiri maupun di banyak negara. Dengan Indonesia kami banyak melakukan upaya bersama untuk kegiatan mitigasi maupun adaptasi terhadap perubahan iklim.

Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebutkan bahwa suhu bumi meningkat secara cepat dan berpengaruh buruk bagi pertanian, ekosistem laut, dan lain-lain.
Kami memandang perlu, secara bersama-sama, menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan mengembangkan dan menggunakan energi terbarukan. Di Amerika Serikat, kami telah meningkatkan penggunaan energi terbarukan hingga 50% dalam satu dekade terakhir. Di Indonesia kami juga membantu upaya menurunkan emisi, mengingat di Indonesia banyak dilakukan pembabatan hutan terutama lahan gambut yang berefek pada meningkatnya emisi karbon.

Apakah pemerintah AS meratifikasi Perjanjian Paris mengingat sebelumnya AS tidak mau meratifikasi Protokol Kyoto maupun Bali Roadmap?

Sejatinya kami telah menjadi bagian pen-ting dari perjanjian tersebut, baik kesepakat-an di Copenhagen maupun di Paris 2015 lalu. Kami justru menjadi negara yang paling banyak menurunkan efek GRK, dimana dalam delapan tahun terakhir AS menurunkan emisi GRK sebesar tujuh persen. Pencapaian tersebut sudah hampir mendekati target penurunan emisi GRK hingga 2020. Kami telah lakukan perbaikan dan kebijakan Presiden Obama sendiri adalah memprioritaskan penggunaan energi terbarukan.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 52

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia