Teknologi Hemat Biaya Produksi 40%

Created on Thursday, 31 December 2015

 

Penerapan inovasi dan teknologi terbukti mampu menghemat biaya produksi pangan hingga 40%. Taman Sains Pertanian adalah laboratorium lapangan bagi petani.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Muhamad Syakir, menjelaskan satu per satu produk inovasi dan teknologi terbaru kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Dengan antusias, Mentan bertanya mengenai fungsi setiap alat mesin pertanian dan efisiensi yang dihasilkan.

Amran pun mengapresiasi inovasi yang dihasilkan Balitbangtan. Menurut lelaki kelahiran Bone 47 tahun silam itu, hasil perhitungan nilai efisiensi dari kegiatan pengolahan lahan, penanaman, dan pemanenan mencapai 40%. 

“Jika dikonversi, penghematan yang dilakukan tahun ini penghematan biaya produksi mencapai Rp 50 triliun,” ujarnya.
Lebih lanjut Mentan mengatakan, upaya modernisasi usaha pertanian tidak cukup de-ngan pemberian alat dan mesin pertanian (Alsintan) saja. Namun harus dibarengi dengan upaya mengubah sikap dan budaya bertani yang lebih maju dan modern.

Oleh karena itu, keberadaan Taman Sains Pertanian (TSP) di berbagai daerah di Indonesia sangat penting untuk transformasi budaya pertanian dari tradisional ke pertanian modern. Mentan mengatakan hal itu saat meresmikan Taman Sains Pertanian di Kampus Pertanian Cimanggu, Bogor Jawa Barat baru-baru ini. 

Menurutnya, TSP dan dan Taman Teknologi Pertanian (TTP) adalah laboratorium bagi pe-tani. Mereka bisa belajar juga praktik pertanian modern dan efisien. Bahkan TSP dan TTP bisa menjadi jembatan bagi petani dan pebisnis untuk bertemu dan bekerja sama baik dalam hal produksi maupun pemasaran serta pengolahan hasil pertanian. 
134 Laboratorium Lapangan

Hingga akhir 2015 lalu, Kementan membangun 5 TSP serta 16 TTP. Kementan menargetkan ada 34 TSP dan 100 TTP yang berhasil dibangun hingga 2019 nanti. Menurut Syakir, nantinya ke-134 laboratorium pertanian ini dikelola oleh pemerintah daerah, baik dari sisi anggaran, perencanaan, organisasi, dan sumber daya manusia.

Ia menyontohkan, fungsi keduanya seper-ti pengembangan teknologi pertanian sesuai potensi daerah. Seperti varietas padi Jantho di Aceh, teknologi Guguak Kakao di Sumatra Barat, tekhnologi lahan kering di NTT, Domba Garut Cikajang di Jawa Barat, dan pengembangan pertanian lainnya sesuai karakter daerah.

Senada dengan Mentan, Syakir meminta petani dan pelaku agrobisnis mendatangi laboratorium pertanian tersebut untuk mengaplikasikan temuan-temuan baru yang dihasilkan Balitbangtan. Laboratorium lapangan tersebut didorong menjadi sarana penerapan dan alih teknologi hasil Litbang langsung pada masyarakat.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 49

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia