Bangga Bisa Nonton GMT Bareng Pak JK

Created on Friday, 01 April 2016
Berbincang dengan Wapres Jusuf Kalla, ia tampak begitu bersemangat, menceritakan pengalaman saat “tamasya” di Bulan. Wapres, yang akrab disapa Pak JK, pun bertanya mengapa ia memilih Palu, Sulawesi Tengah, untuk melihat Gerhana Matahari Total (GMT)?

 

“Karena saya mempunyai teman yang lahir di kota ini. Katanya, Sulawesi dan apalagi Sulawesi Tengah sangat indah. Saya sudah beberapa kali ke Indonesia, menikmati Bali, Pulau Komodo, dan keramaian di Jawa, tapi belum sempat datang ke Palu. Jadi, inilah saat yang tepat, mengagumi keindahan Kota Palu saat gerhana Matahari,” ujar Andre Kuipers. 

Tidak hanya Pak JK, para jurnalis yang turut dalam kegiatan pengamatan GMT di lapangan Kotapulu, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada 9 Maret lalu, juga antusias ingin tahu bagaimana kesan Andre melihat Bulan dari Bumi dibanding ketika mengunjungi langsung. Astronot asal Belanda ini telah dua kali mengikuti ekspedisi ke Bulan. Pertama, tahun 2004 selama hanya 11 hari. Kemudian, tahun 2012 selama 193 hari. 

“Ternyata, Bulan dari sini terlihat sama dengan Bulan yang pernah saya datangi. Menyaksikan Bulan saat gerhana Matahari total, sama fantastisnya dengan pengalaman bisa mengunjunginya langsung,” katanya.

Seperti penjelajah luar angkasa umumnya, menurut Andre, saat mengikuti ekspedisi ke Bulan, bersama tim di European Space Agency (ESA), ia pun sangat penasaran, seperti apa sesungguhnya kondisi di sana. “Luar biasa. Itulah sebabnya, saya dan tim begitu gembira saat tahu kami akan bisa melihat fenomena langka, Bulan menutup seluruh cahaya Matahari yang menyinari Bumi. Sangat istimewa, karena momen itu sekaligus menjadi kesempatan untuk membuktikan keindahan Palu, seperti cerita teman saya itu,” ujar Andre. 

Makin Terkenal di Dunia 

Selain Pak JK, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya juga mengaku bangga bisa menyaksikan momen GMT bersama ratusan wisatawan mancanegara (Wisman), termasuk para peneliti, di lapangan Kotapulu. Lokasi ini merupakan salah satu titik yang ditetapkan BMKG untuk pengamatan GMT 9 Maret 2016. Tak hanya mengabadikan proses gerhana, di Palu, BMKG juga mengamati pengaruh gravitasi dan dampak lain, yang dibandingkan saat terjadi gerhana total dengan kondisi sehari-hari. Menurut Andi, hasil pengamatan tersebut baru bisa diketahui hasilnya sekitar dua sampai tiga bulan lagi. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 52

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia