Mengelola Emosi Mengendalikan Jempol

Created on Tuesday, 17 January 2017
Hasrat menjadi yang tercepat seringkali menghilangkan sikap cermat. Akibatnya tak sadar telah menebar kabar sesat berujung konflik berat.

 

Febrian mengaku terpaksa harus menghapus sejumlah pertemanan (unfriend) di media sosial, karena beberapa teman sering memposting informasi bernada negatif kabar hoax (bohong). Merasa tak nyaman, dia pun memutus hubungan di media sosial. 

Media sosial semestinya menjadi perekat antar sesama, menghubungkan yang terpisah dan menyambung silaturahim. Namun belakangan ini media sosial dibanjiri kabar hoax, bahkan tak jarang sebagian informasi bernada provokatif, agitatif, hingga fitnah.

Media sosial yang menawarkan kemudahan dan kecepatan menyebar informasi, idealnya digunakan untuk hal-hal positif dan kebaikan. Orang dengan mudah memberi dan menerima tanggapan, hingga mencerdaskan masyarakat, bahkan menginspirasi satu sama lain untuk berbuat kebaikan.

Malas Nge-cek

Mengalirnya informasi hingga dalam genggaman, menjadikan media sosial bak candu bagi sebagian. Sayangnya tidak dibarengi dengan kesadaran untuk mengecek atau menilai kepantasan informasi yang diterima dan kemudian disebarkannya kembali. Padahal, itu bisa memicu kecemasan massal, kepanikan, sikap apatis, hingga tak peka dengan informasi yang benar. Sikap itu berbahaya, apalagi saat terjadi bencana. 

Menurut pengamat media sosial yang juga psikolog dari Universitas Indonesia, Yunita Nisa, banyak orang secara sukarela namun tidak sadar menyebarkan informasi yang belum tentu benar, bahkan ada yang menjurus pada fitnah dan provokasi. Padahal, tidaklah sulit mengecek kebenarannya baik melalui gadget atau komputer. 
”Mereka ingin jadi sumber informasi pertama sehingga langsung menyebarkan informasi, tak peduli benar atau salah,” ujar Yunita. 

Hasrat menjadi sumber pertama itu bisa saja menunjukkan adanya masalah psikologi pada orang tersebut. Beberapa memperlihatkan gejala ketidakpercayaan diri, mudah kagum, hingga cerminan ada orang-orang yang tidak terakomodasi dalam sistem sosial. 

Berita hoax selalu mempunyai ciri utama sensasional atau bombastis. Kabar yang ditulis selalu ajaib dan menakjubkan. Tak jarang pula memancing kemarahan atau sebaliknya kesedihan dan mengharu biru.
Ada empat jenis muatan konten yang gampang menyebar yakni marah, humor, sedih, dan senang. Dan konten marah atau yang meman-cing kemarahan mudah menyebar dan menjadi viral, tutur Yunita.

Pengamat perilaku jejaring sosial, Roby Muhammad, menilai faktor kemalasan mengecek kebenaran informasi membuat seseorang gampang menyebarluaskan informasi hoax. Bahkan ada orang yang daripada menganalisis atau mengecek kebenarannya, mereka memilih menyebarkan informasi itu dengan harapan ada orang lain mengeceknya.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 61

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia