PUI untuk Menghela Daya Saing Bangsa

Created on Friday, 27 November 2015
Sejatinya, terdapat ribuan lembaga riset tumbuh di Indonesia. Namun, baru ada 15 yang layak jadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) sebagai penghela peningkatan daya saing nasional. Sembilan PUI sudah ditetapkan, enam lainnya akan ditetapkan akhir tahun ini. 

Daya saing bangsa, menurut Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset dan Pendidikan (Kemenristekdikti), Patdono Suwignyo, sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan daya kreasi untuk menciptakan inovasi. Sementara itu, penciptaan lapangan kerja baru hanya mungkin dilakukan dengan lahirnya pengusaha-pengusaha baru yang bisnisnya berkelanjutan.

Perpaduan dua hal tersebut -- penguasaan Iptek dan inovasi dengan penciptaan peng-usaha baru-- melahirkan pengusaha-peng-usaha muda berbasis keunggulan teknologi atau disebut teknopreneur. Jalan itu  kini sedang dibangun oleh lembaganya. Yakni melahirkan pengusaha-pengusaha muda berbasis penguasaan teknologi unggul dan inovatif,  jelas Dirjen  Kelembagaan Iptek dan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti.

PUI & STP
“Untuk itu, Kemenristekdikti mengembangkan PUI dan Science Techno Park (STP). PUI merupakan otak yang mendukung STP berkelanjut-an,” ujar Patdono Suwignyo.
Selama ini, paparnya, perguruan tinggi sudah menghasilkan riset dan teknologi, namun tingkat kesiapan teknologi (TKT)-nya baru mencapai level 6 atau 7.  TKT  adalah ukuran tingkat kesiapan teknologi yang menunjukan seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat dite-rapkan atau diadopsi oleh pengguna dan atau calon pengguna. 

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 48

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia