Waspada Islamophobia Donald Trump

Created on Monday, 30 January 2017
Per 20 Januari, Donald Trump resmi menjadi Presiden AS. Menggantikan Barrack H Obama, pilihan Partai Republik ini langsung menggebrak dengan mencopot sedikitnya 80 dubesnya di luar negeri. Masyarakat internasional kaget. Pasar bereaksi negatif. Dolar AS pun melemah.

 

Dalam orasi pascapenobatannya menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, dia lantang menyuarakan nasionalisme baru Amerika. Pakta kerja sama ekonomi Trans Pacific Partnership (TPP)–yang dirintis regim sebelumnya – dinyatakan tidak berlaku. “Mulai saat ini, akan mengutamakan warga Amerika,” ujar Donald Trump di Gedung Capitol, Washington DC, Jumat (20/1). 

Dia melanjutkan, “Bersama kita akan menentukan arah dari Amerika dan dunia untuk bertahun-tahun ke depan. Sejak hari ini Amerika akan selalu menjadi yang pertama.” 

Demi Amerika, dia pun bersumpah akan memerangi Islam. “Akan menghapus mujahidin dari muka bumi, serta menyatukan dunia untuk memerangi kelompok pejuang syariat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad,’’ tegasnya.

Ungkapan itu mengingatkan banyak pihak terhadap kampanyenya yang meledak-ledak dan cenderung sarkastis. Ketua Council of American Islamic Relations (CAIR) Cabang Kansas, Moussa ElBayoumi, mengatakan, Muslim tidak bisa mengesampingkan isi kampanye Trump. Menurutnya, Trump bisa menang salah satunya karena sentimen anti-Muslim dan antiimigran. Elbayoumi meminta agar Trump menghormati konstitusi AS dan nilai-nilai yang dibangun di negeri liberal tersebut.

Yang berbahaya dari Trump, menurut Imam Islamic Center New York, Shamsi Ali, adalah pandangannya soal komunitas Muslim sebagai sumber radikalisme dan terorisme, Dia menyebut retorika kampanye Trum sangat menyakiti komunitas Muslim dan kelompok minoritas lainnya. 

Memang, banyak ungkapan Donald Trump tendensius dan provokatif. Desember 2011, dalam wawancara dengan The Brody File, dia mengatakan: “Saya jelas bukan ahli Islam. Tapi, Al Qur’an_mengandung ajaran-ajaran yang sa-ngat negatif.”  November  2015, dalam wawancara dengan MSNBC, dia menyatakan kebenciannya. “Menutup masjid-masjid, saya benci melakukannya. Tapi, itu sangat layak dipertimbangkan.” Dan, sebulan kemudian, dalam siaran pers kampanyenya, Trump menyampaikan: “pelarangan total buat Muslim memasuki AS hingga perwakilan kita tahu apa yang terjadi.”

Seakan mewujudkan janjinya saat kampanye, Donald Trump kini berbegas akan memindahkan markas Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Tahun lalu, dua bulan sebelum waktu Pilpres, saat bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu, dia berjanji: “akan mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel yang tak terpisahkan.”  Kepada CNN, Maret 2016, dia berkata: “Saya pikir Islam membenci kita. Sulit memisahkan Islam dengan radikalisme karena kau tak tahu siapa yang menganut apa?” 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 62

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia