Dr Warsito Purwo Taruno: Siap Mengawali Revolusi Industri ke-4

Created on Thursday, 31 December 2015
Bagi masyarakat ilmiah Indonesia dan dunia, Warsito Purwo Taruno bukan nama yang asing. Doktor lulusan Shizuoka University ini berhasil mengembangkan teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) dan Electrical Capacitance Cancer Theraphy (ECCT). Keduanya dapat membantu memindai dan menyembuhkan kanker.

 

Atas karya riset dan inovasinya, Warsito dianugerahi BJ Habibie Technology Award 2015 oleh Kantor Kemenristekdikti dan Badan Pengkajian dan Pene-rapan Teknologi (BPPT) medio Agustus 2015. Ia dinilai sukses menciptakan inovasi sistem pemin-dai berbasis medan listrik statis aplikatif untuk industri dan medis. Belakangan, tim Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga membuktikan bahwa ECVT dan ECCT terbukti secara signifikan mematikan sel-sel kanker.

Akan tetapi sambutan kalangan medis konvensional pada temuan yang konon sudah dimanfaatkan beberapa negara lain ini tak selalu positif. Banyak dokter mempertanyakan efektivitas dan bukti keilmiahan teknologi Warsito. Bulan lalu polemik tersebut kembali ramai dibicarakan. 

Puncaknya terjadi ketika Kementrian Kesehatan (Kemenkes) meminta Pemerintah Kota Tangerang menertibkan klinik Warsito. Surat yang ditandatangani Sekretaris Jenderal Kemenkes itu menyebutkan kegiatan PT Edwar tidak sesuai de-ngan tahapan dan ketetapan proses penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes.

Seakan tidak terima, Warsito lalu mendatangi Kemenkes untuk menindaklanjuti hal tersebut. Hasilnya disepakati peninjauan ulang atas hasil riset dan penanganan pasien oleh CTECH Labs Edwar technology. Kliniknya dilarang menerima pa-sien baru selama masa evaluasi tersebut. Walaupun pendampingan terhadap pasien lama masih dibo-lehkan.

Beberapa waktu yang lalu wartawan Majalah Sains Indonesia, Faris Sabilar Rusydi, sempat me-ngunjungi Klinik Riset Kanker tersebut di Alam Sutera, Tangerang. Di sela kesibukannya, Dr Warsito Purwo Taruno berkenan memberikan waktunya berbincang-bincang. Berikut petikan wawancaranya.

EECT dan ECVT dianggap kontroversial, bagaimana tanggapan Anda?

Sesuatu yang baru tentu mengundang kontroversi. ECVT dan ECCT ini tidak ada refe-rensinya di manapun. Ini karena keduanya lahir di Indonesia dan pertama di dunia. Padahal untuk uji in vivo harus ada referensi sebelumnya. Hasil riset kemudian kami publikasikan walaupun dalam beberapa kasus baru mulai dipublikasi tahun 2014. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 49

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia