Taruna Ikrar Masuk Nominasi Nobel Awards 2016

Created on Wednesday, 08 March 2017
Taruna Ikrar mungkin kurang populer di Indonesia. Padahal namanya cukup banyak tercatat dalam hasil penelitian, bahkan menjadi rujukan. Namun, begitu nama dokter lulusan Universitas Hasanuddin ini diumum-kan sebagai kandidat peraih Nobel Kedokteran 2016, mata publik tertuju padanya.

 

Lahir pada 15 April 1969 di Makassar, Sulawesi Selatan, Dr Taruna Ikrar MPharm MD PhD banyak terlibat dalam penelitian yang berkaitan dengan otak, saraf, dan jantung. Salah satu karyanya, yaitu dalam bidang  optogenetic, physiology of medicine kemudian diajukan oleh University of California, Amerika Serikat (AS), untuk mengisi peluang nominasi Penghargaan Nobel Kedokteran 2016.

Taruna Ikrar, yang juga menjadi pengajar di University of California, menjadi salah satu dari tiga orang tim riset yang berhasil mengembangkan optogenetic laser stimulation. Dua orang lainnya yang terlibat dalam penelitian tersebut adalah Dr Ivan Soltesz, saintis dari Stanford University berkewarganegaraan Hongaria dan AS serta Dr Amar Sahay, ilmuwan dari Harvard University berkewarganegaraan AS.

“Optogenetic adalah suatu metode untuk membuat aktif atau non-aktif sel saraf (neuron) di otak dengan menggunakan spektrum cahaya tertentu. Kelak, teknik ini dapat digunakan dalam berbagai pengobatan penyakit-penyakit otak, seperti Parkinson, Epilepsy, Schizophrenia, dan lain-lain,” papar Taruna Ikrar pasca namanya diajukan sebagai salah satu nominator penerima Nobel.

Sejauh ini Taruna Ikrar telah menghasilkan 54 penemuan penting. Dua di antaranya sudah dipatenkan dan digunakan oleh berbagai institusi pendidikan dan kedokteran dunia. Penemuan yang telah dipatenkan pertama adalah Laser Photo-stimulation dan Voltage Sensitive Day Imaging. Temuan ini berfungsi untuk melihat peran dan dinamika otak manusia untuk mengetahui aktivitas sel saraf satu dengan lainnya. 

Penemuan yang telah dipatenkan lainnya adalah Opto-genetics Imaging, model penemuan untuk melihat aktivitas otak dengan menggunakan cahaya untuk mendiagnosis kondisi otak. Selain dua paten tersebut, Taruna Ikrar juga sukses mematenkan metode pemetaan otak manusia yang berhasil menggambarkan dinamika yang terjadi pada organ tersebut secara rinci pada 2009. 

Laman resmi Nobel Prize mencatat, ada 273 ilmuwan yang telah dinominasikan untuk Penghargaan Nobel 2016 dalam bidang kedokteran. Seleksi yang dilakukan memang cukup ketat. Proses pengajuan nominasi penghargaan ini hanya bisa dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, atas undangan Panitia Nobel Prize.

Membanggakan Dunia Riset Tanah Air

Pada akhirnya, penghargaan Nobel Kedokteran 2016 memang diberikan kepada Yoshinori Ohsumi, ilmuwan biologi dari Jepang, atas jasanya menemukan autophagy (proses sel memakan dirinya sendiri). Namun demikian, keberadaan Taruna Ikrar sebagai salah satu kandidat penerima award bergengsi itu menjadi capaian membanggakan tersendiri bagi dunia riset Tanah Air.

Setelah lulus dari Universitas Hasanudin (1997), Anak ke 5 dari 10 bersaudara ini lantas melanjutkan dan menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia dalam bidang farmakologi (2003). Setelah itu, Taruna Ikrar mendapat beasiswa dari pemerintah Jepang untuk program S3. Gelar PhD dengan keahlian ilmu penyakit jantung (cardiology) pun diraihnya di School of Medicine, Niigata University, Jepang, pada 2008. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 63

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia