Agar Akademisi Tak Lagi Minim Literasi

Created on Thursday, 09 March 2017
Membuat kaum akademisi terampil berkarya tulis faktanya bukan perkara gampang. Budaya literasi di masyarakat kampus jauh dari kondisi ideal, di mana kaum intelektual biasanya identik dengan karya tulis. Perlu upaya luar biasa agar budaya baca tulis semarak di kampus.

 

Langkah itulah yang kini ditempuh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan meluncurkan sistem Science and Technology Index (Sinta).

Meniru indeks karya tulis ilmiah di sejumlah negara maju, seperti halnya indeks scopus, Sinta adalah sebuah portal berisi pengukuran kinerja ilmu pengetahuan dan teknologi yang meliputi kinerja peneliti/penulis/author, kinerja jurnal, kinerja institusi Iptek. Ini semacam ajang penilaian tingkat produktivitas akademisi sekaligus mendorong budaya publikasi ilmiah.

Menristekdikti, Mohamad Nasir, mengatakan portal ini dibuat karena jumlah mahasiswa dan jumlah dosen belum sebanding dengan jumlah publikasi yang dihasilkan sehingga mengakibatkan peneliti Indonesia kurang dikenal masyarakat global.

Nasir menyebutkan sistem yang selama ini sudah ada di Indonesia tidak operasional disebabkan beberapa hal, pertama karena inkosistensi dukungan tidak digunakan sebagai instrumen penentu dalam implementasi kebijakan seperti akreditasi, jabatan fungsional, dan lain-lain sehingga data tidak terupdate dan akhirnya mati. 

Kemudian mekanisme pengolahan data tidak sinergis dengan instansi yang memiliki tugas dan fungsi. Lalu sistem input data belum digital sehingga sulit berkembang. 

Nah, Sinta memiliki fungsi relasi, sitasi dan peng-index sementara yang lain hanya relasi dan sitasi saja, Sinta juga menggunakan sistem entry exit digital dan dikelola secara multisektor yang mempunyai tugas fungsi sinergis yakni Kemenristekdikti dan LIPI. Sistem ini juga akan menjadi bagian untuk mendorong kenaikan jabatan fungsional dosen dan juga peneliti. 

“Sistem ini memang masih jauh dari sempurna karena memang baru dimulai. Namun akan terus disempurnakan,” ujarnya.

Daya saing Indonesia menurun dari peringkat 37 pada tahun 2015 keperingkat 41 pada 2016, penurunan ini sejalan dengan rendahnya belanja R&D yang baru mencapai 0,2 persen per Gross Domestic Product (GDP) sehingga indikator R&D yang terdiri dari publikasi, kekayaan intelektual, dan prototipe masih belum optimal. Sumber belanja R & D di Indonesia juga masih didominasi 75 persen oleh anggaran pemerintah.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 63

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia