Herawati Sudoyo: Berantas Zika Dengan Hidup Bersih

Created on Wednesday, 24 February 2016
Virus Zika telah membuat dunia heboh. Parasit mikroskopik ini dilaporkan telah menyebar luas di Amerika Selatan dan menyebabkan cacat bawaan berupa microcephaly pada bayi baru lahir. Data terkini organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutkan sekitar 3-4 juta penduduk terinfeksi dalam kurun 12 bulan terakhir.

 

WHO juga mengungkapkan terjadi lonjakan kasus microcephaly di Brasil sejak Oktober silam. Lantaran dikhawatirkan akan meluas dengan konsekuensi besar, maka awal Februari lalu WHO menyatakan darurat kesehatan global terhadap virus ini. WHO juga menyetarakan Zika dengan wabah Ebola sebagai “peristiwa tidak biasa” yang membutuhkan tanggapan terkoordinir.

Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengeluarkan Travel Advisory dan merilis negara-negara yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) virus Zika dengan maksud mencegah kemungkinan masuknya virus dari luar negeri. Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk negara, seperti pelabuhan dan bandara. 

Indonesia sendiri ternyata sejak 40 tahun silam sudah menemukan Zika dan hidup damai dengan virus tersebut. Mencoba menguak ancaman dan potensi penyebaran wabah Zika di Indonesia, wartawan Majalah Sains Indonesia, Faris Sabilar Rusydi  mewawancarai Deputi Direktur Institut Eijkman, Dr Herawati Sudoyo. Berikut petikan wawancara dengan pakar riset biologi molekuler tersebut:

Bagaimana catatan penemuan virus Zika di Indonesia?

Zika ini sebelumnya pernah ditemukan di Klaten, Jawa Tengah sekitar 1977-1978 sampai 1981. Ketika itu ada peristiwa demam akut sehingga pasien dikumpulkan. Ternyata ditemukan ada lectospira penyebab panas. Namun ketika itu hanya antibody karena paparan patogen saja dan tidak sampai menjadi wabah. 

Kemudian tahun lalu (2014-2015) di Jambi. Saat itu kami melakukan penelitian karena ada wabah demam berdarah dengue (DBD). Dari sekitar 400 pasien dengan gejala klinis dengue, kami menerima sampel sekitar 200 pasien untuk diteliti karena mereka negatif dengue.
Lalu yang jadi pertanyaan adalah sebenarnya ini apa? Kemudian kita meneliti kembali, termasuk dari outbreak yang ada. Kami di Lembaga Eijkman sudah biasa meneliti dan mengkaji tentang virus-virus yang baru timbul. Termasuk kasus-kasus yang tidak diketahui penyebabnya. 

Karena kami punya medium untuk mendeteksi berbagai jenis virus yang belum dikenali maupun virus yang muncul kembali, lantas kami menemukan bahwa dari 103 sampel negatif dengue, ternyata 1 orang positif terjangkit Zika. Menariknya, orang ini adalah warga lokal dengan riwayat tidak pernah bepergian.

Sebelumnya ada juga orang Australia terkena virus Zika setelah berkunjung ke Jakarta. Ada pula yang terdeteksi sepulang dari berlibur di Bali. Berdasarkan kasus-kasus ini, dapat disimpulkan bahwa Zika juga telah beredar sementara waktu di Jakarta dan Bali selain memang ditemukan di Jambi.

Sebenarnya dimana letak bahaya Zika itu sendiri?

Prinsipnya Zika tidak mematikan karena ia self limiting disease yang berarti manusia bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Gejalanya memang sama dengan DBD walaupun lebih ringan. Dalam kasus DBD, trombosit akan menurun, dan bisa menyebabkan kematian jika terjadi komplikasi. Sedangkan Zika tidak ada penurunan trombosit sehingga seperti kasus di Jambi, penderita sembuh dengan sendirinya.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 51

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia