Cordelia Selomulya: Nanoteknologi Kunci Solusi Masa Depan

Created on Friday, 07 October 2016

 

Dua dekade lalu, Cordelia Selomulya pergi ke Australia untuk menimba ilmu di Universitas New South Wales, Sydney. Kini dia kembali ke Indonesia untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Alumni SMAK 1 Penabur itu telah menjadi profesor teknik kimia di Monash University (MU), Melbourne.

Prof Cordelia Selomulya PhD datang ke Indonesia untuk menjadi nara sumber Monash Doctoral Program Information Day di Jakarta, 24-25 September. “Saya mewakili Fakultas Teknik MU,’’ ucapnya kepada Majalah Sains Indonesia. 

Selama ‘pulang kampung’, Cordelia juga mengunjungi beberapa universitas dan perusahaan di Jakarta dan Bandung untuk membicarakan kemungkinan kerja sama dengan Monash University. “Indonesia begitu dekat dan penting bagi Australia. Maka, wajar bila kedua negara  bekerja sama lebih erat di bidang riset dan pengembangan. Ini menguntungkan kedua-nya,’’ tambah pemilik 150 karya ilmiah  berskala  internasional dan penemu dua paten bidang  vaksin nanoteknologi ini

Universitas Prasetya Mulya termasuk yang dikunjungi Cordelia. Bersama Prof Nicolas Georges PhD, di sini dia tampil sebagai nara sumber seminar Insightful Talk on Food Business: Recent Advances in Food Technology  Di forum ilmiah yang dihadiri puluhan praktisi industri pangan dan ratusan dosen dan mahasiswa, kedua pakar MU itu berbicara tentang trend mutakhir riset bidang pangan dan kesehatan.

Cordelia memaparkan, seiring bertambahnya populasi manusia, ketersediaan pangan dan bahan ke-sehatan menjadi persoalan rumit dan pelik di masa depan. “Hadirnya nano-teknologi menjadi angin segar dan dapat diharapkan menjadi solusi atas berbagai masalah obat dan pangan di masa depan,” ungkap profesor tek-nik kimia pertama dan wanita asal Indonesia di MU.

Peneliti pascadoktoral Australian Research Council (ARC) itu menjelaskan, teknik spray drying telah cukup mapan dipakai dalam pengembangan industri pangan, terutama yang berbasis susu (dairy food). Dengan pendekatan baru metode nano, emulsi susu sapi bisa dibuat lebih homogen dan halus. Ukuran droplet bisa menjadi lebih kecil sampai dimensi nano.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 58

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia